Home Home Teruntukmu Wahai Saudaraku

Teruntukmu Wahai Saudaraku

0

Penulis: Muhammad Rizal Saragih, S.E., M.M. (Dosen Universitas Pamulang)

Sengaja ku tulis ini untukmu wahai saudaraku. Ya untukmu, bukan untuk yang lain. Untukmu, yang sedang membaca ini. Untukmu wahai akhiy fillah saudaraku seiman dan seperjuangan.

Sebagaimana yang kita tahu bahwa pernah keluar dari lisan yang mulia Rasul sholallahu ‘alayhi wasallam sebuah hadits yang berbunyi :

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi ).

Hadits ini ditujukan untukmu dan orang-orang sepertimu. Apakah kau belum mengimani kalam yang begitu mulia ini ??, wahai kawan. Apa lagi yang kau tunggu, kau sudah dewasa dan sudah sangat layak untuk berada dalam fase kehidupan seperti itu.

Apakah kau mengkhawatirkan kefakiranmu wahai akhiy al karim??.

Bukankah telah sampai kepadamu tentang kisah Imam Ali ibn Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu dan istri tercintanya Fathimah binti Muhammad sholallahu ‘alayh wasallam rodhiyallahu ‘anha. Beliau Imam Ali rodhiyallahu anhu sama halnya seperti dirimu. Seorang pria muda biasa yang tak mempunyai kegiatan perniagaan ataupun pertanian.

Imam Abu Dawud dan an-Nasa`i meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata, ketika Ali  menikah dengan Fatimah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Berikanlah sesuatu kepadanya.” –Maksud beliau sebagai mahar pernikahan- Ali menjawab, “Aku tidak punya apa-apa.” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Lalu di mana baju perang huthamiyah milikmu.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim.

Dan kau pun mengetahuinya bahwa dari kedua insan inilah lahir keturunan yang terhormat dan menjadi Imam dalam menjaga agama ini.

Wahai akhiy ash sholih. Apa lagi yang menjadi duri dalam pikiranmu.

Apa lagi yang menjadi bahan pertimbanganmu wahai saudaraku yang kucinta karena Allah ta’ala ??.

Apakah kau mengkhawatirkan kedudukanmu dimata dia yang kau cintai??

Engkau dengan kadar keilmuanmu pastilah telah membaca kisah Nuh bin Maryam dan hamba sahayanya yang bernama Mubarok.

Dikisahkan bahwa Nuh ibn Maryam adalah seorang penguasa di wilayah Mary (Turkmenistan). Ia mempunyai seorang putri yang jelita. Keluarga penguasa ini mempunyai seorang hamba sahaya hitam yang berasal dari India bernama Mubarok.

Suatu hari Nuh ibn Maryam berkeinginan untuk memakan buah dari kebun yang ia miliki. Maka ia meminta kepada Mubarok untuk mengambilkan buah tersebut untuknya. Tak disangka setiap buah yang diambil terasa asam. Maka ditanyakan hal itu kepada hamba sahayanya. Dan dengan polos Mubarok menjawab bahwa ia tak tahu dimana buah yang manis dan buah yang asam. Terkejutlah Nuh ibn Maryam akan jawaban Mubarok. Sebuah jawaban yang sangat jujur dan apa adanya.

Untuk selanjutnya tentu kau -wahai saudaraku- tentu lebih tahu daripada saudaramu yang bodoh ini.

Ya, terjadilah sebuah dialog antar mereka berdua.

Maka Nuh ibn Maryam pun meminta pendapat kepada hamba sahayanya Mubarok. Perihal siapa yang pantas mendampingi putrinya yang cantik nun jelita.

Maka jawab Mubarok dengan penuh kebijaksanaan. Perhatikan dan ingatlah baik-baik saudaraku perkataan hamba Allah yang sholeh itu.

“Sebagai mana yang kita ketahui maka bahwa pada masa Jahiliyah orang lebih mengutamakan kedudukan dan keturunan. Sedangkan bagi Yahudi dan Nasrani lebih memilih kecantikan dan ketampanan. Sedangkan pada masa Rasulullah dan kaum muslimin mereka lebih mengutamakan ketakwaan dan kesholihan dalam agama. Namun dimasa sekarang kita lebih mengutamakan harta dan kedudukan.”

