Home Berita Mitos Buaya Buntung dan Asal Usul Situ Sasak Pamulang

Mitos Buaya Buntung dan Asal Usul Situ Sasak Pamulang

0
Situ Sasak selalu ramai oleh pencari ikan, baik menggunakan jala, getek, dan pancing.

Situ Sasak yang berada di Jalan Pajajaran, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel) memiliki mitos yang cukup kuat di kalangan warga sekitar. Saat dijumpai tangerangonline.id, Edi Tolib warga Gang H. Saidin membenarkan tentang adanya ‘Buaya Buntung’ yang menghuni Situ Sasak.

Edy sendiri pernah melihatnya saat masih usia anak-anak. “Buaya Buntung itu bukan buaya biasa, tapi buaya gaib. Dulu, ketika saya masih kecil, saya berenang di Situ itu bersama teman-teman, saya sendiri pernah melihat langsung penampakan Buaya Buntung,” ujarnya dengan mengingat memori masa kecilnya, Senin (18/4/2016).

Menurut Edy, buaya misterius tersebut tidak akan mengganggu, kecuali ada orang yang usil. “Kalo ada orang ngejala ikan, dan tidak baca doa. Terkadang jalanya narik sendiri sampe orangnya hampir tenggelam. Tapi kalo kita baik-baik aja, ya insya Allah aman,” bebernya.

Dulu pernah ada anak kecil yang tenggelam, lanjut Edy, jenazahnya tidak bisa ditemukan. Tapi berselang beberapa hari, tiba-tiba jenazahnya muncul sendiri. “Padahal lokasi kemunculan jenazah tersebut udah diubek-ubek sama warga sebelumnya. Konon, jenazah bisa ditemukan setelah ada kontak batin antara penghuni dengan kuncen Situ (Sasak),” papar pria yang kini bekerja sebagai staf kelurahan itu.

Edy menyebutkan nama Ki Ramin yang konon melakukan kontak batin dengan penghuni Situ, “Nama kuncennya Ki Ramin, lalu setelah Ki Ramin meninggal. Ilmunya diturunkan kepada anaknya bernama Ki Nasib. Entah sekarang Ki Nasib masih hidup atau sudah wafat, saya tidak tahu,” selorohnya.

Jembatan yang konon diadopsi sebagai penamaan Kampung Sasak Pamulang.
Jembatan yang konon diadopsi sebagai penamaan Kampung Sasak Pamulang.

Mengenai asal usul penamaan Situ Sasak, Edy menjelaskan tentang keberadaan jembatan yang menyambungkan Jalan Pajajaran dengan Jalan Otista Raya. “Dalam bahasa betawi, sasak itu kan artinya jembatan. Nah, dulu pemilik Pacuan Kuda (Jenderal Soehardjono) ingin membuat jalan penyambung antara Jalan Pajajaran dengan Jalan Otista. Lalu Pak Soehardjono membangun jembatan yang kini berada tepat sebelum pertigaan Otista dari arah Ciputat,” tuturnya.

Warga menyambut baik inisiatif Soehardjono. Apresiasi warga tersebut diwujudkan dengan mengadopsi nama Sasak atau jembatan untuk menyebut nama kampung. Alhasil, jadilah nama Kampung Sasak. Alhasil, Situ yang berada di Kampung Sasak turut dinamai Situ Sasak.

Mungkin secara sekilas, kini jembatan tersebut tidak terlalu menyita perhatian pengendara yang berlalu lalang melintasinya. Pasalnya, pagar jembatan sangat pendek serta tertutup oleh badan kendaraan yang selalu memadati Jalan Pajajaran. (Muf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here