Home Berita Menhan: Teroris Bukan Islam, Karena Islam Agama Damai dan Rahmatan Lil-Alamin

Menhan: Teroris Bukan Islam, Karena Islam Agama Damai dan Rahmatan Lil-Alamin

0

Saat ini, kita diseluruh kawasan dunia sedang menghadapi ancaman teroris generasi ketiga. Ciri khusus dari ancaman terorisme generasi ketiga ini adalah kembalinya para militan asing ISIS dari Timur Tengah, dan berevolusinya ancaman dari yang bersifat tersentralisasi menjadi terdesentralisasi yang menyebar keseluruh belahan dunia setelah kekalahan ISIS di Syria dan Irak.

Demikian dikatakan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat memberikan keynote speech dalam seminar bertajuk “Ensuring Regional Stability Thorugh Cooperation Counter Terrorism“.di Indo Defence 2018 Expo and Forum di Hall C3, JIExpo Kemayoran, Jakarta-Pusat, Kamis (8/11/18).

Menurut Menhan Ryamizard, ISIS yang pada mulanya hanyalah kekuatan milisi nasional di Irak, yang muncul akibat konflik politik di dalam negeri, pasca pemerintahan Saddam Hussien.

“Di sinilah perlu saya tegaskan bawah ISIS hanyalah buah dari konflik politik domestik Irak-Suriah yang tidak ada kaitannya dengan agama Islam,” ungkap Menhan Ryamizard dihadapan peserta seminar.

“Berdasarkan data intelijen ada sekitar 31.500 pejuang ISIS asing yang bergabung di Syria dan Irak,dari jumlah tersebut 800 berasal dari Asia Tenggara serta 700 dari Indonesia,” beber Menhan.

“Mereka (teroris) ini bukan Islam, karena ajaran Islam adalah ajaran yang damai dan Rahmatan Lil-Alamin; Sangat tidak masuk akal seorang ibu dapat mengajak anak-anaknya untuk melakukan aksi bunuh diri,” tambahnya.

Menhan mengatakan, ancaman ini merupakan ancaman yang bersifat lintas negara dan memiliki jaringan serta kegiatan yang tersebar dan tertutup, sehingga dalam penanganannya sangat memerlukan kerjasama antar negara, baik secara bilateral dan multilateral yang intensif, konstruktif dan konkrit, karena tidak ada satu negara-pun yang dapat menangani masalah terorisme sendiri-sendiri.

“Implementasi Konkrit dan komprehensif bentuk kerjasama tersebut, diantaranya adalah kerjasama antar lembaga pertahanan keamanan, pertukaran informasi dan intelijen, serta kolaborasi kapabilitas militer antar negara pada level strategis, operasional dan taktis,” ujarnya.

Antar sesama negara di kawasan, lanjut Menhan, kita perlu mengembangkan format kerjasama deradikalisasi dan penguatan mindset dengan mengembangkan metode dan kerangka kerjasama yang efektif untuk memerangi idelogi radikal, mengingat setiap negara memiliki tantangan dan keunikan tersenidiri dalam menghadapi ancaman penyebaran ideologi radikal.

“Dalam penanganan terorisme, kita sepakat bahwa negara harus mengambil inisiatif terlebih dahulu sebelum kelompok teroris melakukan serangannya,” ucap Menhan.

Langkah pertama dari embrio arsitektur kerjasama keamanan regional adalah membentuk sebuah platform kerjasama antar negara di kawasan; Dalam hal ini telah dibentuk kerjasama keamanan Trilateral di Laut Sulu antara Indonesia Filipina dan Malaysia.

“Kedepan kerjasama Trilateral akan ditingkatkan dengan operasi darat gabungan setelah kesuksesan operasi maritim dan operasi udara bersama di Laut Sulu,” ucapnya.(MRZ).