Beranda Berita Kisah Elang Tempur Dari Sarang Petarung Lanud Iswahjudi

Kisah Elang Tempur Dari Sarang Petarung Lanud Iswahjudi

0

Kisah Elang Tempur Dari Sarang Petarung Lanud Iswahjudi

Oleh: MIRZA

Hari itu, Rabu, 23 Agustus 2023, mentari pagi telah menyinari Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi, ketika pesawat Hercules C-130 A1328 berkelir loreng hijau cokat milik TNI Angkatan Udara buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat, mendarat di pangkalan itu.

Di dekat main apron (naik-turun penumpang pesawat), tampak pesawat-pesawat legenda TNI AU dalam perang kemerdekaan bertengger dengan gagahnya di museum terbuka. Elang-elang itu terdiri dari MK-53 HS Hawk, T-33 T-Bird, TU-16 Bidger, Mig 17 Fresco, A-4 Sky Hawk dan pesawat F-86 Sabre.

Komandan Pangkalan Udara Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI Wastum, dengan ramah menyambut wartawan dengan jamuan makan di ruang VVIP pangkalan tersebut. “Selamat datang, Mas,” sapa Danlanud Iswahjudi, Marsma TNI Wastum saat menyalami tangerangonline.id dan para peserta “Press Tour Media Dirgantara 2023, Dispenau, Lanud Iswahjudi, Air Force, Towards a Respect Air Force”, sesaat sebelum masuk gedung VVIP.

Usai menikmati jamuan makan pagi menjelang siang itu, rombongan wartawan diajak meluncur ke Gedung “Air Combat Maneuvering Instrumentation” (ACMI) yang berada di kawasan Lanud Iswahjudi. ACMI merupakan fasilitas hasil latihan penerbang pesawat tempur, pesawat angkut dan helikopter. Di gedung yang megah ini, biasanya para pimpinan TNI AU dapat memonitor dan mengendalikan jalannya latihan dan manuver pertempuran udara secara “real time”. Setelah itu dilakukan analisa usai latihan digelar.

Disini juga, para penerbang tidak perlu lagi berlatih “dogfight” dengan amunisi tajam, karena ada teknologi ACMI yang membantu. Selain menghemat biaya, penggunaan ACMI dapat menghindari dari resiko tertembak. Dalam gedung ACMI itu, ada Ruang Theater 3. Biasanya gedung ini dipakai untuk “briefing” usai terbang. Disanalah, rombongan wartawan, mendapat penjelasan tentang pesawat tempur dan latih Lanud Iswahjudi dari Komandan Lanud Marsekal Pertama (Marsma) TNI Wastum bersama Kadispenau Marsma TNI R Agung Sasongkojati yang pernah menjadi penerbang di pangkalan ini.

“Kunjungan ini merupakan suatu kehormatan bagi kami dan kami berharap kedepan, kiprah satuan kami sebagai Home of Fighter dapat lebih terpublikasi oleh media dalam upaya mendukung tugas pokok TNI Angkatan Udara,” tutur Komandan Lanud Iswahjudi, Marsma TNI Wastum.

“Pesawat-pesawat tempur disini memiliki standarisasi dan standarisasi itu dari Amerika,” kata Marsma TNI Wastum.

Kadispenau Marsma TNI R Agung Sasongkojati yang akrab disapa “Sharky” itu, menyampaikan, Dispenau mengajak para jurnalis media cetak dan elektronik untuk melihat dari dekat kiprah dari satuan-satuan di Lanud Iswahjudi, agar tumbuh kecintaan masyarakat terhadap TNI AU dan dunia kedirgantaraan.

