Home Berita Tugu Mauk Dalam Catatan Sejarah Pahlawan Otto Iskandar Dinata

Tugu Mauk Dalam Catatan Sejarah Pahlawan Otto Iskandar Dinata

0

Otto Iskandardinata merupakan salah satu pahlawan nasional yang dikenal dengan sebutan Otista. Pahlawan yang gugur di Mauk, Kabupaten Tangerang ini cukup dikenal di kalangan Masyarakat. Bahkan selain namanya terukir dalam catatan sejarah nasional, juga diabadikan di salah satu monumen, di kampung di Perempatan jalan Mauk, Kelurahan Mauk Timur, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Monumen yang berdiri kokoh sebuah Tugu.

Monumen itu lebih dikenal oleh masyarakat Mauk dengan sebutan Tugu Mauk. Tujuan dibangunnya monumen tersebut tidak lain untuk mengenang sejarah kelam gugurnya,
Pahlawan Otto Iskandar Dinata pada tanggal 20 Desember 1945. Tepatnya di Kampung Toasia Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Berdasarkan data yang diperoleh dari salah seorang Pengamat sekaligus Pemerhati Sejarah Mauk.

“Tugu Mauk dibangun pada tahun 1966. Oleh pemerintah daerah Tingkat II Tangerang. Dimana pada waktu itu masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat,” ujar pemerhati sejarah Mauk, Bagio Wijaya, Minggu (10/11/2019).

Bagio mengungkapkan, monumen yang dibangun dengan tinggi sekitar 3 meter itu, sebagai tanda bahwa Kabupaten Tangerang memiliki pejuang yang sekaligus pernah menjabat Menteri Keamanan di Era Presiden Soekarno. Namun Tugu tersebut pernah mengalami perubahan dua kali yakni pada Tahun 1996. Bentuk dan karakteristik semula menyerupai miniatur tugu monas (Monumen Nasional), dan di monumen itu juga di sebutkan Otto Iskandardinata atau Otista, lahir di Desa Bojong Soang, Bandung, Jawa Barat, pada 31 Maret 1897. Kemudian pada tanggal 10 Desember 1945, Otista diculik oleh anggota Laskar Hitam Tangerang.

Bagio Wijaya

Konon, berembus kabar penculikan itu dilatar belakangi fitnah yang menuduh Otista terlalu dekat dengan militer Jepang dan dianggap Mata-mata. Sehingga gagal melakukan pendekatan saat Jepang mengambil alih persenjataan dari tangan para
pemuda Indonesia pasca kemerdekaan.

Kemudian selama 10 hari Otto Iskandardinata dipenjarakan di tempat Penjara Tanah Tinggi dan dipindahkan ke pembuian yang ada di Mauk yang sekarang sudah menjadi Bangunan Sekolah Swasta SMA Paradigma, akhirnya pada tanggal 20 Desember 1945, para anggota Laskar Hitam Tangerang menculik serta membunuh Otista di sebuah pesisir pantai, Kampung Toasia, Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, dan hingga kini, makam atau jasad Otista tidak pernah ditemukan.

“Pembunuhan kepada Otista itu terjadi pada saat ia tengah mempertahankan keutuhan NKRI yang baru saja merdeka,” ucapnya.

Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 Nopember yang kita Peringati setiap Tahunnya, semangat perjuangan Otista tetap menggelora serta rasa nasionalis yang gagah berani juga tercermin pada Julukan yang sering kita kenal dengan nama “JALAK
HARUPAT’, yang artinya Pemberani yang tak pernah Menyerah Tegas Bagio sang Pemerhati Sejarah Mauk.

“Kami bangga dengan adanya Tugu Mauk. Karena dari sinilah semangat perjuangan dan rasa nasionalisme bisa ditularkan kepada para generasi muda,” tutur Bagio Wijaya.(Sam)