TNI AU Perkuat Pertahanan Udara Nasional Dengan Jet Tempur Rafale dan Radar Ground Control Interceptor

By
10 Min Read

_Oleh: MIRZA*)_

Langit tampak cerah ketika sebuah kendaraan buggy golf atau golf car warna putih yang ditumpangi Presiden Prabowo Subianto berjalan perlahan menuju landasan Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin, 18 Mei 2026. Presiden Prabowo turun dari kendaraan itu dengan mengenakan pakaian safari warna coklat, peci hitam dan kacamata hitam.

Ia berjalan kaki menuju apron pesawat sambil memberi salam hormat pada para tamu dalam dan luar negeri yang berdiri berjejer rapih disebelah kiri menghadap ke arah Alpalhankam di depannya. Presiden Prabowo langsung menuju pesawat tempur Rafale didampingi pemandu protokol istana untuk melepas tirai logo Skadron Udara 12 yang telah disiapkan.

Tepuk tangan meriah membahana mewarnai pelepasan tali tirai oleh orang nomor satu di Indonesia itu. Dibelakangnya berdiri Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subianto dan Kasau Marsekal TNI M Tonny Harjono yang kemudian disalami Prabowo.

Acara dilanjutkan dengan tradisi penyiraman air kembang oleh Presiden di moncong pesawat Rafale sebanyak dua gayung dari kendi besar berwarna emas. Lalu, secara simbolis

Presiden menyerahkan kunci pesawat tempur MRCA Rafale, satu unit Airbus A400M MRTT, empat Falcon 8X, Smart Weapon HAMMER, Rudal Meteor MBDA, dan satu Radar Ground Control Intercept (GCI) kepada Panglima TNI dan Panglima TNI kemudian menyerahkannya kepada Kasau.

Sinar mentari menyeruak menyinari kegagahan burung besi dan alutsista lain yang berjejer rapih ketika Presiden Prabowo meninjau satu persatu di apron pesawat Lanud Halim Perdanakusuma. Sesekali Presiden berbincang dengan perwira yang ada di dekat pesawat-pesawat itu. Presiden menepuk pundak perwira yang memakai seragam penerbang TNI AU.

Usai beberapa menit berkeliling meninjau Alutsiata, Presiden Prabowo menemui awak media yang sedari tadi sudah menunggunya dan menyampaikan bahwa pembangunan kekuatan pertahanan nasional merupakan bagian penting dari strategi deterrence (penangkalan) di tengah perkembangan situasi geopolitik global yang terus berubah.

“Kita harus terus meningkatkan kekuatan pertahanan kita sebagai penangkal atau deterrence. Kita tidak punya kepentingan selain untuk menjaga wilayah kita sendiri. Jadi saudara-saudara, saya kira ini salah satu tonggak penambahan kekuatan.Sebagai penangkal ya, sebagai detterent. Kita tidak punya kepentingan selain untuk menjaga wilayah kita sendiri,” tandas Prabowo.

Ditengah kondisi dunia dan geopolitik yang penuh ketidakpastian, kata Presiden, pertahanan merupakan syarat utama stabilitas dan jaminan bahwa kita bisa berdaulat.

“Saya kira itu intinya. Dalam waktu yang akan datang, kita akan terus bangun kekuatan kita. Kita ingin mengamankan wilayah udara, laut, dan daratan kita. Saya kira Itu dari saya. Terima kasih,” kata Prabowo.

Dalam catatan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya disebut Presiden Prabowo Subianto menyerahkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk memperkuat postur pertahanan udara Indonesia secara komprehensif.

“Langkah ini merupakan bagian dari upaya modernisasi alutsista yang telah dimulai sejak Presiden menjabat sebagai Menteri Pertahanan, dan kini terus diperkuat dalam kepemimpinan beliau sebagai Presiden Republik Indonesia,” tutur Teddy.

Alutsista yang diserahkan terdiri dari:
1. Enam Pesawat Tempur Multi Peran Dassault Rafale buatan Prancis, dari 42 pesanan.
2. Satu pesawat Angkut Multi Peran Transport/Tanker (MRTT) Airbus A-400M buatan konsorsium Airbus Eropa, dari dua pesanan.
3. Enm pesawat Jet Transport Dassault Falcon 8x buatan Perancis, dari 6 pesanan.
4. Radar Ground Control Interceptor (GCI) Thales buatan Perancis, dari 25 pesanan.
5. Rudal udara jarak jauh Meteor buatan konsorsium Eropa MBDA.
6. Smart Bomb Hammer buatan Safran Perancis.

Menurut Teddy, kehadiran berbagai platform pertahanan udara ini menandai langkah strategis pemerintah dalam membangun kekuatan udara yang terintegrasi.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI I Nyoman Suadnyana, menuturkan, TNI Angkatan Udara terus memperkuat kesiapan pertahanan udara nasional melalui penambahan sejumlah
Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) modern yang dirancang untuk menjawab tantangan operasi udara masa kini, mulai dari penguatan superioritas udara, mobilitas strategis, hingga dukungan operasi jarak jauh dan sustainment kekuatan udara nasional.

“Masuknya Rafale memperkuat kemampuan tempur multi-peran TNI AU dalam menghadapi spektrum ancaman udara modern yang semakin kompleks, sementara kehadiran A400M MRTT menjadi lompatan penting dalam mendukung kemampuan angkut strategis sekaligus pengisian bahan bakar di udara untuk memperluas jangkauan operasi,” beber Kadispenau.

