Momen Hari Kartini, ParagonCorp sebagai Purposeful Beauty Tech Company asal Indonesia menggelar sesi diskusi “Her Strength, Her Light: A Journey through Doubt, Growth, and Becoming” di Wisma Habibie & Ainun, Jakarta Selatan.
Gelaran ini sekaligus memperkuat komitmennya dalam mendukung pemberdayaan perempuan melalui pengembangan inisiatif Women’s Space.
Pada sesi diskusi “Perjalanan, Keraguan, dan Kekuatan Perempuan” menghadirkan pembicara Retno Marsudi, Susy Susanti, Nikita Willy, Nadia Habibie, dan Dokter Sari Chairunnisa, dipandu oleh Marissa Anita.
Dalam diskusi reflektif mengenai kekuatan yang terbentuk dari perjalanan hidup masing-masing.
Mengangkat narasi “menemukan kekuatan di balik rasa belum cukup”, ParagonCorp menyoroti bahwa banyak perempuan memiliki keinginan untuk berkembang, namun masih dihadapkan pada keraguan diri.
Dokter Sari Chairunnisa, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, mengatakan, berbagai studi menunjukkan bahwa mayoritas perempuan memiliki motivasi untuk berkembang, namun tidak semuanya memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup untuk melangkah.
“Sebagai contoh, riset Mestara (2025) menunjukkan bahwa 83% perempuan ingin berkembang, namun hanya sekitar 30% yang merasa cukup percaya diri untuk mengambil langkah tersebut.” kata Dokter Sari Chairunnisa, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, dalam keterangannya, Rabu (22/4/26) di Jakarta.
“Sering kali perempuan terlihat tenang dan mampu, tetapi di dalamnya tetap ada pertanyaan: apakah saya sudah cukup? Saya juga pernah berada di titik itu. Namun saya belajar bahwa keraguan bukan sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan dihadapi dan justru dari situlah kita bertumbuh, sekaligus tetap rendah hati,” bebernya.
Terinspirasi dari kisah B.J. Habibie dan Hasri Ainun Besari, sesi ini juga menekankan pentingnya dukungan dan relasi dalam perjalanan perempuan.
Retno Marsudi menyebut dirinya tentang dirinya sebagai perempuan yang berkemajuan.
“Pertanyaan saya sudah cukup belum ya?’ atau saya masih bisa lebih maju nggak ya?’ sering muncul di benak kita sebagai perempuan. Namun bagi saya, justru saat pertanyaan itu hadir, di situlah semangat saya tumbuh.” kata Retno.
Susy Susanti mengatakan bahwa dirinya tumbuh dari dunia yang didominasi laki-laki namun baginya sikap pantang menyerah menjadi kekuatan.
“Saya tumbuh di dunia yang didominasi laki-laki. Namun pesan untuk pantang menyerah menjadi kekuatan bagi saya untuk terus maju, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membuka jalan bagi perempuan lain.” ucapnya.
Artis Nikita Willy berbagi kisah bahwa hidup diruang publik dihadapkan pada ekspektasi dan peniaian orang lain.
“Hidup di ruang publik membuat kita sering dihadapkan pada ekspektasi dan penilaian orang lain. Namun di setiap fase kehidupan, saya belajar untuk tetap jujur pada diri sendiri dan konsisten dengan apa yang saya jalani,” ungkapnya.
Melengkapi perspektif tersebut, Nadia Habibie menyampaikan tentang privilage tak hanya kesempatan namun juga memiliki tanggung jawab.
“Privilege bukan hanya tentang kesempatan, tetapi juga tanggung jawab bagaimana kita bisa memberi dampak bagi sekitar,” ujarnya.
*Women’s Space: Dari Ruang Aman menjadi Ekosistem Kepemimpinan*
Di balik berbagai perjalanan tersebut, satu benang merah muncul bahwa tidak ada satu pun perempuan yang bertumbuh sendirian. Selalu ada lingkungan yang mendukung dan menopang di setiap fase kehidupan “the circle that holds her”.
Namun, tak semua perempuan memiliki akses terhadap dukungan tersebut.
Lebih dari seribu perempuan yang telah menjadi bagian dari komunitas Women’s Space, kebutuhan terbesar yang muncul adalah keinginan untuk bertumbuh, namun belum memiliki ruang yang aman untuk mencoba.
Melihat kebutuhan ini, ParagonCorp menghadirkan Women’s Space sebagai ruang bagi perempuan untuk bertumbuh, belajar, dan saling menguatkan.
Sejak dimulai pada 2023, Women’s Space telah menjangkau lebih dari 10.000 perempuan melalui roadshow di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Palembang, dan Makassar, dengan lebih dari 1.000 peserta yang kini tergabung aktif dalam komunitas.
Women’s Space dirancang sebagai wadah bagi perempuan penggerak Indonesia untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan, meningkatkan keterampilan yang relevan, serta membangun jejaring dalam ruang yang aman dan suportif.Memasuki fase pengembangan, ParagonCorp menghadirkan program mentorship sebagai langkah strategis untuk memperkuat dampak.
*Inspiration builds community, but mentorship builds leaders*
Program ini dikembangkan dalam empat pilar kepemimpinan:
1. Leading Self
2. Leading Systems
3. Leading Enterprise
4. Leading Narratives
Hal itu didukung oleh para mentor perempuan dari berbagai latar belakang, seperti Analisa Widyaningrum, CEO APDC Indonesia; Psikolog, Konsultan, dan Trainer yakni:
1. Shana Fatina, Founder & CEO Komodo Water
2. Nadia Habibie, Executive Board The Habibie Center; Executive Director Habibie & Ainun Foundation
3. Prita Ghozie, Founder & CEO Zapfinance
Melalui Women’s Space, ParagonCorp menargetkan lahirnya perempuan-perempuan pemimpin yang tidak hanya berkembang secara individu, tetapi juga mampu menciptakan dampak berkelanjutan di lingkungannya.
Women’s Space hadir dengan tujuan untuk nurture grounded women leaders who multiply positive impact across generations. Sejalan dengan keyakinan ParagonCorp bahwa ketika satu perempuan bertumbuh, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri, melainkan meluas ke keluarga, komunitas, hingga generasi berikutnya.(rls/MRZ)

