Beranda Berita Ratusan Pekerja Bandara Soetta Bentuk Paguyuban

Ratusan Pekerja Bandara Soetta Bentuk Paguyuban

0

Ratusan orang yang bekerja di Bandar Udara (Bandara) Internasional Soekarno – Hatta, Kota Tangerang. Selasa (07/08/2018) ini, bergabung sekaligus mendeklarasikan Paguyuban Pekerja Bandara Seluruh Indonesia (Pagjabsi).

Paguyuban yang dinahkodahi oleh Edi Lesmana tersebut, dibentuk guna untuk menjadi tempat bernanung atau wadah para pekerja – pekerja yang ada di bandara.

Edi Lesmana, Ketua Umum Pagjabsi mengatakan, dirinya membuat paguyuban tersebut, berawal dari dorongan para pekerja.

“Karena adanya dorongan tersebut, yang mana mereka (Pekerja) merasa diberlakukan tidak layak sebagai pekerja dengan resiko tinggi. Jadi terbentuklah paguyuban ini,” ujarnya

Edi menjelaskan, para pekerja yang ingin mendirikan paguyuban ini, tujuannya untuk mendapatkan perlindungan serta untuk menampung seluruh suara atau aspirasinya.

“Karena tidak ada yang berani untuk menyampaikan aspirasinya lewat personal atau seorang diri, jadi kita bentuklah paguyuban ini. Karena, yang seharusnya dan apa yang selayaknya mereka dapat, tapi tidak didapatkan oleh mereka,” terangnya.

Menurut Edi, aspirasi para pekerja tersebut memang layak didengarkan. Yang mana ingin memperjuangkan haknya, sebagai warga negara untuk dapat hidup dengan sejahtera serta undangan – undangan 13 tentang ketenagakerjaan dapat di tetapkan di Bandara Soetta.

“Kita sadari bahwa pekerjaan di bandara itu tidak gampang, dan resikonya juga sangat tinggi. Jadi apa yang mereka inginkan, saya rasa itu wajar dan harus diperjuangkan,” imbuhnya.

“Apalagi pekerja disana itu harus punya keahlian ditunjukkan dengan sertifikasi. Serta kesehatan harus selalu prima, yang selalu di cek selama 6 bulan sekali. Belum lagi kerja dengan serangan khusus, jadi wajar saja jika mereka ingin di perlakukan secara khusus juga,” tuturnya.

Edi menambahkan, menurutnya bandara sudah layak dan harus menerapkan upah sektoral. Jangan sampai bandara yang memang menjadi pusatnya para wisatawan berdatangan, kalah dengan pabrik pabrik yang sudah menerapkan upah sektoral.

“Upayanya kita akan dorong permintaan ini ke pemerintah daerah. jika tidak naik dan masih tidak ada upah sektoral, terpaksa kita ajukan ke pemerintah provinsi, dan bisa juga naik ke pemerintah pusat yaitu kementerian,” tukasnya. (Amd)