Menebar Rasa Takut untuk Mengais Keuntungan

By
7 Min Read
Ilustrasi Pocong Jadi-jadian AI

Penulis: Alifia Aleyda Rosidi (Mahasiswi Prodi Penerbitan jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta)

Dalam sepekan terakhir, Fenomena pocong jadi-jadian berbalut kain kafan putih bermunculan di pelbagai kawasan permukiman di Tangerang Raya. Mereka berdiri diam di depan pintu rumah warga, memanfaatkan simbol kematian yang paling ditakuti dalam budaya kita, bukan untuk ritual, bukan untuk tontonan, melainkan untuk memaksa warga menyerahkan uang. Aksi intimidasi berkedok pocong ini menyebar cepat dan memantik keresahan yang meluas, video-videonya beredar di media sosial dan membuat banyak orang merasa lingkungannya tidak lagi aman.

Imbauan Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin, yang dikutip dari laman resmi Pemerintah Kota Tangerang, mengatakan warga agar tidak panik dan tetap berpikir rasional. “Yang ada itu ulah orang-orang iseng yang tidak bertanggung jawab. Tujuannya menakut-nakuti warga dan mengambil keuntungan dari situasi. Karena itu, saya minta masyarakat jangan mudah terpancing, jangan mudah takut, dan tetap berpikir rasional,” tegasnya. Imbauan itu masuk akal dan memang sudah semestinya dilakukan.

Tapi di tengah semua kegaduhan itu, ada satu pertanyaan yang hampir tidak pernah diajukan: mengapa seseorang rela membalut dirinya dalam kain kafan dan berdiri di jalanan gelap, bahkan di kawasan kota lain ada peristiwa yang nyaris serupa dengan motif untuk memeras beberapa lembar uang dari tetangganya sendiri? Jika kita mau melihat lebih jauh di balik kain putih yang mereka kenakan, ada sebuah realitas sosial yang terasa jauh lebih pahit dari sekadar ulah iseng. Dan realita itu jauh lebih menakutkan dari hantu pocong jadi-jadian mana pun.

Secara psikologis, sosok pocong bukan sekadar kostum. Dalam budaya kita, ia adalah simbol yang menempel langsung pada rasa takut kolektif terhadap kematian, pada dunia yang tidak kasat mata, pada sesuatu yang tidak bisa dilawan dengan nalar. Ketakutan itu sudah tertanam jauh sebelum kita bisa berpikir kritis, diwariskan lewat cerita, film, dan ingatan masa kecil yang sulit dihapus begitu saja.

Ketika simbol sekuat itu berubah fungsi menjadi alat mencari nafkah, kejadian ini tidak bisa lagi dilihat sebagai keisengan semata. Kostum pocong dipilih bukan tanpa perhitungan. Ia bekerja justru karena mampu menciptakan tekanan psikologis yang membuat korban merasa terdesak sebelum sempat berpikir panjang. Rasa takut yang muncul bukan reaksi terhadap ancaman fisik, melainkan reaksi terhadap sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang sudah lama bersemayam di memori kolektif masyarakat.

Kostum yang sejatinya menjadi pengingat manusia akan kematian itu kini dipakai sebagai alat intimidasi demi mengisi perut yang kosong. Ada keputusasaan di baliknya, sampai seseorang bersedia membuang harga diri dan menantang sanksi sosial ketika pilihan-pilihan lain sudah terasa tertutup rapat di hadapannya. Ini bukan gambaran tentang orang jahat. Ini gambaran tentang orang yang sudah kehabisan pilihan.

Hidup Semakin Sulit Pilihan Semakin Sempit

Kondisi ini berakar dari tekanan ekonomi yang semakin lama semakin mencekik masyarakat kelas bawah. Kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus merayap akibat fluktuasi nilai tukar rupiah mungkin hanya terasa sebagai penyesuaian kecil bagi mereka yang bergaji tetap, yang setiap bulan masih ada angka pasti masuk ke rekening. Tapi bagi kelompok rentan di daerah penyangga ibu kota seperti Tangerang, tidak ada bantalan semacam itu.

