Murid Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengikuti pelajaran tak selayaknya sekolah lain. Mereka yang kelas tiga dan empat harus belajar dengan lesehan.
Mereka belajar menggunakan meja berukuran kecil dan duduk di lantai beralaskan baleho atau karpit. Kondisi demikian dikarenakan pihak sekolah belum mendapat sarana kursi dan meja seperti biasa digunakan para murid lainnya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel.
Saat dikonfirmasi kepada Kepala SDN 2 Pondok Benda, Arsin menjelaskan, anak didiknya belajar di lesehan, karena belum mendapat kiriman bangku dan meja dari pihak dinas dan dijanjikan akan dikirim pada bulan Oktober mendatang. Sementara keinginan orang tua mendesak agar anaknya sekolah masuk pada pagi hari, tidak mau masuk siang. Adapun anak didiknya yang belajar di lesehan sebanyak sepuluh kelas. Dalam satu kelas berjumlah 32 murid.
“Sementara Lesehan, gini, mohon maaf sebelumnya, bukan keinginan sekolah.
Tadinya mau nunggu sampai Oktober dikirim bangku, tapi kalau kita diawal mengubah semua jadwal segala macam, gitu. Tapi anak-anak senang-senang aja, malah yang nggak lesehan pengen lesehan, kan dimodif kelasnya, dikasih background gambar tanaman, dikasih bunga-bunga, kan kelas itu dijadikan rumahku yang kedua, gitu simbol backgroundnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, gedung sekolah tersebut pembangunan tahap keduanya diselesaikan pada tahun 2018 kemarin. “2018 nggak dikirim kursi karena pembangunan tahap kedua, selesainya di 2018. Tetap saya mohon, tapi nggak dapat anggaran di 2018, adanya di 2019, nanti di Bulan Oktober, anggaran perubahan,” tambahnya.
Sementara, saat dikonfirmasi ke Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel, Agustinus Virgo baru mengetahui adanya informasi tersebut. Perihal pengadaan kursi dan meja sekolah di Dindikbud yang saat ini mengalami kendala.
“Kita banyak butuh kursi untuk mengciber 157 SDN, kita anggarkan bertahap dilihat kondisi sekolah, kira banyak pemintaan peserta didik baru dari tahun ke tahun. Meubeluer (meja dan kursi) awalnya kita anggarkan 2 milyar e-katalog dengan acuan tahun lalu. Tapi tahun ini vendornya tidak tayang di e-katalog sekarang harus kita revisi harga, sesuai dengan harga yang tayang di e-katalog ini. Baru perubahan dalam asistensi anggaran perubahan kalau sudah di acc atau disahkan baru kita segera lelang e-katalog,” jelas Virgo. (Ban)

