Home Home Refleksi 72 Tahun: HMI harus Terus Menjawab Tantangan Zaman!

Refleksi 72 Tahun: HMI harus Terus Menjawab Tantangan Zaman!

0

Oleh: Deni Iskandar, Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah HMI Cabang Ciputat, Periode 2018-2019.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan pada 5 februari 1947 di Yogyakarta, saat ini usianya genap 72 tahun. Bila HMI dianalogikan sebagai seorang manusia, maka diusia 72 tahun ini, HMI sudah keriput kulitnya, beruban rambutnya, dan sakit-sakitan badannya.

Namun, karena HMI adalah sebuah organisasi yang di gerakan oleh manusia, maka diusianya yang ke 72 tahun ini, seharusnya HMI sebagai organisasi mahasiswa, bisa lebih matang dalam menghadapi dan menjawab tantangan zaman yang terjadi saat ini.

Ada dua tantangan yang harus dihadapi oleh HMI sebagai organisasi perjuangan, diantaranya, pertama, tantangan di eksternal dan kedua adalah tantangan di internal.

Disintegrasi (perpecahan) bangsa, adalah tantangan eksternal yang harus dihadapi oleh HMI saat ini. Disintegrasi, adalah masalah paling fundamental yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Di Indonesia, disintegrasi bangsa sendiri, bisa terjadi kapan saja.

Tidak hanya dalam momentum politik dalam hal ini adalah pemilu. Namun yang harus digaris bawahi adalah, pemilu 2019 menjadi bagian terpenting, diantara rentetan terjadinya disintegrasi bangsa di Indonesia.

Selain upaya negara dalam menjalankan sistem demokrasi, pada Pemilu 2019 ini, negara sejatinya mengarahkan bangsanya untuk berbeda pandangan, terutama dalam perbedaan pilihan politik dan membuka sarana untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Oleh karena itu, ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang menjadi semboyan negara atas beragamnya suku, bahasa, budaya, etnis dan agama yang dimiliki bangsa Indonesia, kembali diuji dan akan menjadi pertaruhan.

Sebagai organisasi yang ada di Indonesia, HMI sejatinya harus dapat mengurai dan memecahkan persoalan yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia. Terutama dalam mengantisipasi, adanya indikasi perpecahan dalam tubuh bangsa Indonesia.

Terdapat beberapa faktor yang menjadi pemicu atas terjadinya perpecahan bangsa diantaranya, pertama, menjalarnya Hoax di sosial media, kedua, intoleran, ketiga rasis yang kemudian melahirkan sentimen identitas, dan kelima adalah sentimen agama.

Faktor-faktor yang disebutkan di atas, pada tahun politik saat ini, kerap dilakukan oleh kelompok-kelompok atau oknum-oknum, yang memiliki keterkaitan dengan kelompok yang mempertahankan kekuasaan maupun dengan kelompok yang sedang merebut kekuasaan.

Oleh karena itu, HMI sebagai organisasi yang bersifat Independen seharusnya bisa lebih berperan aktif, dalam mengantisipasi perpecahan di Indonesia. Untuk dapat memecahkan persoalan eksternal seperti yang telah diuraikan diatas. Maka HMI harus segera berbenah melakukan perbaikan-perbaikan organisasi di internal.

Sebab disadari atau tidak, saat ini HMI telah mengalami kemunduran, terutama dalam hal kepemimpinan. Pasca adanya reshuffle di tingkatan pengurus besar, internal HMI mengalami kegaduhan. Hal ini ditandai dengan adanya dua kepemimpinan, yang keduanya sama-sama di legitimasi.

Persoalan ini, sejatinya adalah tantangan untuk HMI. Pada usia ke 72 tahun, seharusnya kematangan organisasi di HMI semakin teruji. Hal justru berbanding terbalik, oleh karena itu, penulis menilai, bila HMI secara organisasi tidak mampuh menyelesaikan kegaduhan tersebut, maka semua kader HMI Se-Indonesia, jangan pernah berharap banyak pada HMI dapat memberikan kontribusi pemikiran, untuk membangun bangsa dan negara.

Organisasi yang seharusnya menerjemahkan perintah dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), dalam prakteknya malah sibuk, dengan konflik-konflik yang terjadi di Internal. Dengan adanya dualisme kepemimpinan di HMI, maka HMI sebagai organisasi perjuangan, telah kehilangan ruhnya.

Meskipun demikian, sebagai kader umat dan kader bangsa, diusianya yang ke 72 tahun ini, kita semua harus tetap optimis bahwa, kedepannya HMI bisa dan akan lebih baik. Terutama dalam memberikan kontribusi pembangunan kepada bangsa dan negara. (*)