Danlanud Iswahjudi tak lama berada disana, ia mohon diri sejenak, karena pada jam yang sama harus mendampingi Komandan Korps Pasukan Gerak Cepat (Dankopasgat) TNI AU, Marsda TNI Wahyu Hidayat Sudjatmiko, yang baru tiba di Madiun dan akan melanjutkan perjalanan lewat darat. Ia menyerahkan kepada Komandan Wing Udara 3 Lanud Iswahjudi, Kolonel Penerbang Gusti Made Yoga Ambara (Yoga), untuk menjelaskan tentang beberapa Skadron dibawah naungan Lanud Iswahjudi. Peserta “Press Tour”, Sesdispenum Kolonel Sus Firmansyah, Kasubdispenum Kolonel Sus Sonaji Wibowo, Kasubdisdokprod Kolonel Sus Ayi Supriyadi dan para perwira Dispenau lainnya turut menyimak penjelasan perwira menengah penerbang tempur ini.

Satuan Wing Udara 3 Tempur dengan sesanti “Labda Gagana Nirwesti” menaungi Skadron Udara 3, Skadron Udara 14 dan Skadron Udara 15. Selain itu, di Lanud Iswahjudi ada Skadron Teknik (Skatek) 042, Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr Efram Harsana, Satuan Polisi Milter Angkatan Udara (Satpmau) dan Satuan Pertahanan Pangkalan (Sathanlan). Tak hanya itu, ada insub dari satuan-satuan itu yakni Depo Pemeliharaan 20, Depo Pemeliharaan 60, Depo Pemeliharaan 80, dan Batalyon Komando 463/Paskhas.

Komandan Wing Udara 3 Lanud Iswahjudi, Kolonel Penerbang Yoga, menyebutkan, salah satu tugas utama jajaran Wing 3 adalah pertahanan udara. Seluruh pergerakan dalam rangka menegakkan kedaulatan negara di udara dibawah Komando Operasi Udara II (Kopsud II).

“Beberapa kali jajaran Wing Udara 3 pernah menerima perintah untuk mengidentifikasi pesawat yang melanggar aturan di udara,” ungkapnya.

Wing Udara 3 juga menggelar latihan bersama (Latma) bersama Australia (Latma Ausindo), Latma Indopura dengan Singapura, Latma Malindo dengan Malaysia, “Joint Fighter Weapon Course”, Latma untuk kursus “Fighter Weapon Instructor” dengan Singapura dan Latma multinasional dengan Australia.

“Untuk latihan para penerbang pesawat tempur, dilakukan secara bertingkat dan berjenjang serta berkelanjutan, dimana setiap hari dilakukan latihan. Latihan dilakukan sebanyak 20 sampai 40 sorti (keluar), tergantung dari kebutuhan latihan sesuai dengan silabus yang ada,” beber Yoga kepada tangerangonline.id

“Pelatihan yang dilakukan Wing Udara 3 meliputi flight lead course, mission commander course, mission oriented training dan fighter weapon instructur course,” tambah Kolonel Yoga.

Di bawah Wing Udara 3, ada Skadron Udara 3 yang memiliki 10 pesawat tempur F-16 AM/BM dengan sesanti “Uruvikrama Ghataka”. Skadron ini bertugas menyiapkan dan mengoperasikan pesawat tempur strategis untuk melaksanakan operasi pertahanan udara aktif, operasi udara serangan strategis, operasi udara lawan udara ofensif dan operasi dukungan udara.

Skadron ini, memiliki kemampuan pertempuran udara ke udara jarak dekat dan jarak jauh serta memiliki kemampuan penyerangan sasaran permukaan dengan presisi pada siang dan malam hari yang memiliki kemampuan “surveillance” dan “recognition” secara terbatas dan memilliki radius of action 550 nautical miles atau 1018,6 kilometer.

Di Skadron Udara 14 dengan sesanti “Akasha Parakrama” memiliki 11 unit pesawat F-16 Blok C/D. Skadron ini bertugas mengoperasikan dan menyiapkan pesawat tempur strategis untuk melaksanakan operasi pertahanan udara aktif, operasi udara serangan strategis, operasi udara lawan udara ofensif dan operasi dukungan udara.

