Home / Index / Puasa dan Pembinaan Kedisiplinan, Kejujuran Menuju Cita Ketaqwaan

Puasa dan Pembinaan Kedisiplinan, Kejujuran Menuju Cita Ketaqwaan

oleh: Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pengantar

Allah menjadikan umat Muhammad sebagai umat terbaik di dunia ini (Ali Imran 110), tapi predikat terbaik tersebut dilekatkan bukan karena warisan kekuasaan yang ditinggalkan Rasulullah, melainkan semata karena ajaran Islam yang ditinggalkan beliau untuk umat manusia ini. Ajaran yang ditinggalkan beliau dalam al Qur’an dan al-Sunah menekankan beberapa aspek penting untuk kemajuan umat manusia, antara lain adalah:
1. Umat Islam harus menjadi umat yang pintar (Al Mujadilah 11), harus belajar serius dan harus menguasai serta mengembangkan ilmu dan teknologi, dengan tetap menyeimbangkan antara kekuatan ilmu dan iman.
2. Umat Islam diperintahkan untuk bekerja, dan mereka akan memperoleh imbalan dari hasil-hasil karyanya (At-Taubah 105). Allah tidak akan memberi kekayaan kepada setiap makhlukNya selain dengan apa yang diusahakannya.
3. Umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk mencari karuniaNya lewat karya-karya kreatif (Al-Jumu’ah ayat 10).

Bersamaan dengan itu, Allah memperkenalkan diriNya pada umat manusia sebagai Rabb., yakni Zat yang Maha Pembentuk, atau pendidik bagi umat manusia, salah satu cara Dia mendidik umat Islam adalah, menjadikan setiap syari’ah yang diturunkanNya memiliki berbagai hikmah untuk melakukan perubahan bagi kehidupan mereka. Salah satu ibadah yang sarat dengan makna pendidikan adalah ibadah puasa, karena ibadah puasa sangat khas, berdurasi panjang sekitar 14 jam untuk bangsa Indonesia, dimulai sekitar pukul 04.30 dini hari, dan berakhir sekitar pukul 18.00 sore hari. Setiap detik, menit dan jam selama 14 jam itu adalah ibadah, sehingga ketika istirahat di siang hari dan tertidur, maka tidurnya pun dalam keadaan ibadah. Kita bisa mengambil pelajaran penting sebagai hikmah dari karakter ibadah puasa ini, bahwa dalam keadaan apapun, kita sedang bersama Tuhan, sedang di hadapan Allah, dan sedang mengabdikan diri kita kepadaNya. Kalau kita sedang bersama Allah, mungkinkah kita mau berbuat sesuatu yang tidak Dia ridhai ? Mungkinkah kita melakukan perbuatan dosa, padahal kita sedang bersama Allah ? Oleh sebab itulah, Allah menutup ayat perintah puasa dengan kata-kata bahwa engkau akan dhantarkan untuk benar-benar menjadi orang takwa.

Dari sekian banyak hikmah di balik pelaksanaan ibadah puasa, apakah ibadah puasa juga berkorelasi terhadap pembinaan kejujuran dalam berkarya, kejujuran dalam menjaga dan membina relasi sosial, kejujuran terhadap diri sendiri, sehingga bisa menjadi orang yang bisa hidup wajar sebagai salah satu modal kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Kemudian, apakah ibadah puasa juga berkorelasi dengan pembiasaan hidup berdisiplin untuk meningkatkan produktifitas kerja menuju cita ideal umat terbaik di dunia ini. Dan apakah cita-cita takwa yang dijanjikan Allah lewat ibadah puasa ini? Takwa dalam ukuran apa yang Allah berikan jaminan pada umat islam dengan ibadah puasa ini?

