Beranda Index DLH Kota Tangerang Minta Retribusi Sampah Dibayarkan

DLH Kota Tangerang Minta Retribusi Sampah Dibayarkan

0

KOTA TANGERANG – Mencuatnya isu sampah di Kota Tangerang yang disebut tebang pilih dalam pengangkutan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang meminta restribusi sampah agar dibayarkan.

Kepala DLH Kota Tangerang Dedi Suhada mengatakan, tidak ada perbedaan yang dilakukan DLH kepada sampah perumahan dan non perumahan, semuanya tetap dilayani dengan semaksimal mungkin untuk masyarakat.

“Kami tidak pernah membedakan mana sampah perumahan dan mana yang bukan perumahan, semuanya kami layani. Walaupun di perumahan dikelola oleh pengembang, tetap saja kami akan membantu untuk melakukan pengangkutan yang nantinya akan dibuang ke TPA Rawa Kucing,”ujar Dedi, Senin (9/3/2020).

Dedi mengatakan, pihaknya memperbolehkan pengembang perumahan yang ingin mengelola sampah. Tentunya dengan mematuhi peraturan yang ada.

“Untuk perumahan jika pengembang ingin mengelola sampahnya kami persilahkan, tetapi harus ingat ada aturan yang ada. Pihak pengembang harus membayarkan retribusi sebesar 50 persen dari harga retribusi yang ada sesuai dengan Perda,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kendala yang saat ini dialami oleh DLH Kota Tangerang adalah tidak adanya pembayaran retribusi yang dilakukan oleh pihak RT dan RW. Padahal, warga telah menitipkan kepada mereka untuk membayar retribusi sampah tetapi tidak sampai.

“Berdasarakan kajian kita dan informasi dari masyarakat langsung, bahwa sebenarnya masyarakat sudah membayar retribusi sampah, walaupun dijadikan satu dengan kemanan dan KAS RT RW. Tetapi kami minta, pihak RT dan RW untuk bisa membayar retribusi sampah tersebut kepada DLH,”ungkapnya.

Mengenai masalah sampah yang ada di Pasar Swasta, kata Dedi, sama tidak ada perbedaan. DLH Kota Tangerang, terus memberikan pelayanan kepada seluruh elemen masyarakat terkait pengangkutan sampah.

“Sama seperti perumahan dan non perumahan, sampah yang ada di Pasar milik Swasta kami juga angkut. Yang penting adalah pembayaran retribusi sampahnya harus jelas, jangan sampai sudah dipungut tetapi retribusi tidak disampaikan,” tuturnya.

Sementara di wilayah Puri Kartika Lama, Kecamatan Ciledug, sebagian orang menganggap hingga saat ini pengangkutan sampah hanya dilakukan terhadap masyarakat yang membayar retribusi saja.

“Disini jarang diangkut. Apalagi pas kemarin banjir, yang bayar aja yang diangkut,” ungkap Rahmat salah seorang warga Puri Kartika Lama. (Bal)