Home Home Mahasiswa Fakultas Ushuludin UIN Serukan Kembali Kesetaraan Gender

Mahasiswa Fakultas Ushuludin UIN Serukan Kembali Kesetaraan Gender

0
SHARE

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyuarakan kesetaraan gender di Indonesia yang masih belum berjalan secara maksimal.

Meski keterwakilan perempuan dalam bidang politik sudah memiliki 30 persen, mahasiswa Perbandingan Agama menilai, dalam prakteknya kedudukan laki-laki dan perempuan dalam perannya masih dianggap diskriminasi.

Presiden HMJ Perbandingan Agama, saniman menuturkan, kaum perempuan harus berperan aktif dalam merespon persoalan apa pun, terutama pada permasalahan perempuan yang berkembang saat ini.

“Kaum Perempuan di Indonesia, harus berperan aktif dalam merespon hal apapun terutama pada permasalahan perempuan,” ujar Saniman, dalam sambutannya, dalam acara seminar, Hari Kartini, di Ruangan Teater Lantai 4. Gedung Fakultas Ushuluddin, Rabu (27/04/16).

Acara Seminar Hari Kartini, yang bertemakan, Peran Perempuan Dalam Masyarakat Religius dan Berbudaya di Indonesia, ini dihadiri oleh Ratusan Mahasiswa, serta dosen-dosen perbandingan agama.

Senada dengan Saniman, Dosen Perbandingan Agama, Siti Nadroh yang menjadi pembicara dalam acara seminar menuturkan, Spirit setiap Agama terutama agama Islam Adalah Keadilan. Islam secara tegas menolak yang mananya ketidakadilan gender.

“Persoalan Gender tidak hanya dapat dilihat dari perspektif feminisme saja, tetapi banyak perspektif untuk memahami gender,” ungkap Siti Nadroh, saat diskusi di ruangan teater Fakultas Ushuluddin.

Dosen Perbandingan Agama ini, juga menuturkan, banyak hal, kenapa dalam kenyataannya, perempuan selalu terdiskriminasi di Indonesia, salah satunya adanya budaya patriarki.

“Budaya menjadi salah satu penyebab ketidakadilan gender, sehingga perempuan tidak bangkit, dan mengalami diskriminasi dalam kehidupannya,” ungkapnya.

Oleh Karena itu, lanjutnya (Siti Nadroh), mahasiswi perbandingan agama, khususnya kaum perempuan, agar bisa merubah cara berpikir perempuan di Indonesia.

“Mahasiswi Perbandingan Agama harus bisa keluar dari kungkungan budaya patriarki, dan bisa menjadi pelopor kesetaraan gender di Indonesia,” lanjut Nadroh dalam diskusinya.

Mahasiswa yang mengikuti acara diskusi hari kartini ini, juga sangat antusias, dan sangat interaktif. (Ayu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here