Home Index Sejarah Kesultanan Banten Dari Masa Ke Masa (Bag. 2)

Sejarah Kesultanan Banten Dari Masa Ke Masa (Bag. 2)

0

Oleh: Tubagus Nurfadhil Azmatkhan Al-Husaini, Pengurus Besar PATRAH Kesultanan Banten dan Rabitah Azmatkhan Al-Husaini.

Masa Raja ke-2 Banten

Maulana Hasanuddin kemudian digantikan oleh putra beliau Maulana Yusuf sebagai penguasa Banten kedua yang memerintah tahun 1570-1580. Hasil Karya beliau antara lain mendirikan pesantren-pesantren untuk syiar Islam di Banten, pada masa pemerintahannya dibangun tembok Keraton Surasowan dan membangun sawah percobaan tandur dan peng-irigasian.

Pemerintahan masa beliau menitikberatkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan, pertanian, dan perluasan wilayah Kesultanan Banten. Dalam upaya perluasan wilayah, daerah pedalaman kerajaan Sunda, termasuk pusat pemerintahannya (Pakuan Pajajaran), berhasil diduduki oleh pasukan Banten yang dibantu Cirebon dengan berhasil dibawanya Batu Penobatan Raja-Raja Sunda ke Banten, yakni Watu Gilang. Para ponggawa yang ditaklukkan lalu diislamkan dan dibiarkan memegang jabatannya semula. Dengan demikian, gangguan keamanan yang dikhawatirkan datang dari Pajajaran sudah berkurang. Maulana Yusuf dapat lebih memusatkan perhatiannya pada pembangunan sektor ekonomi dan pertanian. Proses selanjutnya adalah ditetapkannya batas wilayah kekuasaan antara Banten dengan Cirebon, yaitu Sungai Citarum dari muara sampai ke daerah pedalamannya (Cianjur sekarang).

Masa Raja Banten ke  pedalaman Banten dan menjadikan Sajira yang terletak di Lebak sebagai salah satu pusat pertahanannya.

Untuk menenangkan rakyat Banten, Gubernur Jenderal VOC Jacob Mossel, memerintahkan wakilnya di Banten untuk menangkap Ratu Syarifah Fatimah dan Sultan Syarifuddin yang dianggapnya sebagai sumber kekacauan. Keduanya kemudian diasingkan ke daerah Maluku, Ratu Fatimah ke Saparua dan Sultan Syarifuddin ke Banda.

Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 11

Pada tahun 1752, VOC mengangkat Pangeran Arya Adisantika, adik Sultan Zainul Arifin, menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abulmaali Muhammad Wasi Zainal Alimin. Selain itu, Jacob Mossel pun segera mengembalikan Pangeran Gusti dari tempat pengasingannya dan ditetapkan sebagai putra mahkota. Akan tetapi dengan pengangkatan itu, Sultan Abulmaali harus menandatangani perjanjian dengan VOC yang isinya semakin memperkuat dan mempertegas kekuasaan VOC atas Banten.

Perjanjian itu sangat merugikan Banten sehingga Pangeran Gusti, beberapa pangeran, dan pembesar keraton lainnya menjadi gusar. Rakyat kembali mengadakan hubungan dengan Ki Tapa di Sajira, Lebak. Di bawah kepemimpinan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang kembali mengangkat senjata menentang VOC.

Sementara itu, para pangeran dan pembesar keraton melakukan pengacauan di dalam kota. Dengan susah payah VOC akhirnya dapat melumpuhkan serangan-serangan tersebut. Perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang, mengakibatkan Sultan Abulmaali Muhammad Wasizainul Alamin menyerahkan kekuasaannya kepada Pangeran Gusti. (bersambung Bag. 3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here