Home Berita Pengelolaan TPA Jatiwaringin Disoal Warga

Pengelolaan TPA Jatiwaringin Disoal Warga

0

Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang menutup tempat pembuangan akhir (TPA) Jatiwaringin. Alasannya, pengelolaan limbah yang dilakukan dengan cara dibakar berdampak buruk bagi lingkungan sekitar. Akibat itu pula banyak warga menderita inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan TPA Jatiwaringin juga tidak memiliki Instalasi Pengelolaan Limbah Air (IPAL).

Salah satu warga, Satibi membeberkan bahwa TPA Jatiwaringin tidak memiliki Ijin Pengelolaan air limbah (IPAL), yang mana sesuai dengan aturan pemerintah No 16 tahun 2012 tentang IPAL, TPA Juga harus aman bagi lingkungan sekitar dan harus dipasilitasi serta pasilitas penunjang. Pasalnya TPA itu harus ramah lingkungan.

“Akibat TPA tidak memiliki IPAL saya khawatir resapan air dari sampah yang sudah menahun, resapan air tersebut masuk kesumur warga lalu dikonsumsi, sehingga akan berdampak lebih jauh lagi terhadap penyakit,” imbuhnya, Kamis (25/10/2018).

Satibi mengatakan, tak hanya itu saja, warga pun mendesa penutupan TPA Jatiwaringin, desakan itu telah diajukan warga yang berdomisili di Desa Jatiwaringin, Desa Rajeg Mulya, Desa Buaran Jati. Sebab, asap tebal dari pembakaran limbah masyarakat ini mendatangkan sejumlah penyakit yang menyerang warga. Pembakaran sampah yang dilakukan pengelola TPA itu terjadi sudah lama.

“Ini usulan yang sudah sering diajukan, karena kondisi seperti ini terus kami alami. Memang harus segera ditutup, soalnya sampahnya sudah menggunung. Hampir tiap hari asap pembakaran sampah ini menyelimuti daerah kami,” katanya.

Menurutnya, asap pekat pembakaran sampah di TPA Jatiwaringin itu telah mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat sekitar. “Udara di sini sudah tercemar. Tak sedikit warga yang sesak akibat menghirup asap terbakarnya sampah. Kalau diperiksa dokternya bilang kena ISPA. Pembakarannya mulai dari pagi dan sore hari,” ujar Satibi.

Diakui Satibi, kendati pembakaran sampah telah lama dikerjakan, upaya dari Pemkab Tangerang untuk memadamkan api tak pernah tuntas sampai padem dan tidak berasap. Akibatnya, titik api di TPA semakin banyak dan asap tebal semakin mencemari lingkungan.

“Warga di sini hanya dapat konpensasi pengobatan gratis tiga bulan sekali terhadap masalah yang mereka timbulkan. Kami sudah laporkan ke Kades dan Kecamatan sampai ke dinas terkait. Imbas dari asap ini sampai ke empat desa yang lain,” ucapnya.

Kepala UPT TPA Jatiwaringin, Hermawan saat ditemui di lokasi TPA mengatakan, dirinya sudah maksimal dan sebaik mungkin merapihkan sampah di TPA. Namun persoalan Instalasi Pengelolaan Limbah Air (IPAL) ini urusannya Pemkab Tangerang dan sudah mengajukan satu paket pada tahun 2019 diharapkan terealisasi.

Pasalnya selama TPA Jatiwaringin berdiri tidak memiki IPAL, kendalanya adalah terbentur oleh anggaran.

“Saya harap kepada masyarakat sekitar TPA bersabar, nanti semuanya akan diperbaiki oleh pihak Pemerintah daerah (Pemda)Tangerang,” ujarnya. (Sam/Yan)