Konsep kejujuran yang diajarkan Islam

Masing-masing bangsa memiliki konsep dengan bahasa yang digunakannya. Kata jujur dalam bahasa Indonesia, tidak ada padanan spesifik dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu, terkadang dipadankan dengan kata-kata shidiq, dan terkadang juga dipadankan dengan Amanah. Kata shidiq sudah memiliki padanan yang spesifik dalam bahasa Indonesia, yaitu benar. Oleh sebab itu, jujur sering didekatkan dengan kata-akat Amanah. Kata amanah dalam bahasa Arab sering digunakan untuk menyampaikan konsep “memenuhi seluruh hak orang lain dengan sesuatu yang ada pada kita”. Seorang manusia melaksanakan ibadah dalam rangka memenuhi hak-hak Allah, umat Islam juga diperintahkan untuk berkata benar pada koleganya, mitra usaha, dan atasannya, dalam rangka memenuhi hak-hak mereka memperoleh informasi yang benar, seorang muslim juga diperintahkan untuk melakukan perhitungan utang piutang, perhitungan jumlah interest yang harus ditanggung oleh client, dalam rangka memenuhi hak-hak client dan hak-hak perusahaan agar tetap eksis dan memperoleh banyak kemajuan. Itulah inti dari perintah Allah dalam al-qur’an yang artinya:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian semua untuk memenuhi amanah mereka yang berhak untuk menrimanya, dan jika kamu menetapkan hukuman, tetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi pelajaran, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat”.(AN-Nisa : 58)

Mereka yang berhak menerima amanah dari setiap kita sebagai seorang muslim dewasa yang sudah berkeluarga, dan memiliki pekerjaan tetap dalam sebuah perusahaan atau kantor pemerintah, antara lain adalah:
1. Keluarga kita sebagai yang berhak memperoleh biaya hidup dari hasil karya profesi kita. keluarga kita yang berhak memperoleh bimbingan dan arahan kita sebagai kepala keluarga, dan keluarga kita yang memperoleh hak kehidupan layak dari kita, baik untuk kepentingan sandang, pangan dan papan, maupun berbagai kebutuhan sekunder lainnya.
2. Kolega kita dalam lingkungan pekerjaan. Mereka berhak memperoleh berbagai informasi tentang visi dan misi perusahaan, kebijakan strategis perusahaan, dan kebijakan operasional dan kebijakan teknis untuk bisa mereka lakukan dalam pemajuan perusahaan.
3. Pimpinan unit dan pimpinan perusahaan yang memiliki hak untuk memperoleh laporan yang benar tentang perkembangan omzet perusahaan, perkembangan client, dan perkembangan laba rugi perusahaan dengan benar, agar dapat merumuskan kebijakan perusahaan dengan tepat.
4. Para client perusahaan yang berhak atas layanan yang baik, yakni layanan cepat, tepat, akurat, murah dan menyenangkan. Mereka juga memperoleh hak-hak untuk memroleh perhitungan transaksi yang benar, sehingga mereka merasa nyaman, dan merasa diuntungkan dengan berbisnis dengan kita.
5. Para mitra usaha yang secara mutual saling menguntungkan antara satu dengan lainnya. Para mitra bisnis berhak untuk memperoleh dukungan bisninya dengan benar sesuai kesepakatan. Mengingkari kesepakatan-kesepakatan merupakan kebohongan yang akan mencederai masa depan bisnis kita.

Bisnis itu intinya jujur dan benar, sehingga para client akan memilki trust pada usaha dan layanan kita, dan mereka akan memiliki ekspektasi yang baik pada perusahaan kita. Rasulullah juga seorang pebisnis, dan modal utama beliau dalam bisnis adalah jujur, sehingga trust beliau sangat kuat, bahkan para mitra bisnis beliau dari kalangan Yahudi terikat sangat fanatis, bukan karena MoU tapi karena sikap beliau yang Amanah. Dan beliaupun mengamanahkan ini pada umatnya lewat salah satu haditsnya yang artinya:

“Dari Abdullah bin Umar ra., dia berkata, bahwa Rasulullah saw., bersabda, ada empat perbuatan jika keempatnya ada pada kalian, tidak akan ada sesuatu pun yang hilang dari dunai adnda, memelihara amanah, berkata benar, beakhlak baik dan senantiasa menjaga makanan hanya yang suci.” (H.R. Ahmad)

Semua kita telah melaksanakan amanah denga baik jika melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban profesi kita dengan cara yang paling baik, hasilnya baik dan caranya juga baik, sehingga hasilnya akan ganda, di samping peningkatan produk juga peningkatan citra sosial. Kemudian pelaksanaan tugas juga dilakukan dengan sebuah keyakinan yang kuat dan dikerahkan dengan penuh keseriusan sehingga hasilnya akan optimal.

