Home Home Di Laut Kita (Pernah) Jaya

Di Laut Kita (Pernah) Jaya

0

Oleh: Rusdi Ali Hanafia, Ketua BADKO HMI Jabodetabeka-Banten.

Sudah 72 tahun Indonesia dipeluk merdeka. Hari ini sang saka merah putih membentang di seluruh ruas jalan desa. Ekspresi sukacita dirayakan dengan berbagai lomba dari yang muda sampai yang tua. Hal demikian telah menjadi rutinitas setiap tanggal 17 Agustus tiba, katanya sebagai perayaan atas terusirnya penjajah. Bangsa ini sudah berani membusungkan dada, bahkan kini dirinya digadang-gadang akan menjadi poros maritim dunia. Sekali lagi, Poros Maritim Dunia!

Cita-cita menjadi poros maritim dunia mulai menggema setidaknya sejak 3 tahun silam, manakala Presiden terpilih mendeklarasikan arah perjuangannya untuk mengembalikan kejayaan Bangsa Indonesia. Dulu, Indonesia atau Nusantara memang diakui oleh dunia sebagai negara yang memegang kuat budaya maritim. Namun identitas itu perlahan-lahan hilang semenjak para penjajah datang. Kita lupa bahwa kita adalah bangsa maritim yang bersifat terbuka, toleran dan menghargai perbedaan.

Indonesia kini menjadi negara yang sangat mudah diadu domba. Kita menemui begitu banyak kasus terorisme, konflik antar etnis, suku, dan agama. Apalagi konflik antar elit politik, kita menemui beritanya -seperti minum obat saja- sehari tiga kali, atau bahkan lebih.

Penegasan presiden tentang poros maritim dunia, nampaknya mampu menjadi angin segar untuk mengembalikan identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim -tentunya hal ini perlu keterlibatan seluruh pihak agar tidak hanya menjadi lelucon pencitraan saja-.

Secara definitif, maritim berarti segala sesuatu yang berkenaan dengan laut; berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Namun jauh dari pada itu, berbicara kemaritiman bukan hanya berbicara kapal, ombak, ikan, terumbu karang, dan lain sebagainnya, akan tetapi juga berbicara soal kebudayaan yang ada di dalamnya.

Jika kita melihat Indonesia yang dua pertiga wilayahnya ialah lautan dan sepertiganya ialah daratan, maka kita akan tahu bahwa sejatinya identitas bangsa Indonesia adalah lautan. Kodrat Indonesia yang sedemikian rupa ini, sama seperti kodrat Bumi yang mana dua pertiga wilayahnya ialah lautan dan sepertiganya daratan.

Identitas ini tidak hanya dibuktikan dari kodrat fisiknya saja, akan tetapi bisa dibuktikan dari sejarah yang pernah ia ukir. Dulu, Sriwijaya merupakan negara berbasis maritim yang sangat terkenal. Secara tertulis, Cina pernah mengakuinya sebagai penguasa Selat Malaka. Konon, jika ada kapal asing yang melintas di Selat Malaka, maka akan diserang untuk dipaksa bersandar ke pelabuhan Sriwijaya dan membayar pajak.

Kita juga mengenal slogan yang melegenda dari Majapahit yaitu Jalesveva Jayamahe yang berarti Di Laut Kita Jaya. Contoh-contoh semacam ini sangat banyak sekali di buku sejarah yang mungkin kini mulai lapuk karena tak pernah dijamah.

Budaya yang dibentuk oleh lautan dan daratan sangat jauh berbeda, masyarakat pesisir dikenal memiliki cara berfikir yang terbuka, sedangkan masyarakat pegunungan biasanya cenderung tertutup dan sangat menjunjung tinggi kesukuan. Adanya pelabuhan di wilayah pesisir menjadikan masyarakatnya heterogen atau beragam. Sejak masa prasejarah, transaksi perdagangan internasional dibangun melalui jalur laut, sehingga pelabuhan menjadi destinasi pertemuan antar suku bangsa, ras, budaya, dan agama. Heterogenitas ini menciptakan suatu pola pikir masyarakat yang terbuka, tidak sebagaimana pola pikir yang terbentuk di daratan.

