Home Bandara Balai Karantina Pertanian Amankan Seekor Puma di Bandara Soetta

Balai Karantina Pertanian Amankan Seekor Puma di Bandara Soetta

0

Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) mengamankan seekor hewan buas jenis Puma di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Puma atau Cougar tersebut dibawa oleh penumpang dari Belarusia menggunakan pesawat Turkish Airlines pada Selasa, 7 Agustus 2018 lalu.

Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan BBKP Bandara Soetta, Karsad menjelaskan, bayi Puma berumur 4 bulan tersebut dilaporkan sebagai Kucing Bengal.

“Memang pemasukan yang dilaporkan Kucing Bengal. Hewan yang dibawa dari Belarusa ini, secara prinsip dia memenuhi persyaratan. Artinya, dilengkapi dengan Sertifikat Kesehatan demikian juga dengan buku vaksin,” kata Karsad kepada tangerangonline.id di Bandara Soetta, Tangerang, Senin (13/8/2018) malam.

Karsad menyebutkan, karena dilengkapi Healty Certificate (HC) dan berdasarkan hasil pemeriksaan dokumen bahwa si ‘Kucing Bengal’ tersebut dimasukkan ke Instalasi Karantina Hewan (IKH) milik BBKP Bandara Soetta untuk proses Karantina.

Setelah beberapa hari di dalam IKH, petugas mencurigai fisik hewan buas tersebut. Gerak-geriknya juga tidak mirip dengan kucing bengal seperti tang dilaporkan di dalam dokumen.

“Namun berkat kejelian dan ketelitian petugas karantina dan dokter hewan kami, ternyata secara fisik hewan tersebut berbeda dengan yang ada di dokumen. Ternyata hewan ini adalah Puma,” ungkap Karsad.

Karena ciri-ciri fisik dengan dokumen atau sertifikat tidak sesuai, pihaknya memutuskan untuk mengembalikan hewan tersebut ke negara asalnya atau dilakukan re-ekspor.

“Karena tidak sesuai, terhadap hewan tersebut dilakukan penolakan dan akan segera kita kembalikan ke negara asalnya,” ujar Karsad.

Menurutnya, orang yang membawa hewan tersebut melanggar administratif yang bersifat tindak pidana ringan. Namun tidak ditindak secara hukum, hanya saja seekor Puma tersebut harus dikembalikan ke negara asalanya.

“Dari sisi pelanggaran hukum pasti ada, tetapi pelanggaran ini masih bersifat tipiring secara administratif. Karena HC itu ada dan persyaratan terpenuhi, dan dari sisi administrasi dia tidak sesuai antara administrasi dengan fisik barang,” imbuhnya.

“Berdasarkan tupoksi perkarantinaan adalah mencegah masuknya hama penyakit. Maka karena ini adalah jenis kucing, kita mengantisipasi sedemikian rupa terhadap Puma ini bisa menjadi HPR (Hama Pembawa Rabies) maka kita antisipasi menjadi penularan setibanya di Indonesia apalagi kalau hewan ini lepas,” tandasnya.

Untuk diketahui, Puma atau Cougar atau Singa gunung adalah binatang mamalia yang tergolong dalam kelompok kucing besar. Puma umumnya dijumpai di kawasan benua Amerika. Puma mempunyai genetik yang lebih dekat dengan kucing dibandingkan dengan singa. (Rmt)