Home Berita Lantera Indonesia Mengutuk Keras Serangan Bom di Sri Lanka

Lantera Indonesia Mengutuk Keras Serangan Bom di Sri Lanka

0

Serangkaian ledakan bom kali ini mengguncang Sri Lanka. Dunia kembali terperangah, kaget, sedih dan sekaligus mengutuk pelaku teror bom tersebut. Aktivitas teror yang dilakukan oleh siapapun dan dimanapun tentu tidak dibenarkan berdasarkan hukum maupun agama, akan tetapi masih ada saja sebagian oknum manusia yang masih melakukan aksi keji dan tidak berperikemanusiaan. Siapapun manusia yang cinta damai pasti akan menangis sedih melihat kelakuan anak manusia yang seperti itu. Apalagi baru beberapa hari yang lalu teror kemanusiaan yang biadab juga baru saja menimpa New Zealand. Kapankah manusia – manusia kejam seperti itu akan berhenti menebarkan teror pada sesama anak manusia?

Menanggapi peristiwa teror bom di Sri Lanka, awak media menemui Pembina Lembaga Anti Teorisme (LANTERA) Indonesia, Dede Farhan Aulawi.

Dede menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh korban dan keluarganya, serta mengutuk keras para pelaku kejahatan kemanusiaan tersebut. Kita tidak tahu apa yang melatarbelakangi tindakan biadab dan keji tersebut. Apa yang ada di kepala mereka sehingga memutuskan untuk membunuh orang – orang yang tidak berdosa, apalagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya.

Selanjutnya Dede menambahkan bahwa teror bom di Sri Lanka ini menyerang sejumlah hotel dan gereja. Hotel yang diserang adalah Kingsbury Hotel, Shangri-La Hotel, dan Cinnamon Grand Hotel yang terletak di ibu kota Sri Lanka, Colombo. Sementara dua gereja yang menjadi target ledakan bom selama perayaan Paskah ini berada di Colombo dan di Negombo. Atas kejadian ini dikabarkan memakan korban lebih dari 160 orang meninggal dunia dan sekitar 500 orang terluka. Jumlah tersebut bisa saja bertambah karena banyak yang sedang dalam perawatan medis.

“Oleh karena itu, kita semua perlu gencar mengkampanyekan untuk menolak setiap tindakan teror dimanapun dan kepada siapapun. Kita tidak bisa hanya diam diri dan bersedih. Sudah saatnya untuk bicara lantang dan keras, bahwa kita menolak dengan tegas setiap tindakan keji yang tidak berperikemanusiaan karena bertentangan dengan Pancasila dan ajaran agama,” ujar Dede.

Untuk itu, Dede dan Ketum Lantera KH. Alawy al Bantani dan seluruh jajaran pengurus selalu mengingatkan dan mensosialisasikan agar seluruh umat menghindari faham radikal sehingga tega melakukan membuat perbuatan teror keji pada sesama manusia. Kejadian di atas bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja, tetapi pelakunya pasti yaitu orang – orang yang memiliki faham radikal sehingga begitu tega berbuat biadab pada sesama manusia.

Kapan serangan – serangan biadab seperti itu akan berakhir ? apakah serangan Bom Bali pada 12 Oktober 2002, serangan Bom di Istanbul pada 15 November hingga 20 November 2003 tidak cukup untuk menyentuh rasa kemanusiaan ? Haruskah ada penyanderaan Murid dan Guru di Beslan – Rusia ? Mestikah terjadi serangan bom di jaringan transportasi umum London? Bom di Karachi pada 18 Oktober 2007 ? Serangan di Mumbai, India pada 26 November 2008 ? Serangan Boko Haram di Nigeria ? Pembunuhan Masal di Sekolah Peshawar pada 16 Desember 2014 ? dan banyak lagi serangan teror di berbagai belahan dunia.

“Ingatlah bahwa serangan teror apapun tidak akan pernah menimbulkan rasa takut manusia, bahkan sebaliknya hanya menimbulkan rasa benci dan dendam yang turun menurun. Oleh karena itu, Lantera Indonesia akan menjadi lokomotif untuk membangun peradaban dunia yang terbebas dari rasa takut atas tindakan – tindakan biadab teror. Siapapun mereka yang menjadi korban adalah saudara kita sendiri sebagai sesama umat manusia. Begitu juga sebaliknya siapapun yang menjadi pelaku serangan teror boleh jadi adalah korban atas doktrin dari manusia – manusia yang tidak beradab. Jadi mari kita bangun kesadaran kolektif untuk menata peradaban dunia yang penuh cinta damai,” unkap Dede mengakhiri percakapan. (ris)