Bagi mereka, tekanan hidup itu datang setiap hari, tanpa jeda dan tanpa kompromi. Harga cabai naik, ongkos transportasi naik, tarif listrik naik, sementara pendapatan harian tidak ikut bergerak ke mana-mana. Dalam kondisi seperti itu, naluri bertahan hidup sering kali mengalahkan batas-batas nalar dan kepatutan sosial yang dalam keadaan normal tidak akan pernah mereka langgar. Bukan karena mereka tidak tahu mana yang benar, tapi karena pilihan yang tersisa sudah terlalu sempit untuk dipilih dengan tenang.

Tangerang sebagai kota penyangga ibu kota menanggung beban ganda. Ia menyerap limpahan penduduk dari Jakarta yang mencari biaya hidup lebih rendah, tapi pertumbuhan ekonomi di tingkat bawah tidak selalu mengikuti. Kantong-kantong kemiskinan tumbuh diam-diam di balik gedung-gedung industri dan pusat perbelanjaan. Dan di situlah keputusasaan perlahan menemukan bentuknya yang paling nekat.

Menajaga Keamanan Saja belum cukup

Penertiban oleh aparat tentu diperlukan dan patut didukung. Sachrudin juga mengajak warga untuk memperkuat ronda malam dan Siskamling sebagai bentuk kepedulian bersama dalam menjaga lingkungan. Langkah-langkah itu penting dan tidak boleh dikesampingkan, terutama untuk memulihkan rasa aman warga yang sudah terlanjur cemas.

Namun, pendekatan keamanan yang berhenti hanya di sana akan selalu bekerja di permukaan saja. Menangkap pelaku, membubarkan aksi, lalu berpatroli lebih ketat, semua itu perlu dilakukan. Tapi jika akar masalahnya tidak disentuh, keputusasaan itu tidak akan ikut hilang. Ia hanya akan berganti wajah, muncul kembali dalam bentuk lain yang mungkin lebih sulit dikenali dan lebih sulit diatasi.

Menghentikan aksi tanpa menyentuh motif ekonomi di baliknya hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Selama tekanan hidup itu belum benar-benar diringankan, selama tidak ada ruang yang cukup bagi masyarakat kelas bawah untuk bernapas secara ekonomi, kain kafan itu bisa kapan saja muncul kembali dalam wujud yang berbeda.

Warga Butuh Solusi Bukan Sekadar Patroli

Penanganan yang lebih utuh harus bergerak dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, penertiban yang konsisten dan persuasif di ruang publik memang perlu terus dijaga agar warga merasa aman beraktivitas. Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memperkuat jaring pengaman sosial yang benar-benar menyentuh kantong-kantong kemiskinan secara langsung, bukan sekadar program yang berhenti di angka laporan.

Penguatan peran RT dan RW untuk mendeteksi warga yang sedang dalam kesulitan finansial adalah langkah konkret yang tidak memerlukan anggaran besar. Aparatur wilayah yang hadir dan peka terhadap kondisi warganya bisa menjadi sistem peringatan dini yang jauh lebih efektif daripada patroli malam sekalipun. Kolaborasi antara aparatur wilayah dengan tokoh masyarakat dalam menyalurkan bantuan sosial darurat, membuka pelatihan kerja berbasis komunitas, serta menghubungkan warga marginal dengan sektor UMKM lokal, dapat memangkas potensi lahirnya tindakan nekat serupa di kemudian hari.

Respons cepat pemerintah dalam menjaga keamanan memang patut diapresiasi. Tapi tugas jangka panjang kita bersama adalah memastikan bahwa tidak ada lagi warga Tangerang yang harus menggadaikan akal sehat dan martabatnya di jalanan hanya demi sesuap nasi. Karena selama kemiskinan itu dibiarkan menghimpit tanpa ada tangan yang benar-benar mengulur, ia akan terus menemukan caranya sendiri untuk berteriak, dengan atau tidak dengan kain kafan.

Share This Article