Home Berita Menhan: Tak Ada Negara Mampu Hadapi Ancaman Keamanannya Sendirian

Menhan: Tak Ada Negara Mampu Hadapi Ancaman Keamanannya Sendirian

0

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, menghadiri “The 5th Putra Jaya Forum” di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 16-17 April 2018.Dalam Putra Jaya Forum Ke-5 tahun 2018, Menhan Ryamizard berkesempatan menyampaikan pandangan dalam acara tersebut dan mengangkat tema : “Regional Security Crescendos and its Implication on Stability atau Keamanan kawasan regional Crescendos dan implikasinya terhadap stabilitas”, pada sesi pertama plenary ini.

Menhan Ryamizard, mengatakan, Indonesia memandang perlunya negara-negara kawasan Indo-Pasifik untuk bersama-sama membesarkan persamaan yang ada dan juga bersama-sama mengecilkan perbedaan yang selama ini dapat melemahkan hubungan persaudaraan. Sehingga hal ini akan lebih memperkuat persaudaaraan kerjasama yang ada sejalan dengan the spirit of asean dan spirit of asean plus.

“Sehingga pada akhirnya kita semua dapat menyelesaikan setiap persoalan dan perbedaan yang ada dengan semangat perdamaian dan persatuan,” kata Menhan Ryamizard Ryacudu di Kualalumpur, Senin (16/4/18).

Menhan melanjutkan, sebagai bangsa yang berada di kawasan ASEAN memiliki prinsip dasar dan tujuan hidup yang sama sebagai manusia yaitu keinginan untuk mewujudkan kawasan yang damai, aman dan sejahtera.

Menurut Menhan, komitmen dan budaya ASEAN yang juga dikenal dengan “ASEAN Way” ini juga menjadi fondasi utama didalam membangun kerjasama pertahanan sekaligus sebagai arah utama didalam mengkalibrasi ulang arsitektur keamanan demi terwujudnya kawasan yang stabil, aman dan damai.

Sebagaimana sebuah pepatah, mengatakan, bahwa arsitektur dimulai ketika ada dua batu bata yang mulai disatukan dengan mempertimbangkan tujuan dan keunikan tertentu. Oleh karena itu, lanjut Menhan Ryamizard, dalam merumuskan kalibrasi ulang arsitektur keamanan kawasan kita perlu selalu mengacu pada kondisi aktual potensi ancaman kawasan masa kini dan masa yang akan datang.

Hakekat tantangan dan ancaman ASEAN pada masa kini berbeda dengan ancaman yang kita hadapi 51 tahun lalu dan ancaman tersebut selalu bervolusi secara terus menerus sejalan dengan perkembangan geopolitik lingkungan strategis yang dinamis dan selalu berubah sejalan dengan trend kompetisi global antar kepentingan aktor negara dan aktor bukan negara.

Dikatakan, kecenderungan lingkungan strategis kawasan saat ini sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian yang terkait dengan isu-isu ekonomi, politik, dan keamanan serta adanya upaya perebutan pengaruh dari negara-negara besar untuk dapat terlibat langsung dalam berbagai bentuk kerjasama dalam kerangka arsitektur Indo Pasifik termasuk didalamnya dalam konteks Platform Kerjasama ASEAN.

Jarak antar negara sekarang, bukan merupakan penghalang lagi, sementara sifat ketergantungan antar negara dan bangsa semakin besar. Kedepan ancaman tidak lagi bersifat konvensional atau perang terbuka antar negara, tetapi lebih bersifat ancaman realistik benturan kepentingan yang mengatasnamakan ideologi tertentu dari kelompok atau golongan atau aktor non Negara yang merasa termajinalisasi oleh keadaan.

“Hal inilah yang menyebabkan munculnya fenomena ancaman baru yang sering saya sampaikan dalam berbagai forum dengan sebutan ancaman Nyata,” ucapnya.

Ancaman nyata ini, kata Menhan, bersifat lebih dinamis dan multi dimensional baik berbentuk fisik maupun nonfisik yang dapat muncul dari dalam atau dari luar suatu negara seperti terorisme dan radikalisme, separatisme dan pemberontakan bersenjata, bencana alam dan lingkungan, pelanggaran wilayah perbatasan, perompakan dan pencurian sumber daya alam dan mineral serta penyelundupan bersenjata, wabah penyakit, peredaran dan penyalahgunaan Narkoba, perang siber dan intelijen.

Selanjutnya, tambah Ryamizard, dalam era perkembangan modernisasi dan globalisasi ini, disamping ancaman-ancaman berbentuk fisik seperti sebagaimana yang saya sebutkan diatas, kita juga menghadapi ancaman Non-Fisik yang relatif lebih besar khususnya ancaman yang pada gilirannya dapat mengancam keutuhan dan persatuan Kawasan.

Dikatakan lagi, ancaman dan tantangan tersebut berupa kekuatan “soft power” yang berupaya untuk merusak “mindset” masyarakat di kawasan kita yang saat ini populer dengan istilah proxy war yaitu suatu bentuk perang jenis baru yang mempengaruhi hati dan pikiran rakyat dengan tujuan untuk membelokkan pemahaman dan perilaku masyarakat agar mengikuti kehendak dari aktor yang berada dibalik layar tersebut.

“Jangankan kawasan yang sarat dengan berbagai perbedaan, Sebuah negara yang memiliki Ideologi yang kuat pun sangat mudah dipecah belah oleh kekuatan ini,” ucap Menhan Ryamizard.

Secara fisik, lanjutnya lagi, ASEAN memiliki modalitas kekuatan yang dapat menjadi efek getar pertahananan dikawasan yang saat ini ada sekitar 569 juta penduduk di ASEAN, dari jumlah tersebut terdapat sekitar 2.644.710 kekuatan militer aktif. Dengan jumlah efektif tersebut diatas, ASEAN memiliki kekuatan yang maha dasyat yang mampu menangkal berbagai potensi ancaman dan gangguan bersama di kawasan ini.

