Home Bandara Polresta Bandara Soetta Ungkap Kasus Pencurian Barang Ekspor

Polresta Bandara Soetta Ungkap Kasus Pencurian Barang Ekspor

0

Jajaran Satuan Reskrim Polres Kota Bandara Soekarno-Hatta meringkus komplotan pencurian barang garmen yang akan di ekspor ke luar negeri.

Kali ini, sebanyak lima orang berhasil dibekuk, yakni W, AS, YS, AF, dan S setelah melakukan pencurian barang ekspor berupa garmen milik PT Daedong Internasional.

Kapolresta Bandara Soekarno-Hatta, Kombes Pol Victor Togi Tambunan mengatakan, pencurian tersebut bermula ketika PT Daedong Internasional hendak mengirim barang sebanyak 2,2 ton menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) bekerjasama dengan PT Trans Utama Indokarya yang merupakan sebuah perusahaan forwarder.

“Perusahaan forwarder ini memang tidak memiliki kendaraan pengangkut sehingga pihak perusahaan ini menghubungi AF untuk menyediakan kendaraan pengangkut,” kata Kombes Pol Tambunan di Mapolresta Bandara Soetta, Tangerang, Jumat (22/2/2019).

Saat diminta menyediakan kendaraan, AF pun menghubungi AS dan W selaku pemilik kendaraan. Atas perintah AS, S dan YS pun berperan menjadi supir yang akan mengantarkan barang garmen tersebut dari Ciawi, Jawa Barat menuju Bandara Soetta.

“Ditengah perjalanan, AS menghubungi S dan YS untuk membelokkan kendaraannya ke daerah Cilebut, Bogor,” ungkap Tambunan.

Sesampainya di daerah Cilebut, para pelaku mengeluarkan barang garmen yang berada di dalam beberapa kardus sebanyak 993 piece atau kurang lebih 440 kilogram barang merk Asisc. Sedangkan sisanya diantar ke Bandara Soetta.

“Namun saat di Bandara Soetta belum ada kecurigaan, saat barang tersebut sampai di Korea baru penerima komplain, dan dilakukan lah pelaporan ke Polres Bandara,” beber Tambunan.

Saat melakukan penyelidikan diketahui supir yakni YS dan S melakukan pencurian berkomplot dengan ketiga pelaku lainnya. Dari pengakuan para pelaku diketahui barang hasil curiannya tersebut dijual seharga Rp 45 juta.

“Pelaku dijerat dengan pasal 363 KUHP ayat 1 dengan ancaman hukuman maksimal 7 Tahun penjara, sementara penadahnya masih DPO,” tandas Tambunan. (Rmt)