Home Berita Daur Ulang Sampah Mandiri dari Pamulang Barat

Daur Ulang Sampah Mandiri dari Pamulang Barat

0

Menghabiskan waktu beberapa tahun mengurus warga membuat Sukamto, Ketua Rukun Warga (RW) 10 Pamulang Barat, Tangerang Selatan (Tangsel) memikirkan cara terbaik untuk mengelola sampah rumah tangga menjadi bermanfaat yaitu menjadikannya Pupuk Kompos.
Sukamto menjabat sebagai Wakil Ketua Rukun Tetangga (RT) 01 Pamulang Barat sejak tahun 1992. Kemudian masih di RT yang sama melanjutkan menjadi Ketua pada tahun 2012-2015 dan Ketua RW tahun 2016. Itulah alasan dirinya mengetahui permasalahan yang paling sering terjadi di lingkungan sekitar yakni menumpuknya sampah.

“Seperti Lapangan Pamulang Permai sebelum jadi lapangan WoodBall dijadikan tempat pembuangan sampah ilegal oleh warga. Sehingga cepat atau lambat akan menggunung, menimbulkan gangguan estetika, bau busuk, timbulnya lalat, dan ketidaknyamanan,” kata Sukamto.

Ketika menjadi Ketua RT, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini pun mencetus sebuah program yaitu pengelolaan sampah mandiri untuk sampah basah hewani dan nabati yang terdiri dari sisa makanan, limbah dapur, tulang belulang, daging, buah dan tumbuhan menjadi kompos.

Ia berbagi kepada tangerangonline.id sistem pengurangan jumlah sampah, proses daur ulang dan pemanfaatan kembali sampah yang terbagi menjadi dua cara. “Pertama ada proses didalam tong komposter atau tong besar yang telah berisi pipa dan paralon, kedua proses didalam tanah atau sumur biopori,” katanya mengawali penjelasan.

Dalam penjelasannya, sistem dalam tong komposter yakni menghancurkan sampah organik dengan memotong sampah menjadi kecil memakai pisau atau menggunakan alat bernama pencacah sampah. Kemudian sampah dimasukan kedalam tong bersamaan dengan aktivator dan komposer atau bakteri pembentuk kompos. “Nantinya sampah di dalam tong itu akan menjadi dua, pupuk padat dan pupuk cair,” jelasnya.

Kedua yakni menggali tanah sedalam 1 meter, kemudian masukkan paralon sebesar 5 sentimeter agar sampah tidak berantakan. Setelah itu sampah organik pun bisa dimasukkan ke dalamnya.

“Sebulan kemudian, sampah didalam tong komposter dan sumur biopori akan menjadi pupuk kompos. Hasilnya bisa dijual, atau kalau dari sumur biopori bisa bermanfaat untuk menyuburkan tanah,” ujarnya.

Program yang dibuat oleh Ketua RT itu sempat berjalan selama 5 bulan ditambah dengan kehadiran Rumah Kompos. Tetapi, program itu berhenti sejak bangunan Rumah Kompos dibongkar karena tanah yang dipakai milik Pertamina dan terdapat jalur pipa di bawahnya.

“Warganya sudah ngedown duluan. Sekarang mereka mulai mengandalkan tukang sampah lagi, alias yang penting bayar iuran,” katanya kepada tangerangonline.id saat berkunjung ke rumahnya.

Namun, Sukamto tetap mensosialisasikan cara menanggulangi sampah tersebut. Pantauan, tangerangonline.id, dirumah Sukamto terdapat sekitar 4 lubang sampah organik dan 3 buah tempat sampah terpisah yaitu tempat sampah organik, tempat sampah plastik, dan tempat sampah kertas.

“Semoga cara ini bisa dipakai sama orang lain dan mendapat perhatian Pemkot Tangsel,” harapnya.

Kini, Sukamto memiliki cita-cita peduli lingkungan lainnya yaitu membuat vertikal garden atau tanaman yang menempel di tembok. Selain untuk nilai estetika, vertikal garden juga berguna untuk menjaga tembok agar tidak dicoret-coret orang. (Ayu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here