Home Berita Budayawan Ingin Pilgub Banten Pilih Pemimpin yang Bukan Berorientasi Pemodal

Budayawan Ingin Pilgub Banten Pilih Pemimpin yang Bukan Berorientasi Pemodal

0

Budayawan Banten Tubagus Saptani mengingatkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) bukan sekadar menjadi ajang suksesi kekuasaan, tetapi memilih pemimpin yang mampu menuntaskan permasalahan daerah dan masyarakat. Di antaranya pemimpin terpilih harus menumbuhkan iklim investasi di sektor real dengan mengembangkan kearifan lokal sebagai basis ekonomi kreatif, wujudkan iklim investasi di sektor finance dengan mengedepankan persamaan hak dan keadilan, serta pemimpin yang mampu perkuat pendapatan di sektor pariwisata dan meningkatkan jatidiri kebudayaan.

“Konsep tentang menuju perubahan Banten yang ideal pola yang dilakukan tidak harus dengan janji kampanye. Jangan hanya menjadikan pemodal di ajang kampanye sebagai pemilik berkelanjutan untuk menentukan dari aristokrasi 5 tahun kedepan. Kita harus dengan jelas meletakkan urusan pilgub jangan cuma selesai sampai terpilih sebagai pemenang, tapi dengan komitmen mewujudkan harapan bersama secara gotong royong juga asas toleransi,” kata Tubagus Saptani Suria, Ketua Umum Majelis Nasional Pemuda Berbudaya Banten kepada tangerangonline.id, Minggu, (02/10/2016)

Untuk itu, Tubagus Saptani mengatakan, hal demikian yang mesti dijawab sebagai tantangan untuk semua masyarakat Banten agar menyalurkan hak pilih. Masyarakat harus ekstra keras jangan sampai pilihannya dikriminalisasi oleh kelompok tertentu yang menghasut dan mendzolimi dengan isu-isu tertentu yang tidak visioner.

Tubagus Saptani menegaskan pertempuran di Banten sebagai pemicu terjadinya perang antar pemodal asing. “Yang berperang untuk merampas kekayaan alam yang kemudian SDM lokal makin rapuh dan marginal. Jangan sampai salah pilih dari sekarang harus bersikap kolektif untuk menolak segala hal campur tangan pihak ketiga,” ujarnya melalui pesan singkat.

Tubagus Saptani juga menegaskan, pembangunan Banten lebih mengedepankan orientasi dominan kesejahteraan sosial. Sebagai utilitas dari individu di lapisan menengah ke bawah agar terangkat derajat dan martabat masyarakat Banten bukan malah pro konglomerasi. Semua pemimpin dimulai dari lapis RT-RW harus berlaku adil bagi semua golongan masyarakatnya.

“Pembangunan kita harus diorientasikan atas kepentingan masyarakat, bukan justru kepentingan penyumbang di masa kampanye. Terlepas siapapun yang muncul untuk menang antara WH-Andika, Rano-Embay dan semua tim suksesnya harus kembali bersatu. Menghormati segala keputusan-keputusan juga selesaikan masalah dengan cara musyawarah. Sehingga Banten kembali menjadi milik kita bersama, milik bangsa Indonesia,” tandasnya. (UAR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here