Konsep disiplin yang diajarkan Islam

Disiplin pegawai adalah salah satu persoalan besar di setiap kantor pemerintah, perusahaan negara dan bahkan juga perusahaan-perusahaan swasta. Sehebat apapun sistem yang dikembangkan oleh manusia untuk mendukung sebuah manajemen, jika mental para pegawai tidak berubah, maka kedisplinan pegawai tidak akan tumbuh dengan baik. Dijelaskan oleh Sinungan (1997), bahwa disiplin bahwa kedisplinan pegawai bisa dilihat dalam tiga aspek, yakni:
1. Adanya hasrat yang kuat untuk melaksanakan sepenuhnya apa yang sudah menjadi norma, etik dan kaidah yang berlaku dalam perusahaan;
2. Adanya perilaku yang dikendalikan;
3. Adanya ketaatan

Sementara itu Helmi (1966: 34) menjelaskan, ada beberapa indikator dari disiplin kerja, yakni:
1. Disiplin kerja tidak semata-mata patuh dan taat terhadap penggunaan jam kerja saja, misalnya datang dan pulang sesuai dengan jadwal, tapi juga tidak mangkir di jam bekerja, dan tidak mencuri-curi waktu, tidak memperpanjang waktu istirahat, berleha-leha di waktu kerja, berpura-pura sakit, atau perbuatan-perbuatan lain yang menurunkan produktifitas;
2. Upaya dalam mentaati peraturan tidak didasarkan adanya perasaan takut, atau terpaksa;
3. Komitmen dan loyal pada organisasi yaitu tercermin dari bagaimana sikap dalam bekerja.

Dua kutipan ini menjelaskan bahwa kedisplinan itu harus datang dari dalam, yakni terlahir dari motivasi instrinsik yang kuat untuk bekerja sesuai aturan, bekerja sesuai norma dan kode etik perusahaan, dan bahkan lebih jauh, kedisiplinan itu adalah bekerja dengan serius untuk mencapai visi perusahaan, atau target-target perusahaan, sehingga ukurannya bukan saja pada finger print yang bisa kita tempelkan tiap pagi dan sore, tapi efektifitas dan efieinsi waktu yang kita gunakan untuk meningkatkan produktifitas perusahaan. Oleh sebab itu, prilaku-prilaku kita itu dikendalikan oleh kekuatan instrinsik kita، bukan oleh kekuatan ekstrinsik yang memaksa kita. Terkait dengan doktrin ini Allah telah nenegaskan dalam salah satu firmanNya dalam Surat Ar Ra’d ayat 11 yang artinya : “Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka mengubah dirinya sendiri.”
Perubahan mental pegawai, perubahan prilaku karyawan tidak bisa hanya dengan paksaan eksternal, dengan finger print umpamanya, atau pengawasan langsung dari pimpinan berkeliling kantor setiap pagi, atau dengan memperkeras hukuman bagi mereka yang melakukan pelanggaran aturan disiplin. Cara-cara seperti itu akan melahirkan pseudo disiplin. Kedisiplinan terbaik adalah yang lahir dari kesdaran instrinsik para pegawai, dengan sebuah komitmen bersama untuk mewujudkan visi perusahaan melalui kerja keras dan kerja cerdas bersama seluruh pagawai.Peningkatan kinerja akan menentukan produktifitas, dan Allah akan memberikan penilaian atas seluruh proses yang telah mereka lakukan, sebagaimana ditegaskan dalam salah satu firmanNya pada surah al Isra ayat ke-84, yang artinya: “Katakanlah, setiap orang akan bekerja sesuai pembawaannya, maka Tuhanmulah yang lebih tahu siapa yang benar dalam melakukan pekerjaannya”

Islam melihat faktor disiplin menjadi sangat penting, sampai-sampai Allah terlibat langsung dalam melakukan penilaian kedisplinan seseorang dalam berkarya, Dia sangat tahu siapa yang berkerja dengan penuh komimen dan siapa yang tidak, Dia juga sangat tahu siapa yang bekerja dengan penuh motivasi untuk kemajuan perusahaan dan siapa yang tidak. Tuhan memberikan perhatian dari aspek yang paling mikro sampai pada yang paling makro. Sebuah bangsa akan maju jika didukung oleh perusahaan-perusahaan yang kuat, dan didukung oleh SDM yang juga kuat, keilmuannya, skilnya, komitmen kerjanya, kinerjanya dan juga dedikasinya.

