Home Berita Operasi Prostitusi Berkedok Karaoke Bocor, Hanya 2 PSK yang Terjaring

Operasi Prostitusi Berkedok Karaoke Bocor, Hanya 2 PSK yang Terjaring

0

Sedikitnya 110 petugas gabungan menggerebek empat lokasi yang diduga sebagai sarang bisnis prostitusi berkedok karaoke, di Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (18/9/2019) dini hari.

Dari empat lokasi itu petugas hanya mendapatkan puluhan botol minuman keras (miras) dan 2 orang wanita yang diduga sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK).

Menurut Camat Cikupa, Hendar Herawan, operasi yang telah digelar 5 kali itu diduga bocor, karena hasil yang diharapkan tidak maksimal. Bisnis prostitusi berkedok karaoke ini sudah meresahkan masyarakat di wilayahnya.

Hendar menjelaskan, sebanyak empat lokasi hiburan di Kelurahan Bunder didatangi petugas gabungan dalam waktu yang bersamaan. Bahkan di salah satu lokasi petugas hanya mendapatkan barang bukti berupa miras saja.

“Mereka mengendus kabar dari masyarakat bahwa kegiatan mereka itu akan didatangi oleh orang, sehingga dari mereka tidak melaksanakan aktivitasnya. Tetapi di tim 1 tadi terjaring miras dan dua orang wanita yang diduga pelaku atau pendamping di kegiatan karaoke tersebut, tim 3 dan 4 juga sama ketika didatangi tempat karaokenya itu dalam posisi tutup,” jelas Hendar.

Hendar mengatakan, dua wanita yang diduga melakukan tindakan asusila ini langsung dibawa petugas ke panti Dinas Sosial (Dinsos) setempat di Kecamatan Jayanti untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut dan dilakukan pembinaan.

“Kegiatan malam hari ini juga kami langsung menyegel tempat-tempat yang kita datangi, dan kami akan menertibkan bangunan-bangunan liar itu sesuai mekanisme yang berlaku. Kemudian kami juga akan mengundang para pemilik tanah itu supaya tanahnya dimanfaatkan dan diberdayakan agar kegiatan itu tidak ada lagi,” tegasnya.

Hendar memastikan bahwa karaoke tersebut tidak memiliki izin dari pemerintah setempat, dan operasi itu juga merupakan tindaklanjut dari 5 kali kegiatan dilokasi yang sama. Akan tetapi bisnis itu muncul kembali setelah dilakukan penertiban.

“Masyarakat itu sudah menolak kegiatan itu, karena dapat merusak generasi yang akan datang apalagi disitu ada miras,” tandasnya. (Rmt)