Home Berita Mahasiswa dan Pemuda Cibaliung Protes Panitia PHBN

Mahasiswa dan Pemuda Cibaliung Protes Panitia PHBN

0

Masyarakat Cibaliung di Kabupaten Pandeglang, Banten mengkritisi panitia pelaksanaan Perayaan Hari Besar Nasional (PHBN). Perayaan hari besar yang laksanakan oleh masyarakat di Cibaliung ini dinilai menghilangkan budaya lokal atau budaya setempat.

Ketua umum kumpulan mahasiswa dan pemuda cibaliung, Afifudin, menjelaskan, penyelenggaraan hari kemerdekaan di Cibaliung tahun ini menghilangkan budaya lokal, sebagaimana yang telah dicetuskan oleh para pendahulu setiap tahunnya.

“Panitia PHBN, tidak berfikir seberapa pentingnya budaya bergumal dalam perayaan hari kemerdekaan dilingkungan masyarakat Cibaliung, yang sudah menjadi budaya masyarakat Cibaliung,” ujar ketua umum mahasiswa dan pemuda Cibaliung, yang saat ini aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia kabupaten Pandeglang di Cibaliung Pandeglang, Senin (15/08/2016)

Pengurus KNPI Kabupaten Pandeglang ini, lebih lanjut menjelaskan dalam siaran persnya, perlu dicatat oleh semua panitia pesta rakyat Cibaliung, dalam momentum perayaan hari kemerdekaan bukan ajang mencari keuntungan untuk kantong pribadi.

“Pesta rakyat Cibaliung ini, bukan untuk mencari keuntungan, dengan cara menodong semua pedagang, yang ada di pasar seperti preman pasar dan LSM, penyelenggara pesta rakyat ini, bukanlah ajang pengerukan keuntungan” jelas Afifudin yang akrab disapa Fakel.

Sebagaimana hasil survei yang dilakukan oleh Fakel, dalam penyelenggaraan Pesta Rakyat Cibaliung ini, masyarakat Cibaliung yang notabenenya, para pedagang di pasar banyak yang mengeluh, mereka merasa ditekan oleh panitia pesta rakyat saat meminta sumbangan kepada para pedagang.

Selain itu, Fakel juga menjelaskan, dalam perayaan kegiatan menyambut hari kemerdekaan ini, panitia penyelenggara kurang inovatif, dalam membuat perlombaan, dan cenderung menghilangkan budaya lokal.

“Dalam pelaksanaan hari kemerdekaan ini, panitianya kurang inovatif, dalam pertunjukan hiburan misalnya, panitia tidak mempertimbangkan nilai kebudayaan lokal, justru malah mengadopsi budaya dari luar yang tentunya berdampak buruk bagi masyarakat kedepannya,” selorohnya.

Sebagaimana yang diketahui, setiap tahunnya, masyarakat Cibaliung selalu merayakan hari kemerdekaan, dengan membuat kegiatan bergumal, yakni semua masyarakat berkumpul makan bersama dan memanjatkan doa, selain itu kegiatan bergumal juga sebagai ajang bersilaturahmi.

Terdapat keluhan dari beberapa masyarakat baik dari pihak pedagang, pengunjung atau penggiat yang berkontribusi di kegiatan tersebut. Pertam, mahalnya sewa lapak yang dibebankan kepada pedagang. Kedua, minimnya kegiatan yg memiliki nilai edukasi dan nilai budaya lokal yang sudah diwariskan oleh leluhur masyarakat Cibaliung. Pelaksanaan kegiatan bergumal dirayakan setiap satu tahun sekali dan sudah berjalan turun temurun dari leluhur. (Uar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here