Home Index Mukidi sebagai Gejala Psikologis

Mukidi sebagai Gejala Psikologis

0

DUA hari ini hampir semua grup WA dilanda demam Mukidi. Tokoh imajiner yang serba bisa. Memang di era rezim yg antikritik, humor adalah salah satu cara mengalihkan energi obsesif agar para warganegara terutama kelas menengahnya terhindar dari tekanan kejiwaan (stress) yang akan berpengaruh pada pekerjaannya.  Salah satu gejala pasrah pada keadaan. Mengapa demikian?
Selama kurun 15 tahun terakhir, kran demokratisasi terbuka lebar dan terjadi apa yang oleh Cak Nur disebut lonjakan partisipasi. Mulai dari pengambil keputusan hingga penjual cabe di pasar berbicara ihwal demokrasi. Pers benar-benar mengembangkan fungsi kontrolnya bahkan menjadi penyeting agenda dan mempengaruhi pengambilan keputusan. 

Hari ini kran itu ditutup tak satu pun yang berani membuka kran itu. Rakyat ingin meminum air demokrasi itu sepuasnya, namun ilmuwan kampus, pengamat, tokoh LSM bahkan wakil rakyat di Senayan tak satupun yang berani membuka kran demokratisasi itu untuk diteguk bersama.

Ada tiga penyebab, Pertama, mereka tak bersuara karena sudah mendapat posisi aman; Kedua, mereka yang ditutup mulutnya dengan kartu AS berupa jaminan ini dan itu. Ketiga, mereka yang mendapat konsesi politik untuk kepentingan bisnis. Partai (apakah nasionalis ataupun berbasis agama) hanya menjadikan konstituennya sebagai bantalan kereta kekuasaan.

Nah, dalam situasi galau seperti itu, civil society tidak bisa digerakkan untuk sebuah perubahan. Semua simpulnya terikat dan bungkam. Dan siapa lagi yang bisa diharapkan? Tak lain Mukidi menjadi juru selamat sekaligus tempat pelarian. (Ochen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here