Home Home Stres Pada Kehamilan

Stres Pada Kehamilan

0

Oleh: Dr. Nasrudin.Sp.OG, Klinik Dr.Nas, Jalan Raya Pakuhaji, Sepatan.

Kehamilan merupakan suatu hal yang membahagiakan dan sangat ditunggu-tunggu oleh pasangan suami istri. Bayangan akan kehadiran seorang bayi di tengah keluarga tentu sangat menyenangkan. Namun seringkali stres terjadi pada ibu hamil.

Seorang wanita hamil sangat rentang untuk mengalami stres. Hal ini dikarenakan perubahan hormon di tubuhnya yang memicu perubahan mood yang tiba-tiba. Saat sedang stres, tubuh akan menganggap ada suatu bahaya yang harus direspon.

Saat stres, tubuh memproduksi hormone kortisol dan hormon stres lainnya. Stres yang berlangsung terus menerus dapat mengubah sistem manajemen stres tubuh, menyebabkan tubuh bereaksi berlebihan dan memicu respon inflamasi (peradangan). Inflamasi berhubungan dengan menurunnya kesehatan kehamilan dan masalah perkembangan janin dalam rahim ibu.

Beberapa masalah yang terjadi jika ibu hamil mengalami stres:
Berdampak kepada tumbuh kembang bayi. Ibu hamil yang tidak mampu mengatasi stres dengan baik berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah dan lahir prematur.

Mempengaruhi perkembangan otak janin. Seorang wanita hamil yang mengalami stres berlebihan akan bisa menyebabkan terganggunya otak janin. Proses pembentukan otak janin bisa terganggu yang selanjutnya bisa mempengaruhi masalah pertumbuhan otak janin.

Berkurangnya pasokan oksigen untuk janin. Ketika ibu hamil merasakan kecemasan, tubuhnya akan memproduksi hormon stres yang bisa berdampak kepada janin, yaitu epinephrine dan norepinephrine. Produksi kedua hormon tersebut secara berlebihan dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan mengurangi suplai oksigen ke rahim.

Akibatnya dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kesehatan janin bayi mudah sakit. Ibu hamil yang sedang stres pasti mengalami rasa panik, cemas, tegang dan khawatir yang berlebihan. Kondisi ini jika dialami oleh wanita hamil juga akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh pada bayi yang dikandungnya melemah. Biasanya, sistem kekebalan tubuh yang rendah ini baru dapat dilihat ketika bayi menginjak usia 6 bulan.

Menimbulkan gangguan perilaku pada anak. Dampak stres bagi wanita hamil tidak hanya terjadi pada saat wanita hamil, melainkan juga akan berdampak jangka panjang. Hal inilah yang harus diwaspadai. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami stres atau depresi selama masa kehamilan, memiliki resiko 1,5 kali lebih tinggi untuk mengalami depresi ketika usianya menginjak 18 tahun. Bahkan, anak tersebut berpotensi mengalami gangguan emosi, seperti menunjukkan perilaku yang agresif.

Cara Mengatasi Stres Saat Hamil
Beberapa langkah penanganan stres berikut dapat membantu ibu hamil untuk lebih tenang dalam menghadapi kehamilan dan persalinan, serta mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu.
Bertukar pikiran dapat membuat ibu hamil merasa lebih baik. Ceritakan apa yang dicemaskan kepada pasangan. Berbagi pengalaman dengan sesama ibu hamil juga dapat membantu.

Istirahat yang cukup dapat membantu mengurangi rasa stres. Berolahraga dengan olahraga ringan seperti berenang dan berjalan-jalan aman untuk dilakukan oleh ibu hamil. Kegiatan ini dapat membantu memperbaiki suasana hati.

Pola makan yang baik. Makanan sehat diperlukan untuk kesehatan fisik sekaligus psikis ibu dan janin. Upayakan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung omega 3, protein, karbohidrat, vitamin dan mineral seperti asam folat dan zat besi yang cukup. Selain itu, pastikan untuk meminum air putih minimal 8 gelas per hari.

Selain itu, dukungan dari keluarga, teman dan orang sekeliling sangat dibutuhkan. Hindari pertengkaran sekecil apapun agar tidak menambah beban pikiran dan usahakan untuk selalu berpikir positif.(*)