Home Home Memahami dan Mengungkapkan Tonsea Dalam Dinamika Zaman Melalui Perspektif Sejarah

Memahami dan Mengungkapkan Tonsea Dalam Dinamika Zaman Melalui Perspektif Sejarah

0

Oleh: Dr Yuda B Tangkilisan, Departemen Ilmu Sejarah FIBUI.

Dewasa ini perkembangan dan perubahan di berbaga bidang kehidupan berlangsung dengan cepat. Salah satu penyebab utamanya adalah kemajuan teknologi yang semakin mempersempit jarak komunikasi antar manusia dan memudahkan berbagai kegiatan masyarakat.

Teknologi pula menjadi ukuran dan pencapaian dalam perlombaan kemajuan antar bangsa. Berkenan dengan kehidupan bernegara dan berbangsa, interaksi yang intensif dan cepat itu menimbulkan gelombang pengaruh global, yang berasal dari pusat-pusat pertumbuhan dunia,sehingga menimbulkan berbagai kekawatiran terhadapkeutuhan kehidupan masyarakat bangsa. Bahkan, ada karya yang meramalkan akhir dari negara bangsa (nation-state) karena komunikasi dan interaksi terutama di bidang perekonomian melampau dan melintasi batas-batas negara dan meninggalkan identitas kebangsaan.Lalu, ada pendapat yang mengumandangkan situasi dunia yang menjadi datar (the world is flat) dan warga dunia (world citizen) yang memperlihatkan jaringan dan jalinan global yang semakin menguat dan berpengaruh.

Namun, keadaan dan perkembangan negara bangsa menunjukkan gejala penguatan dan konsolidasi. Perang ideologi semasa Perang Dingin telah berakhir, akan tetapi pemanfaatan ideologi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara semakin menonjol, yang agak berlawanan dengan perkiraan dan pengamatan dari pandangan Sejarah Berakhir (the end of history).

Tanggapan terhadap perkembangan dan perubahan global umumnya bersifat nasional dan etnosentrisme. Persatuan dan kesatuan menjadi penting sebagai benteng dan perisai untuk tidak terbawa dan selanjutnya tergilas dalam persaingan internasional, terutama di bidang perekonomian yang didukung oleh kecanggihan teknologi. Dalam rangkaian revolusi industry yang bermula di Inggris pada pertengahan abad ke-18, zaman kini adalah revolusi industry 4.0 dan sedang melangkah ke tahap kemajuan berikutnya.

Tampaknya keadaan dan perkembangan bangsa-bangsa di dunia berlangsung tidak pada ritme dan kecepatan yang sama. Sejumlah bangsa tampak tertinggal dari bangsa-bangsa lainnya. Pada masapasca perang dunia kedua, keadaan internasional dibagi ke dalam beberapa pengelompokan berdasarkan tingkat perkembangan ekonomi, mulai dari istilah Utara dan Selatan hingga Dunia Ketiga (third world), kemudian istilah negara terkebelakang dan sedang berkembang (underdeveloped and developing countries), dan seterusnya. Indonesia, setidaknya sejak masa Orde Baru tergolong negara dunia ketiga dan sedang berkembang.
Bahkan sebelum keruntuhan Orde Baru, Indonesia diperkirakan menjadi macan Asia (Asian Tigers) yang mampu untuk memasuki tahap lepas landas (take off) dalam pembangunan ekonominya.

Di era millennia ketiga, Indonesia masih belum beranjak ke tahap kemajuan berikutnya, bahkan ada yang mengatakan bahwa tingkat perkembangan ekonomi dewasa ini masih berada di keadaan sebelum mengalami krisis besar tahun 1998. Untuk itu, bangsa Indonesia memerlukan kerja keras dan kerja keras untuk menggapai kemajuan yang dicita-citakan. Berbagai kontribusi diharapkan mampu untuk membawa bangsa dan negara ke tahap yang lebih baik dan maju lagi. Pada skala dan lingkup tertentu, Historiografi memiliki manfaat dan fungsi konstruktif serta positif untuk masyarakat, bangsa dan negara.

Tonsea adalah Minahasa
Menelusuri sejumlah sumber yang dapat dijangkau mencari, menemukan dan menyimpan Tonsea, sebagai sebuah kategori sosial dan budaya, tidaklah muddah. Terlebih banyak keterangan yang diperoleh berkenan dengan istilah Minahasa, karena memang Tonsea sebagai subetnik dan budaya terkait dengan dan merupakan bagian dari Minahasa, suatu pokok bahasan yang telah menghasilkan berbagai karya dari berbagai bidang. Kategori lainnya yang terkait sebagaimana dijumpai dalam penelusuran adalah dengan katakunci Menado atau Manado. Minahasa dan Menado seringkali dianggap identik dan tidak jarang difahami sebagai sinonim sehinggasaling dipertukarkan, seperti misalnya orangMenado adalah orangMinahasa.

