Home Berita Cerita Pengobatan ala Abah Kardali dari Cikeusik

Cerita Pengobatan ala Abah Kardali dari Cikeusik

0

Pengobatan alternatif banyak bertebaran di tengah masyarakat. Cara pengobatannya pun beragam hingga tak lazim menurut dunia medis, termasuk pengobatan ala Abah Kardali (55) dari Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Pengobatan Abah Kardali terbilang unik atau tak lazim, karena diyakini mampu melakukan operasi tanpa dilakukan pembedahan. Untuk melihat hal tersebut, kemarin seorang penggiat budaya Ki Pitong Banten bersama Neng Empi mendatangi kediaman Abah Kardali untuk mengantarkan seorang pasien, Hasbi Sohir.

Hasbi Sohir mengatakan dirinya menderita kelenjar di tubuhnya yang semakin lama semakin membesar. “Walaupun lambat kelenjar itu berkembang biak,” tuturnya.

Menurut pengakuan Ki Pitong, Abah Kardali menjawab bahwa yang dialami pasien yaitu jenis kelenjar lemak,  kelenjar yang memasuki pori-pori, dan jenis kelenjar itu bila dilakukan operasi tidak bisa diambil oleh jari tangan lantaran kelenjar jenis tersebyt seperti darah saja.

“Kalau di RS mungkin ada alatnya untuk menyedot kelenjar yg masuk ke pori pori itu” kata Ki Pitong menirukan Abah Kardali.

Abah kardali menyarankan agar Hasbi Sohir menjaga makanan yang dipantang seperti, ayam potong (negeri), makan gorengan, makanan berlemak dan berminyak agar tidak menjadikan lemak dalam tubuh yang bisa menghambat aliran darah, sehingga ada penyumbatan di pori-pori dan hasilnya terlihat seperti gumpalan kelenjar di tubuh Hasbi Sohir.

Ki Pitong menceritakan, Abah Kardali selanjutnya mempersilakan Hasbi Sohir untuk buka baju dan dilakukan operasi tersebut dan akhirnya tampak terlihat hanya darah yang mengalir.

“Selanjutnya bagian tubuh yang dioperasi ditutup oleh tissu dan sedikit diciprati air, lalu sambil diputar putar tissunya seolah olah mengelap darah yg mengalir dan walhasil bagian tubuh yg di operasi tsb menyambung kembali,” ceritanya.

Di sela pengobatan, Abah Kardali menceritakan kepada Ki Pitong bahwa dirinya dari mulai tahun 1993-2006 sudah keliling Indonesia untuk membantu masyarakat yang menderita kangker, ginjal, tumor dan penyakit dalam lainnya yang butuh dilakukan operasi. “Dan dari 2006 sampai sekarang beliau kembali menetap di kampung halamannya yaitu di Kp Kesur, Desa Nanggala, Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten,” ungkap Ki Pitong.

Masih kata Ki Pitong, Abah Kardali menangani pasien sudah ribuan orang dan tidak memungut bayaran. “TakTak jar beliau memberi uang kepada pasien yang tak mampu,” katanya.

Pengobatan Abah Kardali diklaim pasien yang datang diantar Ki Pitong ini tidak terasa sakit walaupun dilakukan operasi besar dan operasi kecil.

“Operasi tidak dilakukan berlama-lama dan hanya cukup 1 menit sampai 5 menit saja, bagian tubuh yang dioperasi bisa langsung rapat kembali seperti sedia kala hanya cukup di usap sama tissu dengan sedikit di ciprati air, maka bekas operasi hilang atas izin Allah SWT,” bebernya.

Ki Pitong juga menyembut, sehari-harinya yang berobat ke Abah Kardali selalu penuh antrian pasien dari pelosok dan luar negeri.

“Abah Kardali Banten adalah keturunan Padarincang Serang Banten, dan ketika masih kanak-kanak beliau dibawa hijrah orang tuanya ke Kampung Kesur Desa Nanggala Kecamatan Cikeusik, Pandeglang,” pungkas Ki Pitong menceritakan riwayat Abah Kardali. (Kor)