Skadron ini memiliki kemampuan pertempuran udara ke udara jarak dekat dan jarak jauh pada siang dan malam hari. Selain itu, mampu menyerang sasaran permukaan dengan presisi pada siang dan malam hari, dengan radius of action 550 nautical mil.

Skadron ini, dulu, pesawat F-5 Tiger II sempat menjadi tulang punggung TNI AU sebagai pengawal ibu pertiwi. Beberapa penerbangnya sempat menjadi pucuk pimpinan TNI AU dan menjadi Panglima TNI. Ia adalah Marsekal TNI Djoko Suyatno.

Skadron Udara 15 Tempur (Skadud 15) yang merupakan bagian dari Wing Udara 3 Tempur dengan sesanti “Wiyakti Mandala Bhakti” adalah satuan tempur di bawah Wing Udara 3 Tempur Lanud Iswahjudi dulu dengan pesawat Hawk MK-53. Saat ini, Skadron ini mengoperasikan 13 pesawat tempur T50i Golden Eagle. Skadron ini bertugas menyiapkan dan mengoperasikan pesawat “Lead in Fighter Trainer” (LIFT).

Skadron ini, mampu melakukan tempur taktis untuk melakukan operasi pertahanan udara aktif, operasi udara serangan strategis, operasi udara lawan udara ofensif, operasi udara lawan darat, operasi udara lawan laut dan kursus pengenalan terbang pesawat tempur (KPTPT).

Juga memiliki kemampuan pertempuran udara ke udara jarak dekat dan penyerangan sasaran permukaan pada siang dan malam hari dengan radius of action 350 NM (648,2 kilometer).

Saat rombongan wartawan menyambangi Skadron Udara 15, raungan mesin pesawat tempur T50i Golden Eagle terdengar hingar-bingar. Elang kebanggaan TNI AU itu terbang hilir mudik di langit Lanud Iswahjudi untuk menjalankan latihan.

“Saat awal datang ada 16 pesawat. Tapi, sekarang yang eksistensinya ada 13 pesawat. Untuk Skadron Udara 15 hanya ada pesawat T50i, ada 24 orang penerbang dan paling banyak di Skadron 15 ini,” jelas Komandan Skadron 15, Letkol Penerbang Apri Arfianto

Setiap hari, para penerbang akan berlatih untuk memahirkan manuver pesawat tempur. Latihan dimulai dari latihan dasar hingga kombinasi yang menyesuaikan dengan siklus secara terus-menerus dilakukan secara periodik. Mulai dari “basic, air to air, air to ground dan combine mission”.

“Kita membina penerbang baru menjadi penerbang operasional,” ucap Letkol Apri.

Mengintip “Jeroan” Pesawat Tempur F-16 di Skatek 042

Skadron Teknik (Skatek) 042 dengan sesanti “Bhakti Kosowa Cakti Ambara” adalah pelaksana pemeliharaan pesawat terbang yang bertugas melakukan pemeliharaan alat utama sistem kesenjataan (Alutsista) bersama komponen-komponennya.

Satuan Komando Teknik ini bertugas meng-upgrade berbagai jenis pesawat tempur, salah satunya adalah pesawat tempur F-16 buatan Amerika Serikat dalam program “falcon star”. Didalam skadron ini berbagai mekanik sesuai keahlian masing-masing melakukan modifikasi untuk meningkatkan kekuatan tempur elang-elang langit itu

“Mereka bekerja sesuai keahlian masing-masing dan tidak boleh berpindah posisi dari keahlian yang mereka miliki. Mereka juga sudah ditraining di Amerika Serikat tempat pesawat (F-16) itu dibuat,” ucap Komandan Skadron Teknik (Dan Skatek) 042, Letkol Tek Andi Sukmawan Wira Atmaja.