Di sisi lain, integrasi persenjataan modern dan radar GCI turut meningkatkan efektivitas deteksi, kendali, serta respons operasi udara secara lebih terintegrasi dan adaptif terhadap dinamika lingkungan strategis kawasan.

*Sekilas Pesawat Tempur Rafale*

TNI Angkatan Udara (TNI AU) mengoperasikan Dassault Rafale F3R varian terbaru dan pesawat tempur generasi 4.5 buatan Prancis.

Rafale adalah pesawat tempur multiperan yang dikembangkan Dassault Aviation yang memiiki kemampuan multi misi yang memungkinkan untuk melakukan berbagai misi seperti superioritas udara, serangan darat, pengintaian strategis, dan operasi maritim.

Kelebihan pesawat Rafale ini bila dibandingkan dengan yang lain adalah kemampuan multi misi yang sangat fleksibel untuk berbagai operasi udara yang dilengkapi dengan sistem avionik canggih dan Radar “Active Electronically Scanned Array” (AESA) Thales RBE-AA yang memungkinkan pemindaian elektronik yang cepat dan akurat.

Rafale memiliki kemampuan “anti jamming” yang baik dan dapat beroperasi dalam lingkungan yang terganggu sinyal elektronik lawan. Pesawat ini cocok dengan berbagai jenis persenjataan modern termasuk Rudal “Beyond Visual Range” (BVR) Meteor.

Rudal BVR Meteor ini adalah rudal udara-ke udara jarak jauh. Juga kompatibel dengan berbagai jenis persenjataan seperti Rudal udara-ke udara MBDA Meteor (BVR), MICA IR/EM Magic II, Rudal udara-ke permukaan yakni MBDA Apache, Storm Shadow, AASM-Hammer, bom berpemandu laser Guided Bomb Unit (GBU) series yang memandu bom ke target sasaran dengan akurasi tinggi, dan meriam internal Nexter kaliber 30 mm yang dirancang untuk memberikan kemampuan serangan darat dan udara yang efektif serta Rudal anti kapal AM39 Exocet yang digunakan untuk menyerang kapal perang atau kapal lainnya.

Pesawat buatan Prancis ini dilengkapi Radar AESA Thales RBE2-AA yang memberikan deteksi target lebih cepat dan akurat dalam kondisi medan elektromagnetik kompleks serta mendukung integrasi sistem senjata canggih secara “real time”.

Memiliki kemampuan manuver tinggi dengan kecepatan maksimum march 1, 8 atau pesawat dapat mencapai kecepatan hingga 1,8 kali kecepatan gelombang suara.
Rafale berkemampuan manuver tinggi berkat desain aerodinamisnya dan “thrust-to-weight ratio optimal” (TWR) yakni rasio antara gaya dorong (thrust) yang dihasilkan oleh mesin pesawat dengan berat pesawat itu sendiri. Rasio ini telah dioptimalkan untuk mencapai kinerja yang maksimal.

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, mengatakan, modernisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) harus diiringi dengan modernisasi cara berpikir dan budaya kerja di lingkungan TNI Angkatan Udara.

“TNI AU saat ini memasuki fase akselerasi penguatan kemampuan operasional seiring hadirnya berbagai alpalhankam modern sebagai bentuk komitmen negara memperkuat kekuatan udara nasional,” ucap Kasau dalam amanat yang dibacakan
Kapusgeosau Marsda TNI Ferdinand Roring pada Upacara Bendera Bulanan di Mabesau, Jakarta Timur, Senin pagi (18/5/2026).

“Modernisasi tidak boleh dipandang sekadar sebagai hadirnya teknologi baru, tetapi sebagai amanah untuk membangun kemampuan organisasi secara menyeluruh,” tegas Kasau.

Modernisasi alpalhankam harus diikuti pembaruan doktrin, latihan, pemeliharaan, logistik, hingga tata kelola satuan agar kesiapan kekuatan udara dapat terbangun secara optimal.

Di tengah dinamika global dan tuntutan efisiensi, Kasau meminta seluruh personel tetap menjaga disiplin, keselamatan terbang dan kerja, serta profesionalisme dalam setiap pelaksanaan tugas.

“What you permit, you promote. Apa yang dibiarkan, pada akhirnya akan tumbuh menjadi budaya dalam organisasi,” tutup Kasau Marsekal TNI M Tonny Harjono.

*Radar GCI Pemandu Pesawat Pencegat*

Radar “Ground-Controlled Interception” (GCI) atau pencegatan yang dikendalikan dari darat adalah taktik dan sistem pertahanan udara yang menggunakan stasiun radar untuk mendeteksi ancaman dan memandu pesawat pencegat atau buru sergap menuju target di udara secara real-time.

Radar ini berfungsi sebagai “mata” pertahanan udara yang memancarkan gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi objek asing atau pesawat tak dikenal dari jarak jauh.

Radar ini menghubungkan stasiun radar dengan pusat komando dan komunikasi untuk memberikan instruksi kepada pilot pesawat tempur Rafale dalam menyergap target.

Alat ini dilengkapi sistem Identification Friend or Foe (IFF) untuk membedakan secara akurat antara pesawat kawan dan lawan.(***)

_*) Penulis adalah Wartawan senior TNI_

Share This Article