Home Berita Padi Padi Picnic Tangerang, Dari Kasus Hukum Hingga Bikin Banyak Pengunjung Kecewa

Padi Padi Picnic Tangerang, Dari Kasus Hukum Hingga Bikin Banyak Pengunjung Kecewa

0

Pemilik dan beberapa karyawan Padi Padi Picnic Ground sedang kesandung kasus hukum karena dugaan perusakan portal dan papan peringatan yang dipasang petugas Kecamatan Pakuhaji.

Restoran Padi Padi di Jalan Pakuhaji Raya, Desa Kramat Kecamatn Pakuhaji, Kabupaten Tangerang ini dilaporkan pihak kecamatan ke Polres Metro Tangerang Kota, 9 orang dijadikan tersangka.

Ditengah kasus hukum yang menjerat karyawan dan pemilik Padi Padi Picnic Ground, rating google restoran yang berada di tengah sawah tersebut ternyata sangat buruk. Apa yang ditawarkan Restoran Padi Padi Picnic justru dicibir netizen. Banyak pengunjung kecewa setelah datang ke sana.

Pantauan hingga Rabu 7 September 2022, Padi Padi hanya mengantongi 4.3 rate bintang dari 310 ulasan google. Banyak bintang 1 diberikan karena keberadaan Padi Padi Picnic dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi.

“Tidak sesuai ekspektasi ternyata. Sudah reservasi untuk slot pagi, sudah datang di range jam slot pagi, namun saat order menu ada beberapa yg tidak ready (kelapa muda kosong, kemudian ganti jus markisa juga kosong),” kata Albert Timotius dalam reviewnya setelah berkunjung ke Padi Padi.

“I mean, mungkin management perlu manage dengan lebih baik lagi mengenai ketersediaan menu, pasalnya cust yg ke sana diharuskan untuk reservasi dan di-estimasikan berapa pax nya. Secara taste juga menurut kami tidak terlalu istimewa. Harga menu cukup affordable. Suasana cukup baik, namun beberapa pepohonan menurut kami masih kurang rindang,” tambahnya.

“Pelayanan biasa saja,dan Menurut saya tempatnya kurang dan harga makanan yang lumayan mahal dan kurang worth,” tulis Gideon fuadi.

“Lokasi jauh, makanan mahal, mancing dpt atau tidak bayar 75rb,” tulis Indra Aditya.

“Tempat ini mewajibkan customer utk reservasi, namun yg sy dptkan adalah pengalaman terburuk dlm hal reservasi. Slow respons & arogan !!!! Bila dr awal service spt ini, entah bgm service nya bila on site. Very bad experience & not recommend for all,” sesal Connie Sihombing.

Sementara itu Daisy Tania juga memiliki pengalaman kurang mengenakkan setelah datang ke Restoran Padi Padi Picnic.

“Waktu kita ke sana, sedang tidak ada padi sepertinya baru dipanen. Kami sangat menyesali keputusan kami datang ke Padi Padi.

Daisy beralasan Pemandangan (Padi Padi) biasa saja, cuma ada hamparan sawah yg sudah dipanen.

“Dengan booking fee 50K/orang, ekspektasi kami sangat tinggi. Please note booking fee ini tidak bisa untuk bayar makanan, hanya diberikan mineral water 330ml. Akses jauh & jalanan sempit,” keluhnya.

Setelah agak kecewa dengan pemandangan, dia tentunya berharap banyak ke makanan. Katanya mereka hanya menyediakan simple kampung food.

“Sayangnya rasa makanannya tidak menolong mood kami sore itu: nasi gorengnya hambar total, cuma kelihatan seperti nasi yg dikecapin sedikit. Yg penting warnanya coklat. Tempe gorengnya seperti tidak matang. Yang enak hanya indomie (Indomie Seleraku) & singkong goring,” paparnya.

Menurutnya, harga makanan di Padi Padi Picnic sangat mahal. “Harga cukup mahal untuk makanan yg rasanya ga enak,” tulis dia lagi.

Celakanya, ada kotoran betebaran.

