Dari Halaman Sekolah ke Layar Festival, Kisah Bimo dan Kolaborasi SMPN 259 – TNI

By
4 Min Read
Foster film pendek "Suara di Kepala Bimo"

Ketika bel sekolah berbunyi, Bimo tidak langsung kembali ke rutinitas. Suara keras memicu gemetar, napas tersengal, dan ia menutup telinga seperti ingin menahan gema kata-kata yang terus mengusik kepalanya.

Adegan itu lahir di halaman SMP Negeri 259 Jakarta, tempat siswa, guru, dan seorang anggota TNI berkumpul untuk membuat film pendek berjudul Suara di Kepala Bimo.

Film berdurasi 4 menit 56 detik ini muncul dari inisiatif sekolah untuk ikut serta dalam TNI Creative Fest 2026, sebuah festival yang menyuarakan tema TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur.

SMPN 259 memilih kategori film pendek dan memproduksi karya bergenre drama human interest yang menyorot luka psikologis akibat bullying verbal dan proses penyembuhannya melalui empati komunitas sekolah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sekaligus produser film, Elvina, menjelaskan motivasi sekolah memproduksi film ini.

“Festival ini diselenggarakan oleh Puspen TNI. Disana sekolah mengangkat kolaborasi antara sekolah dan pihak TNI,” jelas Elvina dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).

Ia menambahkan bahwa sekolah ingin menegaskan peran pendidikan bukan hanya mengajarkan akademik, tetapi juga menumbuhkan kreativitas siswa melalui seni peran.

“Juga mengangkat nama sekolah agar lebih baik lagi ke depan, salah satunya lewat dunia seni peran,” sambungnya.

Tema film ini berpusat pada trauma, empati, dan keberanian. Elvina memaparkan bagaimana bullying verbal di rumah bisa meninggalkan jejak yang terbawa ke lingkungan sekolah.

“Jadi korban dari bullying seperti bullying verbal mampu menciptakan trauma bagi seorang pelajar dan terbawa hingga ke sekolah. Korban bullying bisa disembuhkan oleh teman-teman, guru ataupun pihak eksternal yang ada di sekolah,” ucap Elvina.

Ia menekankan bahwa proses penyembuhan memerlukan keterlibatan banyak pihak.

“Dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Baik dari lingkungan sekolah seperti teman atau guru, hingga TNI,” tambahnya.

SMPN 259 menempatkan siswa sebagai pemeran utama dan pendukung.

Pemeran film pendek “Suara di Kepala Bimo”. Foto: Sjah

Film ini menampilkan Dhirgam Al Hakim sebagai Bimo, bersama Ferdinand Deniro Wabiser, Denmas Kenzihero Zaahir, dan Regina Natasya Anggraini sebagai teman-teman Bimo.

Guru Maemunah memerankan figur pendidik yang memberi dukungan, sementara Koptu Dodi Melyawan, anggota TNI aktif yang juga Bhabinsa Koramil, tampil sebagai sosok yang membantu Bimo menemukan kembali rasa aman dan cita-cita barunya.

Kisah bermula dari bentakan dan kata-kata keras yang Bimo terima dari almarhum ayahnya.

Trauma itu muncul kembali di sekolah setiap kali ada suara keras, termasuk peluit latihan baris-berbaris.

Teman-teman dan guru berusaha memberi dukungan emosional, namun perubahan nyata datang saat Koptu Dodi hadir dengan pendekatan hangat.

Pengalaman pribadi Koptu Dodi yang pernah menyaksikan dampak bullying pada anaknya membuat ia mampu membaca luka Bimo dan membantu proses pemulihan.

Akhir cerita menampilkan transformasi Bimo yang menemukan keberanian dan cita-cita baru, yakni menjadi prajurit TNI yang melindungi sesama.

Sekolah memberi apresiasi kepada berbagai pihak yang membantu produksi, termasuk Wakapendam Kasuari Letkol Inf Amir Syarifudin, Kodim 0507/Kota Bekasi, Koramil 02/Pondok Gede, Kepala SMPN 259 C Riyanti Susilowati, serta organisasi siswa seperti OSIS, MPK dan Komite Sekolah Periode 2026-2028.

Mereka bekerja sama untuk menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang kreatif sekaligus tempat pemulihan.

Produksi film ini juga membuka diskusi lebih luas tentang peran institusi non-pendidikan dalam mendukung kesehatan mental pelajar.

Kolaborasi antara sekolah dan TNI dalam proyek seni seperti ini menunjukkan bahwa pendekatan lintas sektor mampu menjangkau siswa yang mengalami trauma dan memberi mereka jalan untuk bercerita, berproses, dan bangkit.

Bagi SMPN 259, film ini bukan sekadar ikut festival. Film ini menjadi bukti bahwa sekolah bisa menjadi laboratorium empati, tempat di mana kreativitas dan kepedulian bertemu untuk menyembuhkan.

Untuk melihat filmnya, sekolah mengunggah karya tersebut ke kanal publik. https://youtu.be/Z93drwfVNOg?si=oyXLAeZlvbmNWHCC

(Rmt/Sjah)

Share This Article