Home Berita Musyawarah Pembebasan Lahan Runway 3 Bandara Soetta Diwarnai Walkout Warga Bojong Renged

Musyawarah Pembebasan Lahan Runway 3 Bandara Soetta Diwarnai Walkout Warga Bojong Renged

1

Musyawarah pengumuman nilai ganti rugi lahan untuk perluasan Landasan Pacu (Runway) 3 Bandara Soekarno-Hatta antara PT Angkasa Pura (AP) II dengan warga Bojong Renged, Kabupaten Tangerang diwarnai aksi walk-out.

Aksi walk-out sejumlah warga Bojong Renged pada Kamis (10/11/2016) dari Aula Kantor Pusat AP II itu dipicu karena adanya penolakan oleh seorang warga atas nilai ganti rugi lahan yang angkanya berasal dari hasil penilaian tim apprasial.

Iyang, salah satu pemilik lahan mengaku sangat kecewa dengan nilai ganti rugi yang berasal dari tim apprasial. Ia menilai hitungan ganti rugi tersebut jauh dari angka yang ia harapkan.

“Kalau harga segini mah banyak yang mau membeli lahan saya di luar sana juga,” katanya seusai menerima dokumen penilaian harga atas lahan miliknya.

Pemilik lahan seluas total 3.420 meter dan 1.166 meter diantaranya terkena pembebasan ini menyebut, dalam dokumen yang diterimanya tertera hanya mendapat ganti rugi sebesar Rp.1.469.379.620.

“Angka tersebut sangat tidak pantas. Itu kan untuk kepentingan Angkasa Pura II. Seharusnya mereka membayar lahan saya 1,5 juta per meter,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Tim Pembebasan Lahan Runway 3 Bandara Soetta, Bambang Sunarso menyatakan, terdapat 56 bidang lahan yang nilai ganti ruginya diserahkan langsung kepada pemilik lahan terdampak dalam pertemuan itu.

“Mereka memiliki waktu kurang lebih 14 hari, apakah ada keberatan atau kekurangan dari bidang (lahan) mereka seperti tanah ataupun bangunan dan tanaman. Nah, itu yang akan kami ubah kalau memang ada perbedaan data. Tetapi untuk nilai ganti rugi sendiri semua sudah fix,” ujarnya.

Menurut Bambang, setelah 14 hari berlalu, maka tahapan berikutnya berlaku. “Kalau keberatan dengan nilai ganti rugi, warga dapat menyampaikannya ke Pengadilan Negeri. Bila tidak, maka pembayaran akan dilakukan di akhir bulan ini terhitung 14 hari dimulai dari hari ini,” ujarnya.

Ditempat yang sama, Kepala Kantor BPN Kabupaten Tangerang Himsar mengungkapkan, pihaknya akan memfasilitasi warga yang keberatan dengan nilai ganti rugi tersebut untuk bertemu dengan tim appraisal dari Dolly Siregar and Partners.

“Kita akan menghubungkan warga dengan tim appraisal supaya mereka mendapat penjelasan yg memadai tentang dasar dan proses penetapan nilai ganti rugi,” ujar Himsar.

Himsar menegaskan, berdasarkan Undang-undang, pihaknya hanya bisa memverifikasi kembali untuk bidang yang terdapat kekeliruan pada data saja. 
Seperti diketahui, terdapat 170 hektare lahan terdampak proyek perluasan Runway 3 Bandara Soetta berada di wilayah Kabupaten Tangerang. Sementara 35 hektare berada di wilayah Kota Tangerang. (Rmt)

1 COMMENT

  1. Warga tetangga Desa Bojongrenged yang juga pada gilirannya akan mendapatkan nasib yang sama sangat menjadi resah. Tim apresial mungkin telah secara cermat menilai nilai tanah dan bangunan, terlalu pas, samapai menyesakkan dada segenap masyarakat. Karena yang menjadi konsen kemudian setelah ganti rugi, adalah kemana harus pindah. Modal pindah dan menbangun rumah jauh lebih mahal dari harga ketetapan tim apresial.
    Pengadilan akan menjadi kemungkinan yang muskil untuk dilakukan, karena masyarakat akan diminta membawa tim apresial tandingan. Tidak ada tim apresial lain yang mau melawan apresial pemerintah. Masyarakat sudah pasti kalah dipengadilan.
    Hebat benar UU pembebasan lahan yang baru. Rakyat skak mat, 14 hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here