BBKK Bandara Soetta Perketat Pengawasan Penumpang dari Luar Negeri untuk Cegah Hantavirus

By
2 Min Read
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Bandara Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini. (tangerangonline.id)

Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) meningkatkan pengawasan terhadap penumpang internasional di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta).

Langkah ini sebagai antisipasi penyebaran Hantavirus, setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan tiga kasus kematian penumpang kapal pesiar akibat virus yang berasal dari hewan pengerat, seperti tikus.

Kepala BBKK Bandara Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, menegaskan kesiapsiagaan penuh pihaknya menghadapi potensi masuknya virus tersebut.

“Kami melakukan pengetatan pengawasan terhadap negara-negara yang sudah teridentifikasi ada virus Hanta, seperti Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan Panama,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

Naning menjelaskan, pengawasan ekstra diterapkan pada penumpang penerbangan langsung ke Indonesia.

“Pertama melalui isian deklarasi kesehatan di IndonesiaSatu, sehingga kami bisa mengetahui risiko dari pesawat itu. Kedua, begitu turun, ada pengamatan visual dan gejala melalui thermal scanner serta observasi visual,” jelasnya.

Jika ditemukan pelaku perjalanan dengan tanda dan gejala Hantavirus, petugas segera membawa mereka ke poliklinik untuk pemeriksaan lebih mendalam.

“Kalau ada orang dengan tanda dan gejala, maka kami bawa ke poliklinik. Dokter melakukan assessment, dan apabila ada kontak dari negara terjangkit, kami evakuasi atau rujuk ke RSPI Suryati Suroso dengan ambulans khusus penyakit menular,” tambah Naning.

Meski hingga kini belum ada penumpang yang menunjukkan gejala Hantavirus, BBKK tetap bersiaga.

“Sampai saat ini kami belum menemukan, tetapi intinya bukan masalah menemukan atau tidak. Sistem pengawasan sudah berjalan,” tegasnya.

Sebagai informasi, Hantavirus merupakan kelompok virus yang menular melalui tikus, air liur, urine, atau feses.

Virus ini dapat menyebabkan dua penyakit serius seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.

Penyakit ini menular melalui udara yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus dan dapat berakibat fatal. (Rmt)

Share This Article