Kedigdayaan maritim Nusantara tak hanya nampak dari besarnya pelabuhan, Syahbandar, angkatan laut, kapal, dan bentuk fisik lainnya. Tapi dalam kebudayaannya juga, yakni pola pikir masyarakat yang sangat terbuka dan mudah bergaul dengan bangsa lain. Terkait hal ini, ada satu kisah menarik, datang dari masa prasejarah.

Dahulu kala berdiri sebuah kerajaan di wilayah Pandeglang Banten pada tahun 130 Masehi. Lalu datanglah seorang petualang bernama Dewawarman dari India yang membawa budaya Hindu-Budha. Setibanya di Nusantara, Dewawarman jatuh cinta dengan anak sang raja. Singkat cerita sang raja mengizinkan Dewawarman menyunting anaknya dan mewarisi segala kekuasaannya. Dewawarman akhirnya memilih menetap di Nusantara dan memberi nama kerajaan tersebut Salakanegara. Nama yang diambil dari bahasa Sangsekerta, bahasa utama budaya Hindu-Budha.

Tahukah Anda siapa nama raja tersebut ? Namanya adalah Aki Tirem, sebuah nama yang sampai hari ini tidak bisa diterjemahkan karena tidak ditemukan dalam peta linguistik dunia manapun. Itu artinya, Nusantara telah memiliki bahasa yang mandiri sebelum Hindu-Budha datang. Lebih tepatnya, Nusantara telah memiliki kebudayaan -bahkan peradabannya sendiri-, sebab tak mungkin suatu bangsa memiliki bahasa mandiri jika tidak ditopang oleh peradaban yang tinggi.

Nama unik semacam ini ternyata tak hanya satu di Nusantara, ada nama lainnya yakni Kudungga, kakek Mulawarman. Konon Kudungga ialah pemilik asli Kerajaan Kutai lalu ia memberikan kekuasaannya secara cuma-cuma kepada Aswawarman, ayah Mulawarman. Nama para raja yang terdiri dari kosakata Warman ini jelas sekali diambil dari bahasa Sangsekerta.

Kisah singkat Aki Tirem dan Kudungga cukup menggugah kita untuk menyadari betapa maritimnya cara berfikir leluhur kita, mereka begitu terbuka kepada bangsa lain. Cara berfikir mereka layaknya sebuah sajak “Aku adalah kau, kau adalah aku, milikku milikmu, milikmu milikku”.

Budaya maritim yang sedemikian ini terus berjalan hingga Islam datang ke Nusantara. Kita tahu bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan damai melalui jalur perdagangan bukan melalui perang yang bersimbah darah sebagaimana di wilayah lainnya. Jika ada perang antara Kerajaan Islam dan Kerajaan Hindu-Budha, maka sebenarnya itu perebutan antara penguasa baru kepada penguasa lama, lebih tepatnya pertengkaran di dalam internal kerajaan.
Seorang Budayawan, Radhar Panca Dahana menilai bangsa Indonesia mulai lupa identitasnya sebagai bangsa maritim semenjak kedatangan penjajah. Bangsa tengik ini melakukan penjajahan kebudayaan yang amat keji. Bermula dari rombongan Portugis yang dipimpin Alfonso De Bouquerque hingga puncaknya ketika Dendels membangun jalan raya yang amat panjang di Banten.

Pembangunan itu sontak merubah cara berfikir bangsa ini, wilayah yang awalnya selalu memusatkan diri di pelabuhan, lalu beralih ke daratan. Tak hanya fisiknya saja, tapi juga budaya serta pola pikirnya juga berubah menjadi daratan. Lama-kelamaan identitas maritim itu hilang, sampai hari ini !

Di hari yang berbahagia ini, kita memperingati kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kita bergembira memperingati proklamasi yang didengungkan 72 tahun silam. Sebagai generasi penerus, apakah kita sadar bahwa proklamasi itu masih sebatas simbol saja ? Karena Bung Karno sendiri pernah bilang bahwa “Revolusi belum selesai”. Sisa-sisa penjajahan masih sangat nyata hari ini, kita menemui bangsa kita bukan lagi bangsa maritim yang terbuka, toleran dan menghargai perbedaan. Kita saling menikam, membunuh, dan mengganyang satu sama lain. Cara pandang kita sebagaimana sajak “Aku adalah aku, kau adalah kau, kau musuh bagiku, neraka bagiku”. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here