Home Bandara Ratusan Warga Rawa Rengas Unjuk Rasa di Perimeter Utara Bandara Soetta

Ratusan Warga Rawa Rengas Unjuk Rasa di Perimeter Utara Bandara Soetta

0

Sedikitnya 100 warga Desa Rawa Rengas, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang berunjuk rasa di depan Jalan Perimeter Utara Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Jumat (1/3/2019).

Mereka berkumpul meminta percepatan ganti kerugian lahan atau bangunan mereka yang terdampak pembangunan Landasan Pacu atau Runway 3 Bandara Soetta.

Saat ini ganti kerugian lahan dan bangunan milik mereka telah dititipkan atau dikonsinyasi ke Pengadilan Negeri (PN) Tangerang.

Koordinator aksi, Wawan Setiawan mengatakan, warga RT 15 Desa Rawa Rengas menginginkan agar proses konsinyasi dapat segera diselesaikan.

“Kalau poin enggak berubah dari dulu. Kami minta selesaikan pembayaran masyarakat yang masih tersisa. Terutama di wilayah RW 15 dan 18. Ada total 63 bidang dengan total bangunan 150 bangunan,” kata Wawan kepada tangerangonline.id.

“Kami menginginkan supaya proses di pengadilan ini bisa di percepat. Kalau kami yang punya ,tidak mungkin menggugat tanah sendiri, masa kami gugat tanah sendiri,” tambahnya.

Lebih lanjut Wawan mengatakan, pembangunan Runway 3 terus berlangsung sementara sebagian warga yang terdampak pembebasan khususnya di RT 15 belum mengetahui kejelasan ganti kerugian atas tanah dan bangunan mereka.

“Silahkan yang mengklaim tanah kami diselesaikan. Kami mohon pejabat dan pemerintah mendorong.
Sementara disini pembangunan terus berjalan,” keluh Wawan.

Unjuk rasa yang awalnya aksi damai ini berakhir dengan penutupan Jalan Perimeter Utara yang baru saja dibuka untuk umum pukul 06.00 WIB pagi tadi.

“Sama seperti jalan parameter Utara yang baru dibuka.
Baru juga 30 menit dibuka terjadi kecelakaan sehingga warga marah, tadinya ijin kami hanya demo ini. Malah jadi nutup jalan karena korban (laka lantas) merupakan warga kami yang mau kerja,” kata Wawan.

“Ini yang tadi membuat warga sepakat aksi di pinggir jalan malah jadi nutup jalan. Karena memang belum ada rambu yang dipasang. Kalau engga ditutup akan anarkis nantinya. Kalau sekarang kita tutup pakai kayu aja sama warga,” tambahnya.

Menurut Wawan, penutupan jalan Perimeter Utara tersebut karena kemarahan warga. Dirinya pun meminta agar marka dan rambu pada jalan tersebut dilengkapi serta dibuatkan sarana pendukung lainnya.

“Jadi kami minta sebelum ada marka jalan dan rambu untuk nanti anak kami sekolah, kami minta jangan dibuka dulu karena itu akses keamanan warga harus di nomer satukan,” pungkasnya. (Rmt)