Home Bandara Tingkatkan Efisiensi Penerbangan, Bandara Soetta Terapkan A-CDM

Tingkatkan Efisiensi Penerbangan, Bandara Soetta Terapkan A-CDM

0
Apron Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

BANDARA SOETTAAirport Collaborative Decision Making (A-CDM) dinilai sangat penting untuk segera diterapkan secara penuh di Indonesia untuk efisiensi dan efektifitas sektor penerbangan nasional.

Hal ini disampaikan oleh para stakeholder penerbangan nasional di dalam webinar Center for Strategic and Aviation Studies (CSAS) bertajuk Airport Collaborative Decision Making: Challenge and Opportunities yang digelar pada Jumat 10 Juli 2020 lalu.

Webinar tersebut menghadirkan pembicara dari berbagai stakeholder antara lain Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, ICAO Senior Expert Vic Van Der Westhuizen, VP Operational Planning & Control Garuda Indonesia Capt. Fanny Kawulusan dan VP ANS Data & Evaluation AirNav Indonesia Roy Johanis, serta dimoderatori oleh Atase Perhubungan Indonesia di Kanada / Alternate Representative of the Republic of Indonesia to ICAO Dr. Afan Sena.

Di dalam webinar, Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan, penerapan A-CDM memang tidak mudah namun dapat dilakukan dengan kolaborasi di antara stakeholder.

“PT Angkasa Pura II saat ini tengah dalam proses menerapkan A-CDM secara penuh di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sebelum nantinya diterapkan di bandara-bandara lainnya. Ada 13 tahapan untuk menerapkan A-CDM secara penuh, mulai dari pembentukan organisasi, menetapkan target, hingga memastikan keberlanjutan ketika nanti sudah diimplementasikan. Sejumlah tahapan-tahapan itu sudah kami selesaikan.”

“Terpenting adalah kolaborasi di antara stakeholder, tidak bisa lagi hanya menjadi konsep bagi operator bandara, maskapai, air navigation,” ujar Muhammad Awaluddin.

Soekarno-Hatta penuhi 3 objektif ACDM di Tengah COVID-19

Adapun saat ini Soekarno-Hatta (Soetta) sebetulnya telah menerapkan A-CDM namun belum secara penuh.

“Penerapan penuh A-CDM di bandara bertujuan untuk mencapai sebanyak 9 objektif. Saat ini, Soekarno-Hatta bersama dengan stakeholder antara lain AirNav Indonesia berupaya untuk mencapai 3 objektif: Meningkatkan prediktabilitas penerbangan, meningkatkan on time performance [OTP], dan menurunkan tingkat slot yang mubazir/tidak digunakan.”

“Sebanyak 3 objektif itu sangat penting diterapkan di tengah kondisi pandemi global COVID-19 sehingga di tengah tekanan ini sektor penerbangan dapat tetap meningkatkan efisiensi dan efektifitas penerbangan,” ujar Awaluddin.

Sementara itu, VP Operational Planning & Control Garuda Indonesia Capt. Fanny Kawulusan mengatakan, kunci utama penerapan A-CDM adalah mengoptimalkan sumber daya dan fasilitas yang ada di bandara.

“Sehingga menguntungkan bagi semua stakeholder baik dari airport operator, aircraft operator, air navigation, ground handler, yang ujung-ujungnya adalah kepuasan penumpang pesawat,” kata Capt. Fanny.

Ia menuturkan, implementasi A-CDM dapat menghasilkan berbagai peningkatan pelayanan mulai dari lebih singkatnya waktu taxi bagi pesawat, antrean yang lebih pendek untuk take off, menghemat bahan bakar, menurunkan kongesti di apron dan taxiway, hingga waktu yang lebih hemat dalam menggunakan gate untuk persiapan keberangkatan atau kedatangan.

Di dalam platform A-CDM, seluruh stakeholder penerbangan seperti operator bandara, maskapai, air navigation dan ground handling akan saling berbagai seluruh informasi dan data sehingga operasional setiap penerbangan dapat direncanakan dengan baik.

VP ANS Data & Evaluation AirNav Indonesia Roy Johanis di dalam webinar tersebut menuturkan, implementasi A-CDM melengkapi sistem Air Traffic Flow Management (ATFM) yang kini sudah diterapkan.

“ATFM dan A-CDM ini adalah dua hal yang berbeda. ATFM bertujuan me-manage demand dan capacity. Demand harus sesuai capacity, karena kalau demand melebihi capacity maka akan terjadi inefisiensi. Sementara, A-CDM bertujuan improve predictability dan optimize resource. Scope ATFM adalah airspace, sementara scope A-CDM adalah airport.”

“Fase dari ATFM adalah take off sampai landing, sementara Fase dari A-CDM lebih ke arah pergerakan di airport,” ujar Roy Johanis.

Adapun implementasi ATFM dan A-CDM dapat meningkatkan aspek keselamatan dan efisiensi di sektor lalu lintas penerbangan nasional yang diprediksi ke depannya berada di 5 besar dunia.

(Rmt)