Padahal arti sebenarnya tidak seperti itu karena kedua istilah itu memiliki makna dan konteks yangberbeda walau saling berkaitan erat dan pengaruh-mempengaruhi.
Itilsah Tonsea, sebagaimana istilah Minahasa dan Menado, merujuk ke beberapa ruang lingkup dan batasan. Tonsea memperlihatkan arti dan konteks mulai dari sub etnik, daerah administratif dan budaya, yang kesemuanya saling bertautan. Namun, suatu hal yang jelas bahwa Tonsea memperoleh banyak nuansa dan penjelasan dalam istilah Minahasa. Dalam proses pembentukan identitas Minahasa, Tonsea, sebagai subetnik, memiliki dan memainkan peranan tertentu yang mana dalam dinamika yang dialami dan dilakukan oleh etnis Minahasa ikut membawa dan mempengaruhinya.

Selanjutnya, dalam dinamika dan peranan Minahasa pada perjalanan dan perubahan sejarah, tampak bagaimana Tonsea juga ikut terbawa dalam pusaran perkembangan dan perubahan di tingkat yang lebih luas seperti daerah, nasional dan internasional. Dalam kronologi politik, Tonsea ikut dan berada dalam dinamika Minahasa di tingkat kolonial Hindia Belanda dan Indonesia, baik secara kelompok (ethnic group) maupun perseorangan (individual). Perlu ditelusuri dan didokumentasi tentang putera-puteri Tonsea yang berperanan dalam perkembangan dan perubahan kolonial dan nasional, bahkan internasional. Setelah berada dan terlibat dalam pembentukan Minahasa pada masa VOC, Tonsea hadir dalam proses pembentukan negara kolonial Hindia Belanda, dalam birokratisasi, militerisasi, kristenisasi dan edukasi. Melalui kristenisasi yang ditambah dengan penerimaan pendidikan Barat, etnis Minahasa mengisi jajaran birokrasi dan militer colonial. Berbekal itu pula, kazanah pergerakan nasional yang memperlihatkan kemunculan kesadaran dan kebangkitan kebangsaan, menampilkan juga sosok-sosok Minahasa hingga ke gerbang perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada masa pasca proklamasi kemerdekaan, Minahasa mengambil bagian dalam perjuangan revolusi, baik berada di jajaran birokrasi, militer maupun laskar, hingga di bidang lainnya seperti pers. Bahkan, peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 hampir tidak memiliki dokumentasi yang dapat diwarisi oleh generasi-generasi selanjutnya dan menjadi memori kolektif untuk identitas bangsa, jika tidak ada peranan Mendur bersaudara, dari kantor pemberitaan dan foto IPPHOS. Juga di kancah diplomasi, sejumlah tokoh Minahasa memberikan pengabdian dan sumbangsihnya hingga tercapai keputusan untuk pemberian (pengakuan) kedaulatan kepada Indonesia melalui Konperensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949. Pada masa-masa selanjutnya, orang Minahasa menghadapi tantangan dan permasalahan yang tidak ringan, terutama menyesuaikan diri dengan keadaan, perkembangan dan kecenderungan yang berlangsung, sebagai kelompok etnis yang termasuk mengenal dan mengalami pengaruh modernisasi yang lebih awal dan intensif. Bahkan seorang penulis mengatakan bahwa transformasi budaya Minahasa pada masa kolonial dalam proses westernisasi terjadi sangat mendalam sehingga hampir-hampir tidak menyisakan budaya tradisionalnya.

Proses pembaratan menghasilkan generasi dan lapisan sosial modern dalam struktur sosial kolonial yang berkesinambungan di masa selanjutnya sejalan dengan dekolonisasi. Permasalahan yang timbul adalah menghadapi indonesianisasi yang homogen dan hegemonik tanpa memberikan ruang untuk perbedaan dan keserasian. Bagi Minahasa, proses tersebut berari dewesternisasi yang tidak mudah untuk dilakukan dan dijalani. Padahal perkembangan pasca Perang Dunia Kedua, globalisasi semakin intensif dan meluas walaupun di bawah cakrawala persaingan dan pertentangan ideologi melalui Perang Dingin (Cold War). Peristiwa Permesta, dari perspektif dan konteks tertentu, dapat difahami sebagai tanggapan terhadap proses tersebut. Pada masa Orde Baru, prose situ berlanjut walau dalam ritme yang lebih persuasif. Namun ciri-ciri dan sikap anti Barat belum pupus seluruhnya. Minahasa melebur dalam proses pembentukan kebudayaan nasional yang tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya.