“Ada pup di tanah. Waktu kami jalan ke arah pohon untuk foto, untung saya lihat pup itu supaya ga keinjak. Masa pup ga dibersihin sih itu kan picnic ground, kami duduk di tikar di tanah loh. Saya jadinya dibully keluarga saya karena saya yg arrange untuk datang ke sini,” jelas Daisy.

Soal kebersihan juga dikeluhkan Ahmad Fauzi Ridwan.

“Dengan HTM Rp50.000/orang ternyata fasilitasnya tidak sesuai harapan. Tempat sholat sangat tidak nyaman, terletak di gudang pakan ikan, yg sempit dan bau. Untuk wudhu pun cukup jauh dan berdampingan dengan Kandang Soang, yang bikin ilfil lagi, airnya sangat Asin, Tidak layak/tidak sah dijadikan air wudhu,” terang dia.

Tedi Purnomo berpendapat sama. “Banyaknya hewan peliharaan juga banyak dikeluhkan pengunjung. “Kenapa ada hewan piaraan berkeliaran. Berak kencing sembarangan,” katanya.

“Akses sangat jauh dan jalan d paku haji ad yg rusak parah. Tiba d lokasi kondisi sesuai dgn yg dposting. Dikarenakan Tpt ini “ramah” utk semua binatang,jd klo mau memastikan kesucian tikar bs bawa sendiri,” tulis mawar astari.

Pengunung lain, Teddy Irawan memaparkan panjang lebar tentang kekecewaaannya datang ke lokasi Padi Padi Pakuhaji.

“Setelah direview, maka pihak Padi-padi langsung merespon dengan telp ke isteri saya. Pemiliknya langsung telp dengan memberikan kompensasi air kelapa ijo dan menawarkan untuk di jadwal ulang. Tetapi saya menolak jadwal ulang karena terlalu jauh kalo dari Tangerang Kota, meskipun ini masih di Kabupaten Tangerang. Karena respon yang baik, maka saya ubah ratenya. Selebihnya terserah teman-teman mau coba datang atau tidak,” ujar Teddy mengawali curhatannya.

“Siapkan waktu 1.5 – 2 jam untuk perjalanan dengan kondisi jalan yang sangat buruk. Perlu bayar 35rb / org hanya untuk masuk dan dapat air mineral 330mL. Sangat tidak worthed, pemandangan hanya lihat sawah saja. Booking dari tgl 5 Apr sudah transfer, setelah sampai hari Jumat tgl 9 ternyata tidak tercatat. Pelayanan sangat buruk. Jalanan sangat sempit apalagi saat berpapasan dengan kendaraan lainnya,” jelas dia.

Menurutnya masih ada tempat kosong yang teduh, mau di pilih, katanya sudah punya orang. Padahal orangnya saja belum datang.

“Pikir ulang jika mau datang ke sini. Sebaiknya tidak usah di datangi. Lebih banyak tempat yang lebih layak buat di kunjungi. Rugi datang ke tempat seperti ini hanya untuk beli air mineral 330mL seharga 35rb. Mending sekalian ke Mang Engking atau Bebek Tepi Sawah, gak perlu bayar buat masuk ke Restoran,” lanjutnya.

“Jika sekedar mau berfoto di sawah, di sekitar sini juga banyak kok sawah yang hijau bisa untuk berfoto. Masih mending jika tiket masuk 35rb bisa untuk bayar makanan. Ini hanya untuk bayar air mineral saja. Lebih enak ke hutan kota BSD lebih dekat dan gak perlu bayar buat masuknya,” ungkap Teddy.

“Restoran jualan apa juga gak tahu, gak ada menunya. Toiletnya juga kotor, seperti tidak dibersihkan. Jangan pernah datang, hanya buang-buang waktu dan uang untuk sesuatu yang harusnya bisa di dapatkan dengan gratis dan tanpa bayar. Mau pemandangan sawah yang lebar begini mendingan ke benteng betawi, sama saja kalo pas lagi warna hijau semua padinya,” tandasnya. (Rmt)