Di Hanggar Skatek 042 ini, tampak para mekanik TNI AU bekerja sesuai keahlian bidang masing-masing, bekerja dengan teliti dan perlahan. Mereka tidak boleh bekerja tumpang tindih, yakni mengerjakan pekerjaan dengan keahlian orang lain. Setiap mekanik memiliki spesialisasi masing-masing dan tidak boleh bertukar tempat.

“Kalau dianalogikan, mekanik itu sama seperti tugas Dokter yang memiliki spesialiasi. Seperti Dokter Kandungan atau Dokter Gigi. Nah, mekanik kita sama seperti itu,” kata Letkol Andi.

Di Skadron Teknik ini, mesin-mesin pesawat akan di “upgrade” agar mampu bermanuver dan memiliki kecepatan serta daya jelajah yang tinggi saat membelah langit dan mencegat musuh. Seperti kemampuan avionik, sistem persenjataan dan “dark sektor service life” serta dapat menambah jumlah jam terbang pesawat.

Satu pesawat memiliki 6000 jam terbang dan bisa sampai 20 tahunan masa pakainya. Kalau pesawat sering terbang, maka masa pakainya tentu akan habis. Namun, dari pabrikan, karena ada proses pembaharuan (upgrade) maka bisa dipakai sampai dengan 12 ribu jam terbang.

“Ada sepuluh jet tempur yang sedang dilakukan pembaharuan dan sudah ada tujuh pesawat yang telah di-uprgade (peningkatan). Kalau sudah selesai, maka akan dilakukan test flight (uji coba terbang), kalau ada kekurangan akan diperbaiki dan dibuat cek list sampai pesawat bisa 100 persen sempurna,” terangnya.

Proses peningkatan dikerjakan melalui program “Falcon Star Enhanced Mid Life Update” (eMLU). Satu pesawat untuk “upgrade” akan memakan waktu satu tahun lamanya. Sebanyak 170 mekanik bertugas melakukan “upgrade” pesawat tempur T50i Golden Eagle dan F-16 Fighting Falcon. Model pengerjaannya, dilakukan secara pararel, dimana saat mengerjakan satu bagian part selesai, maka dilanjutkan ke pesawat berikutnya.

Dekat pintu masuk hanggar, berjejer rapih “jeroan” di meja panjang. Diantaranya terdapat “Viper Memory Loader” yang merupakan komponen untuk mengisi program pada komputer avionik di pesawat dan mengunduh data penerbangan untuk tujuan pemeliharaan dan investigasi. Disebelahnya, ada “Enhanced Interferene Blanker Unit” (EIBU) yang berfungsi untuk menguatkan dan mendistribusikan “Blanking Pulse” agar tidak terjadi gangguan pada saat memancarkan atau menerima.

Ada “Airborn Data Recording System” (ADRS) yang berfungsi merekam seluruh data penerbangan baik video maupun audio, untuk menganalisa misi penerbangan, latihan, perbaikan dan investigasi. Ada juga “Improved Cockpit Camera” atau ICCAM berfungsi untuk menampilkan data yang direkam di digital video recorder.

Kisah Elang Petarung Lanud Iswahjudi Cegat Hornet Amerika

Saat itu, 3 Juli 2003, layar radar TNI AU mendeteksi ada lima pesawat memasuki wilayah udara Indonesia. Belum sempat diidentifikasi, keberadaan mereka hilang dari radar. Selang tiga jam kemudian, keberadaan lima pesawat itu muncul kembali di radar. Karena ada manuver pesawat tempur, maka pimpinan TNI AU bergerak cepat, sebab keberadaannya sudah menggangu penerbangan internasional. Hal itu dikeluhkan pesawat Bouraq Airlines dan Mandala Airlines.

