Beranda Berita Pengrajin Kerang Hijau di Mauk Butuh Permodalan

Pengrajin Kerang Hijau di Mauk Butuh Permodalan

0

Sejumlah pengrajin Kerang Hijau di Kampung pelelangan Ketapang, Desa Ketapang, Kecamatan Mauk butuh perhatian permodalan dari pemerintah. Hal ini disampaikan Ketua Paguyuban Kerang Hijau Ketapang Alfian Wijaya, Sabtu (18/5/2019).

“Kami disini nelayan-nelayan Kerang Hijau kepada pemerintah agar memperhatikan kami sebagai penguasa-penguasa kecil yang memberikan dampak ekonomi terhadap masyarakat kecil,” ucap Rian sapaan akrab Alfian Wijaya kepada tangerangonline.id, Sabtu (18/5).

Diakuinya, selama ini pengrajin Kerang Hijau yang ada di Ketapang hampir rata-rata yang dikeluhkan masalah modal usaha dan ini yang menjadi sulit bagi pengrajin Kerang Hijau, sedangkan untuk pemasaran sendiri tidak ada kendala. Pasalnya dengan bantuan tersebut bisa sejahterakan masyarakat.

“Untuk itu Pemerintah Desa maupun Pemerintah daerah, cobalah bantu kami dalam permodalan baik melalui UMKM maupun yang lainnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut lagi Alfian mengatakan, permodalan kerang hijau pemerintah memberikan permodalan entah itu berupa hibah atau bisa berupa pinjaman, agar masyarakat menjadi maju usahanya dan tidak tersendat gara-gara modal. Karena sampai saat ini ketika pengrajin Kerang Hijau butuh dana itu ada yang sampai gadein BPKB pinjem ke rentenir dan sebagainya.

“Pengrajin Kerang Hijau kalau modal usaha ada perhatian dari pemerintah kami yakin ekonomi masyarakat maju apalagi sampai ada pembinaan,” ujarnya.

Dikatakannya lagi, seharusnya pemerintah mensupport karena ini salah satu pemberdayaan masyarakat yang artinya bisa memberikan dampak ekonomi yang besar buat masyarakat ketapang sendiri umumnya masyarakat Mauk.

“Saya berharap kepada pemerintah Kabupaten khususnya Dinas Perikanan agar memperhatikan keseharian nelayan yang ada dipantura,” tukasnya.

Salah satu nelayan lainnya Nurdin mengatakan, sudah dua tahun menggeluti usaha kerang hijau, namun dari kendala itu semua pada permodalan yang sanget sulit, biaya jasa kupas aja Rp 3500 per kg, biaya rebus Rp 2500 per ember. Jadi biaya operasional per hari 1 juta rupiah.

“Saya yakin kalau perhatian dari pihak pemda fokus, nelayan akan maju dan sejahtera,” harapnya.(Sam)