Eksplorasi Masa Silam Tonsea
Menjawab permasalahan untuk mengungkapkan masa lampau subetnis Tonsea, pembicaraan ini menawarkan metodologi berdasarkan kajian Sejarah dan temuan-temuan awal yang diperoleh. Kazanah penyimpanan informasi di Tanah-Air, yakni Arsip Nasional Republik Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menyimpan berbagai sumber tentang masa lampau Indonesia, yang mana Tonsea termasuk di dalamnya. Sumber arsip memiliki suatu koleksi tentang masa kolonial Hindia Belanda, suatu kurun waktu ketika identitas dan kualitas Tonsea, sebagai bagian dari Minahasa, terbentuk, bertumbuh dan berkembang selaras dengan perkembangan dan perubahan eksternal, seperti Memorie van Overgave der Residentie van Manado, Hoge Regeering dan Arsip Residensi Manado. Kemudian, PNRI memiliki berbagai surat kabar yang terbit ketika itu. Kebijakan kolonial di Minahasa ikut menjadi tajuk dan pemberitaan di lingkungan pers itu.

Pengkajian sub etnis tampaknya sesuai dengan pendekatan Sejarah Mikro (Micro History) yang memiliki ruang lingkup dan batasan spasial yang relatif terbatas seperti lokalitas tertentu. Kendala utama, sebagaimana yang sedikit banyak dikemukakan sebelumnya, permasalahan sumber dalam proses penyediaan data dan keterangan untuk diolah dan dianalisis memerlukan seperangkat metode heuristik. Pertama, Tradisi Lisan menyimpan berbagai kenangan, kisah dan cerita peninggalan leluhur dari generasi ke generasi yang tersimpan dalam ingatan sejumlah nara sumber penutur yang tidak jarang menyimpan kisah masa lampau. Memerlukan metode tersendiri untuk memilah dan menyibak fakta sejarah dalam kazanah budaya lisan tersebut. Berkenan dengan kurun waktu yang lebih dekat dengan masa kini, metode Sejarah Lisan (Oral History) merupakan sarana untuk mengumpulkan keterangan-keterangan yang diperlukan. Selanjutnya, perkembangan kajian Sejarah sejak beberapa dekade terakhir memperlihatkan perhatian dan keterlibatan publik yang berkepentingan dan bertalian dengan pekerjaan kesejarahan.

Perkembangan itu disebut sebagai Sejarah Publik yang merupakan upaya untuk mencari, mengumpulkan dan melestarikan berbagai peninggalan masa lampau yang terutama berada dan dimiliki oleh publik. Pendekatan berikutnya adalah penggunaan Sejarah Komparatif, yang bermanfaat untuk mengamati dan mencermati aspek dan permasalahan yang ditemukan dalam historiografi bandingan untuk ditelusuri dan ditelaah dalam penelitian yang dilangsungkan.

Untuk itu, di akhir pembicaraan ini beberapa usulan dan ajakan disampaikan. Pertama, kegiatan pengumpulan sumber-sumber yang bertalian dengan Tonsea perlu dimulai dan dikembangkan, diawali dengan membangun kesadaran sejarah bagi berbagai kalangan, terutama kaum muda agar tidak sirna dan pupus dalam perkembangan dan tantangan zaman. Kedua, seruan untuk kalangan intelektual Tonsea agar menuangkan pemikiran, kajian dan kenangannya dalam bentuk penulisan tidak sebagai peninggalan, namun terlebih lagi sebagai penjelasan atau malahan pertanggungjawaban untuk generasi yang akan datang, yakni mereka yang akan menghadapi persoalan dan tantangan yang lebih besar dan lebih hebat pada zamannya, sehingga dapat menjadi bekal dan ancang-ancang untuk pencarian jalan keluar dan solusinya. The last but not the least, sebuah pertanyaan dimunculkan apakah sudah saatnya untuk memikirkan, memprakarsai memulai suatu pendirian museum sejarah sebagai tonggak dan penanda memori kolektif bangsa.(MRZ)