Home Berita AirNav Indonesia Ambil Alih Layanan Navigasi di 28 Bandara

AirNav Indonesia Ambil Alih Layanan Navigasi di 28 Bandara

0

Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pengalihan layanan navigasi penerbangan 28 Bandara.

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan oleh Direktur Utama AirNav Indonesia, Novie Riyanto, dengan Kepala Daerah dan Pimpinan Badan Hukum Indonesia, dalam hal ini perusahaan-perusahaan swasta yang mengelola bandaranya masing-masing di Kantor Pusat AirNav Indonesia di Jalan Juanda, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Rabu (24/5/2017).

“MoU seputar bidang operasi dan teknik, SDM, serta aset dan keuangan. AirNav Indonesia akan melayani navigasi penerbangan pada 28 lokasi Bandara tersebut,” ujar Novie.

Dijelaskannya, pengalihan layanan navigasi penerbangan ini untukmenjamin keselamatan dan meningkatkan efisiensi penerbangan di Indonesia.

“Kami akan segera melakukan asesmen terhadap 28 Bandara tersebut dan memastikan layanan navigasi penerbangan yang diberikan mengikuti standar dan aturan yang berlaku sesuai dengan kategori Bandara masing-masing,” paparnya.

Dia menambahkan, hal-hal teknis dan detail lainnya akan dituangkan ke dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Dengan penandatanganan MoU yang dilakukan hari ini, AirNav Indonesia telah memiliki dasar hukum yang kuat untuk mengelola dan memberikan layanan navigasi penerbangan pada 28 Bandara yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta tersebut.

AirNav Indonesia secara bertahap diamanatkan untuk mengambil alih layanan navigasi penerbangan pada Bandara yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Pemerintah Daerah dan Badan Hukum Indonesia (swasta) sebagaimana tertuang di dalam Surat Direktur Jenderal Perhubungan Udara nomor : AU.308/10/8/DRJU.DNP-2015.

Bandara yang dikelola oleh Dirjen Perhubungan Udara yang masuk di dalam MoU tersebut berjumlah 17 Bandara, yakni:

  1. Bandara Alas Lauser-Kutacane
  2. Bandara Liwue Bunga-Pulau Larat
  3. Bandara Gebe-Halmahera Tengah
  4. Bandara Lereh-Keerom
  5. Bandara Nop Goliat Dekai-Yahukimo
  6. Bandara Aboy-Pegunungan Bintang
  7. Bandara Fawi-Puncak Jaya
  8. Bandara Borome/Borme-Oksibil
  9. Bandara Ransiki-Manokwari
  10. Bandara Blangkejeren-Gayu Lues
  11. Bandara Letung-Anambas (Tanjung Pinang)
  12. Bandara Luban
  13. Bandara Sobaham-Yahukimo
  14. Bandara Iwur
  15. Bandara Miangas-Kepulauan Sangihe Talaud
  16. Bandara Maratua-Kepulauan Derawan, Berau
  17. Bandara Teraplu-Papua.

Adapun Bandara yang dikelola oleh Pemerintah Daerah berjumlah delapan Bandara, yakni:

  1. Bandara Syekh Hamzah Fansury-Singkil
  2. Bandara Kuala Batu-Blang Pidi
  3. Bandara Malikus Saleh-Lhokseumawe
  4. Bandara Tempuling-Indragiri Hilir
  5. Bandara Pinang Kampai-Dumai
  6. Bandara Nusawiru-Pangandaran, Ciamis
  7. Bandara Noto Hadinegoro-Jember
  8. Bandara Pusako Anak Nagari/simpang Ampek/Laban-Pasaman Barat.

Sedangkan Bandara yang dikelola oleh Badan Hukum Indonesia berjumlah tiga Bandara yaitu:

  1. Bandara Dirung-Puruk Cahu-PT In-domuro Kencana
  2. Bandara Tanjung Bara, Sangata-PT Kaltim Prima Coal
  3. Bandara Bintan-PT. Bintan Aviation Investments

Sebelumnya di awal tahun 2017 AirNav Indonesia juga menerima pengalihan layanan navigasi penerbangan di enam Bandara, yang terdiri dari empat Bandara yang dikelola oleh TNI AU, satu Bandara yang dikelola oleh perusahaan swasta dan satu Bandara milik Pemerintah Daerah.

Terakhir, pada 15 Mei lalu AirNav Indonesia juga telah melakukan penandatanganan MoU dengan Pemerintah Kota Pagar Alam untuk mengelola layanan navigasi penerbangan di Bandara Atung Bungsu.

Novie mengatakan bahwa di usia AirNav Indonesia yang belum genap lima tahun, ke-percayaan dari para stakeholder penerbangan di negeri ini cukup tinggi.

AirNav Indonesia yang saat ini mengelola 275 Cabang yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara akan terus berupaya untuk meningkatkan layanan navigasi penerbangan yang menjamin keselamatan dan efisiensi.

“Melalui berbagai program investasi dan inovasi, kami akan berusaha maksimal untuk berkontribusi dalam membangun konektivitas sektor perhubungan udara. Tak hanya di bandara-bandara besar, bandara terpencil juga akan mendapatkan perhatian serupa demi menekan disparitas harga dan menggerakan roda perekonomian masyarakat,” ujarnya.

“Melalui kolaborasi dengan seluruh stakeholder pen-erbangan, kami sangat yakin sektor perhubungan akan memegang peranan krusial da-lam pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (Rmt)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here