Cerdas Mengelola Uang di Era Klik: Edukasi Keuangan bagi Siswa SMK di Tengah Maraknya Paylater dan Pinjol

By
3 Min Read

 

Klik bayar, klik lunas, tapi apakah generasi muda juga klik paham? Kemudahan bertransaksi via dompet elektronik, mobile banking, dan paylater tidak selalu diikuti dengan pemahaman finansial yang cukup. Akibatnya, remaja rentan terhadap pinjaman online ilegal, investasi bodong, dan perilaku konsumtif.

Perkembangan teknologi mengubah cara masyarakat bertransaksi dan mengelola uang. Layanan seperti e-wallet, mobile banking, marketplace, dan paylater menawarkan kemudahan. Namun, di sisi lain, gaya hidup konsumtif ikut meningkat. Remaja sebagai pengguna aktif media sosial mudah terpengaruh promosi dan tren. Mereka sering sulit membedakan kebutuhan dan keinginan. Minimnya pengetahuan keuangan membuka peluang bagi pinjol ilegal, investasi palsu, dan judi online.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang mengadakan Pengabdian kepada Masyarakat di SMK Negeri 18 Jakarta pada 11 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti 36 siswa dan seorang guru pendamping. Temanya adalah edukasi pengelolaan keuangan untuk membentuk perilaku finansial cerdas di era digital.

Tujuannya meningkatkan pemahaman siswa tentang pengelolaan uang, membentuk kebiasaan finansial bijak, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko layanan keuangan digital.

Pelaksanaan melalui presentasi, diskusi, tanya jawab, dan permainan edukatif. Materi meliputi literasi keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, mengatur uang saku, menabung, serta risiko paylater, pinjol ilegal, dan judi online.

Siswa terlihat antusias. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman. Topik yang paling banyak dibahas adalah strategi menabung, cara aman menggunakan paylater, dan menghindari penipuan digital.

Materi menabung dan mengatur uang saku menjadi perhatian utama. Siswa diajak memahami bahwa menabung melatih disiplin dan membantu perencanaan masa depan. Mereka juga diperkenalkan dengan anggaran sederhana agar pengeluaran tidak melebihi pemasukan.

Edukasi tentang layanan keuangan digital diberikan untuk menumbuhkan sikap hati-hati. Siswa diberi pengetahuan tentang ciri pinjol ilegal, tanda investasi bodong, dampak paylater berlebihan, dan bahaya judi online.

Hasilnya, pemahaman siswa tentang pengelolaan uang meningkat. Mereka lebih mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, serta terbiasa menyusun anggaran. Kewaspadaan terhadap risiko keuangan digital juga lebih baik.

Secara keseluruhan, kegiatan ini berjalan lancar dan bermanfaat. Harapannya, program serupa dapat terus dilakukan dan menjangkau lebih banyak sekolah. Membekali generasi muda dengan kemampuan mengelola uang sejak dini adalah langkah penting untuk masa depan mereka.

Share This Article