Disamping itu, guna mengatasi potensi ancaman non-fisik yang bertujuan untuk merusak mindset masyarakat ASEAN, maka perlu terus berkomunikasi dan bertukar pikiran secara rutin dan terarah melalui mekanisme konsultasi strategis yang sudah ada seperti forum Pertemuan para Menhan dalam Forum ADMM Retreat, ADMM Plus, Forum Shangrila Dialog serta bentuk konsultasi terkait lainnya seperti Forum Putrajaya yang sangat prestius ini.

Menhan Ryamizard, menyampaikan, saat ini dunia masih diwarnai dengan adanya empat isu aktual keamanan serius yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Keempat isu tersebut adalah isu Korea Utara, perkembangan Laut China Selatan, Isu Trilateral Pengamaanan Laut Sulu dari potensi ancaman ISIS Asia Timur serta Perkembangan Krisis Rohingya.

Terkait Isu ketegangan di semenanjung Korea, Indonesia mengajak semua pihak untuk dapat menahan diri dan tidak terprovokasi dengan situasi yang dapat memicu eskalasi konflik, marilah kita bersama–sama mengajak Perserikatan bangsa-Bangsa (PBB) untuk dapat mengambil langkah-langkah produktif dan konkrit untuk dapat lebih menekan Korea Utara agar dapat lebih menghormati Hukum dan Norma serta tatanan Internasional.

Disisi lain, situasi ketegangan Laut China selatan yang cenderung mereda dan membaik perlu terus kita pelihara momentum-nya agar tetap kondusif di-dalam mengakomodasi kepentingan Strategis kita bersama di kawasan ini. Kita juga perlu mengapresiasi niat baik China yang sdh membuka diri dan berkeinginan untuk bekerjasama dalam memperkuat arsitektur keamanan kawasan.

Menurutnya, di kawasan Asia Tenggara, Filipina Selatan telah dijadikan sebagai salah satu basis kekuatan ISIS yang ikut memicu aksi-aksi teror lain di kawasan Asia Tenggara. Kelompok ini terus berencana untuk membangun Daulah Islamiyyah Katibah Nusantara yang merupakan aliansi dari Divisi Islamic State Asia Timur yang merupakan penggabungan antara Islamic State Phillipines, Islamic State Malaysia dan Islamic State Indonesia dibawah kendali struktur ISIS Pusat yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi yang berbasis di Syria dan Irak.

“Guna mengatasi potensi ancaman terorisme dan radikalisme ini, maka Indonesia bersama negara lainnya yaitu Filipina dan Malaysia sudah mengambil langkah-langkah kerja sama yang konkrit melalui pembentukan Platform kerja sama Trilateral di Laut Sulu yang diisi dengan kegiatan patroli bersama yang terkordinasi baik di laut maupun udara, serta ke depan akan ditingkatkan dengan kegiatan patroli bersama di darat,” papar Menhan.

Tujuan utama dari kerjasama trilateral ini adalah untuk membendung dan mengelimir pengaruh dan infiltrasi ISIS yang akan masuk ke kawasan kita yang berbatasan dengan Laut Sulu.

Untuk lebih memperkuat system pengawasan dan deteksi dini terhadap potensi berkembangnya ancaman ISIS di kawasan, Menhan Ryamizard telah mengeluarkan satu inisiatif platform kerja sama baru yaitu konsep Kerjasama pertukaran Intelijen strategis dengan nama “Our Eyes”.

Konsep ini mirip dengan konsep Five Eyes negara barat yang melibatkan unsur kerja sama Pertahanan/Militer dan Jaringan Intelijen secara terintegrasi. Konsep ini adalah murni kerjasama untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisme di kawasan tanpa ada agenda Politik didalamnya.

“Konsep ini telah didukung secara aklamasi oleh para Menhan ASEAN serta beberapa negara mitra seperti Amerika Serikat, Australia, Rusia dan Jepang menyatakan keinginannya untuk bergabung,” ujar Ryamizard.

Saat ini di kawasan ASEAN setidaknya terdapat tiga area kerja sama maritim yang menjadi sorotan dunia, yakni Patroli Terkoordinasi Selat Malaka, kerja sama maritim negara-negara di kawasan Teluk Thailand dan kerja sama Trilateral di Laut Sulu.

Ketiga bentuk kerja sama tersebut rencananya akan diperluas dengan melibatkan negara-negara ASEAN lainnya khususnya Myanmar serta negara mitra ASEAN seperti Amerika Serkat, Australia, Jepang serta negara-negara lain. Perluasan kerja sama ini sangat diperlukan untuk menciptakan konektivitas kerja sama antar platform kerjasama sub-regional.

“Saya yakin bahwa tidak ada satu negarapun yang dapat menghadapi dan menyelesaikan tantangan dan ancaman keamanannya sendiri. Dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki suatu negara, maka tidak dapat dihindari perlunya kerjasama antar negara-negara di kawasan dalam menghadapi ancaman-ancaman keamanan ini secar bersama -sama,” papar Menhan Ryamizard.

Oleh karena itu, tambah Menhan lagi, kunci utama dalam merespon terhadap berbagai bentuk tantangan dan ancaman keamanan bersama baik ancaman fisik dan non fisik yang dapat memecah persatuan adalah sebuah resolusi melalui pembangunan arsitektur keamanan yang efektif dan tepat sasaran yang diperkuat dengan mekanisme konsultasi keamanan bilateral dan multilateral yang dilakukan secara rutin dan terus menerus. (Mrz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here