Sungguh merupakan jawaban yang luar biasa dari seorang hamba sahaya membuat hati tuannya sontak berbalik. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk menikahi putrinya dengan hamba sahaya-nya yang sholih Mubarok.

Dan dari pasangan ini pun lahir seorang ulama besar. Cerminan kaum zahid pada masanya yakni Abdullah ibn Mubarok.

Masihkah kau ragu ya Akhiy al fadhil??

Apakah masih ada onak dalam gelut pikiranmu itu??.

Atau, apakah kau mengkhawatirkan kadar keilmuanmu di hadapan dia yang kau idamkan menjadi bidadari dunia serta akhiratmu kelak??

Belum pernahkah kau mendengar kisah Sa’id ibn Al Musayyib dengan seorang muridnya yang bernama Abdullah ibn Abi Wada’ah.

Sa’id ibn Al Musayyab rohimahullah imam para tabi’in mempunyai putri yang cantik sekaligus alim dalam urusan agama. Putrinya ini pernah dilamar oleh anak khalifah namun Sang Ayah Sa’id ibn Al Musayyib menolak lamaran tersebut. Ia menginginkan seorang yang terbaik bagi putrinya.

Suatu saat dalam majelisnya ia menanyakan kepada salah seorang muridnya Abdullah ibn Abi Wada’ah sebab apa ia tidak datang selama 3 hari berturut-turut.  Abdullah ibn Abi Wada’ah pun bercerita bahwa sang istri telah berpulang ke rahmatullah dan ia pun sibuk dalam mengurusi hal itu.

Mendengar hal itu sang Imam menasihatinya agar bersabar dan bersegera untuk menikah. Namun Abdullah ibn Abi Wada’ah pesimis akan hal itu dikarenakan status sosialnya di tengah masyarakat. Sang Imam pun mengisyarakatkan untuk dapat membantunya. Mendengar hal itu timbul belasan tanya dalam pikirannya tentang maksud dari isyarat sang guru yang mulia.

Hingga suatu hari Sa’id ibn Al Musayyib dihadapan orang-orang yang hadir dimajelisnya meletakkan tangannya di atas tangan muridnya. Dan ia pun langsung menikahkah putrinya yang cantik lagi alim dengan Abdullah ibn Abi Wada’ah. Dengan mahar yang hanya 3 dirham.

Setelah mereka menikah dan menempati rumah Abdullah ibn Abi Wada’ah. Maka sang duda yang beruntung ini pun bermaksud hadir dimajelis gurunya. Namun sang istri malah berkata.

Dengarkanlah wahai saudaraku apa yang keluar dari mulut wanita mukminah ini.

“Duduk saja di sini aku akan mengajarkanmu -wahai suamiku- ilmu Sa’id kepadamu”

Dan hal itu tidaklah mengurangi kehormatan Abdullah ibn Abi Wada’ah. Malah dengan hal itu membuat rasa cinta sang suami bertambah besar kepada sang istri tercinta.

Wahai akhiy al mahbub. Tak cukupkah kisah-kisah manusia pilihan tadi dalam memotivasi dirimu.

Engkau ya akhiy, -tanpa kau sadari- kau memiliki kesamaan dengan tokoh-tokoh nyata diatas. Kesamaan itu adalah Iman. Ia adalah modal yang berharga. Yang tak bisa dibeli di toko manapun apalagi dipalsukan. Katakanlah pada dunia dan berteriaklah bahwa kau masih mempunyai iman.

Imanmu yang menjagamu dalam keseharianmu. Imanmu yang menjadi benteng terkokoh dalam derasnya arus godaan dunia.

Oleh karnanya tak usah lagi ada makna sekufu yang rumit yang hanya menjadi jurang pemisah yang lebar lagi dalam  bagimu dan bagi dirinya.

Mengutip salah seorang teman.

“Sekufu tidaknya itu urusan Allah, menikahlah saja maka Allah yang akan menyetarakan kalian”

Segeralah petik mawar itu sebelum ia dipetik oleh orang lain sedangkan kau hanya bisa melihat dari sudut kejauhan serta menyesali apa yang telah terjadi.