Penerbangan gelap yang dicurigai TNI AU itu ternyata tidak melapor ke “Air Traffic Controller” (ATC) yang memang bertugas melakukan pengawasan pesawat dengan komunikasi melalui sinyal radio dan satelit. Tak mau kecolongan, TNI AU menerbangkan dua jet tempur F-16 Fighting Falcon dari Lanud Iswahjudi untuk mengidentifikasi keberadaan pesawat itu dan menghindari provokasi. Pesawat F-16 terbang dengan membawa dua rudal AIM-9 P4 Sidewinder dikedua ujung sayap dan 450 butir amunisi kanon kaliber 20 mm.

Tak lama kemudian, F-16 disambut dua pesawat F-18 Hornet miik US Navy (Angkatan Laut) Amerika Serikat yang diterbangkan dari Kapal Induk USS Car Vinson. US Navy menambah kekuatan dengan mengirim lagi tiga pesawat serupa. F-16 TNI AU menyadari bahwa pesawat mereka telah terkunci dan siap terkena bidikan rudal hornet.

Ketegangan pun terjadi. Berbagai manuver dilakukan penerbang TNI AU untuk melepaskan kuncian rudal dari Hornet. Mulai dari manuver penghindar seperti “hard break” ke kiri dan ke kanan, zig zagging yang bisa menyebabkan penerbang terkena efek gravitasi 9 G-Force, dimana berat badan kita diperbesar 9 kali oleh daya G tadi.

Penerbang dari Lanud Iswahjudi melakukan “rocking the wing” dengan cara menggerak-gerakkan sayap keatas dan kebawah, untuk memberi isyarat ke Hornet bahwa mereka bukanlah ancaman.

Satu menit kemudian, F-16 TNI AU berhasil melakukan komunikasi dengan Hornet AS. Pesawat AS merasa mereka terbang di wilayah internasional, sementara TNI AU menyatakan bahwa Hornet masuk wilayah udara Indonesia. Perdebatan pun tak dapat dihindari.

“We are F-18 Hornet from US Navy Fleet, our position on international water, stay away from our warship,” kata penerbang Hornet AS mengancam.

“Hornet, hornet, we are Indonesia Air Force,” balas penerbang F-16 TNI AU.

“Indonesia Air Force, we are in international waters, please stay away from our ship,” pinta Hornet agar F-16 segera menjauh.

Dari atas pesawat, penerbang F-16 melihat ke laut, ternyata ada kapal perang Fregat yang sedang berlayar ke arah timur. Usai kontak, Hornet terbang menjauh dan kedua F-16 kembali ke Lanud Iswahjudi, setelah situasi aman.

Setelah diselidiki, kelima pesawat Hornet itu berasal dari Kapal Induk USS Car Vinson (CVN-70) yang merupakan super carrier kelas Nimitz yang sedang berlayar ke arah barat timur (sekitar Pulau Bawean, antara Pulau Jawa dan Kalimantan) bersama dua kapal Fregat dan satu kapal perusak angkatan laut Amerika. Kapal Induk itu mengangkut 100 pesawat tempur, 16 pesawat pengintai, enam helikopter, 3.184 kelasi dan perwira dan 2.800 pilot.

TNI AU kemudian menerbangkan Pesawat Intai Boeing 737 Surveiller dan didapat informasi pada pukul 07.00 WIB pagi, iring-iringan kapal induk tersebut menuju Selat Lombok. Diduga akan melanjutkan perjalanan menuju Austraia. Dari hasil tangkapan foto dari pesawat pengintai, pemerintah akhirnya melancarkan nota protes ke Amerika Serikat.

Dengan “Insiden Bawean” tampak keberanian elang-elang tempur dari sarang petarung Lanud Iswahjudi yang memiliki moto “ Prayatna Kerta Gegana”. Walaupun memiliki kekuatan kecil (menerbangkan dua pesawat tempur F-16) tetap berusaha melawan untuk mengamankan wilayah udara Indonesia dan melakukan komunikasi pada penerbang Hornet, meski saat itu bisa saja nyawa mereka melayang.(***)