Puasa Ramadhan Untuk Peningakatan Ketakwaan

Puasa ramadhan adalah ibadah murni, yang memiliki multi kebaikan untuk peningkatan diri sebagai hakikat atau inti dari ketakwaan. Takwa tidak semata diukur dengan frekwensi pelaksanaan ibadah shalat, volume pembayaran zakat, shadaqah dan infaq, tapi takwa yang juga diukur dengan proses spiritualisasi karya-karya profesi. Seorang yang sedang berpusas, dia sedang dekat dengan Tuhan, karena sedang berasosiasi padaNya dengan melakukan tiga (3) yang Dia lakukan, yakni tidak makan, tidak minum, dan jaga di sepanjang malam (bagi waktu manusia). Kedekatan dengan Tuhan tersebut bisa ditarik untuk semakin memperkuat spiritual karya profesi. Jika kita bekerja penuh kejujuran karena ingin membangun kepercayaan perusahaan, ingin memperkuat kepercayaan client, ingin memperkuat laba perusahaan, dan ingin memajukan perusahaan secara keseluruhan. Pada saat ramadhan, kita bisa tambah satu values baru, yakni kerja serius kita ini benar-benar dilakukan karena perintah Allah, dikerjakan bersama Allah dan didedikasikan untuk Allah. Dengan demikian, sebenarnya orang beriman yang imannya kuat, pasti kinerjanya baik, komitmen kerja tinggi, akuntabel, dan pasti berbuat terbaik untuk kolega dan pimpinan perusahaan.

Demikian pula dengan kinerjanya, kinerja baik bukan sekedar untuk finger print yang cukup, tapi karena Allah sangat tahu terhadap apa yang kita fikirkan terhadap perusahaan kita. Orang yang memiliki integritas yang baik untuk memajukan perusahaan, Allah akan memberikan penilaianNya sebagai perbuatan baik yang bisa meningkatkan ketakwaan kita kepadaNya. Seorang muslim yang bekerja dengan dasar pelaksanaan perintah Allah, akan memperlihatkan kedisiplinan yang baik, produktifitas yang baik, dan juga akan secara efektif dan efisien memanfaatkan waktu produktinya untuk bekerja memajukan perusahaan.

Komitmen bekerja, integritas kinerja, peningkatan kejujuran dan peningkatan komitmen pada peningkatan perusahaan melalui peningkatan kepercayaan perusahaan di mata client, dan peningkatan laba perusahaan, ketika sudah dinaikkan satu tingkat pada Tuhan, maka itu semua akan menjadi amal karya yang baik untuk meningkatkan ketakwaan kita pada Allah. Dengan demikian, ketakwaan puasa tidak saja diukur dengan frekwensi ibadah shalat, tidak saja diukur dengan semakin panjang ibadah malam, dan juga bukan diukur dengan frekwesni baca al-Qur’an, tapi juga diukur dengan mengangkat karya profesi kita menjadi karya yang didedikasikan pada Allah. dengan demikian, kekuatan motivasi dan kekuatan kontrol ada pada Tuhan. Inilah hikmah ibadah puasa untuk peningkatan kejujuran dan kedisiplinan pegawai. Wallahu A’lam

Rujukan

Avin Fadilla Helmi. (1996). Disiplin Kerja. Yogyakarta : Buletin Psikologi tahun IV No.2 Edisi Khusus

Sinungan, M. 1997. Produktivitas Apa dan Bagaimana. Bumi Aksara, Jakarta
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Baca Juga

May Day 2017, Buruh di Tangsel Gelar Pertandingan Futsal

Hari buruh nasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei mendatang akan di meriahkan dengan adanya ...

madr0s1d.com