Home Index Perang Rusia-Ukraina, Mengapa Rusia Menginvasi Ukraina dan Bagaimana Putin?

Perang Rusia-Ukraina, Mengapa Rusia Menginvasi Ukraina dan Bagaimana Putin?

0

 

Rusia melancarkan invasi berskala besar ke Ukraina, pada 22 Februari 2022. Invasi ini menandai peristiwa penting dalam perang Rusia-Ukraina yang dimulai sejak 2014. Dilansir dari situs wikipedia.org, krisis diawali dengan penumpukan militer Rusia di sekitar perbatasan Ukraina. Pada 21 Februari, Dewan Federasi Rusia yang merupakan Lembaga Majelis Tinggi dari Majelis Federal Rusia, telah mengijinkan Putin untuk menggunakan kekuatan militer di luar perbatasan Rusia. Berbekal itu, Presiden Vladimir Putin, lalu mengumumkan “Operasi Militer Khusus” di Ukraina Timur, dan beberapa menit kemudian, serangan rudal digencarkan di seluruh penjuru Ukraina, termasuk di ibu kota Kiev.

Pada 25 Februari, Rusia berhasil menguasai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl di Ukraina. Hal ini dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Ukraina, Denys Shmyhal. Dulu, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl yang terletak di Uni Soviet di dekat Pripyat di Ukraina, pernah meledak pada 26 April 1986 yang mengakibatkan isotop radioaktif dalam jumlah besar tersebar ke atmosfer di seluruh kawasan Uni Soviet bagian barat dan Eropa.

Invasi Rusia ke Ukraina itu lalu mendapat kecaman internasional yang luas dan beberapa sanksi diberikan pada Rusia yang menyebabkan sebuah krisis finansial. Protes secara global terjadi untuk menentang invasi, sementara protes anti-perang di Rusia disambut dengan penangkapan massal.

Pada 12 Maret 2022, Kota Melitopol, Ukraina, diduduki 0tentara Rusia dan dikabarkan mereka menculik Wali Kota Melitopol, Ivan Fedorov, usai Ivan Fedorov menolak bekerja sama dengan Rusia.

Memasuki hari ke-18 serangan Rusia ke Ukraina, 13 Maret 2022, dari hasil tangkapan layar Instagram/@uafukraine, mengungkapkan bahwa pimpinan militer Rusia, Mayor Jenderal Andrei Sukhovetsky tewas saat agresi militer berlangsung.

Dalam melancarkan serbuan ke Ukraina, Presiden Rusia, Vladimir Putin, disebutkan telah menyetujui perekrutan sukarelawan dari Timur Tengah, khususnya Suriah untuk membantu pasukan Rusia melawan Ukraina demi merebut Kyiv. Proses perekrutan disebut telah berlangsung di berbagai wilayah Suriah.

Menyerbu Ukraina Dari Empat Arah

Pasukan Rusia memasuki Ukraina dari empat arah utama: utara dari Belarus, dan bergerak menuju Kyiv; timur laut dari Rusia, menuju Kharkiv; timur dari Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk; dan selatan, dari wilayah Krimea yang dianeksasi.

Dari dari sisi utara. Dilakukan dengan melakukan penyerangan dari sisi selatan Belarus di sepanjang tepi barat sungai Dnieper, disertai mengepung Kyiv dari arah barat. Hal ini didukung oleh dua poros serangan terpisah dari Rusia di sepanjang tepi timur Dnipro: dari barat di Chernihiv, dan dari timur di Sumy. Poros serangan dari timur tampaknya bermaksud untuk mengepung Kyiv dari arah timur dan timur laut. Disini, Rusia menguasai kota hantu Chernobyl dan Pripyat dimana terletak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.

Dari sisi timur. Di timur laut, pasukan Rusia mencoba merebut Kharkiv dan Sumy, yang keduanya kurang dari 35 kilometer dari perbatasan Rusia. Menurut tentara Ukraina, Pertempuran Konotop gagal dimenangkan pada 25 Februari. Ketiga, sisi selatan, pada 24 Februari, pasukan Rusia mengambil alih Kanal Krimea Utara, yang memungkinkan Krimea mendapatkan pasukan air untuk semenanjung, yang telah diputus sejak 2014.

Pengepungan Mariupol dimulai sembari serangan bergerak ke timur menuju Mariupol, dan menghubungkan sisi selatan dengan daerah separatis Donbas.

Pada 1 Maret, pasukan Rusia mulai bersiap untuk melanjutkan serangan mereka ke Melitopol dan kota-kota lain, memulai Pertempuran Melitopol. Ivan Fedorov, Walikota Melitopol, kemudian menyatakan bahwa Rusia telah menduduki kota tersebut.

Pada 3 Maret, sebuah foto menunjukkan sebuah kapal tempur frigate Hetman Sahaidachny, kapal utama angkatan laut Ukraina, tenggelam sebagian di pelabuhan. Keesokan harinya, Menteri Pertahanan Ukraina mengkonfirmasi bahwa Hetman Sahaidachny telah ditenggelamkan di Mykolaiv untuk mencegah diambil oleh pasukan Rusia.

Mengapa Rusia Menginvasi Ukraina?

Pada 24 Februari, Putin mengumumkan bahwa ia telah memutuskan untuk melakukan “Operasi Militer Khusus” di Ukraina Bagian Timur. Dalam pidatonya, Putin menyatakan tidak ada rencana untuk menduduki wilaya Ukraina dan ia mendukung hak rakyat Ukraina untuk menentukan nasib sendiri.

Sejak Maret hingga April 2021 dan kemudian dari Oktober 2021 hingga Februari 2022, Rusia mengeluarkan tuntutan kepada Amerika Serikat dan NATO, lewat dua rancangan perjanjian yang berisi permintaan yang disebut dengan “jaminan keamanan”. Di dalam rancangan perjanjian tersebut terdapat janji yang mengikat secara hukum bahwa Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO, pengurangan pasukan NATO dan alat tempur yang ditempatkan di Eropa Timur, dan Rusia mengancam untuk melaksanakan aksi militer yang tidak ditentukan jika NATO terus berada di “garis agresif”.

North Atlantic Treaty Organization (NATO) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara, adalah sebuah organisasi aliansi militer antar banyak negara yang terdiri dari dua negara di Amerika Utara, 27 negara Eropa, dan satu negara Eurasia yang bertujuan untuk keamanan bersama yang didirikan pada 1949, sebagai bentuk dukungan terhadap Persetujuan Atlantik Utara yang ditanda tangani di Washington DC, pada 4 April 1949. NATO awalnya bertujuan untuk menekan pengaruh ideologi komunis dari Uni Soviet dan aliansinya yaitu Pakta Warsawa pada era Perang Dingin.

Pasal utama persetujuan tersebut adalah Pasal V, yang berbunyi; “Para anggota setuju bahwa sebuah serangan bersenjata terhadap salah satu atau lebih dari mereka di Eropa maupun di Amerika Utara akan dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota. Selanjutnya mereka setuju bahwa, jika serangan bersenjata seperti itu terjadi, setiap anggota, dalam menggunakan hak untuk mempertahankan diri secara pribadi maupun bersama-sama seperti yang tertuang.”

Presiden Rusia Vladimir Putin mengutuk perluasan NATO pasca-1997 mengingat hal itu adalah ancaman bagi keamanan Rusia dan menuntut Ukraina untuk tidak bergabung dengan NATO.

Pada 14 September 2020, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyetujui Strategi Keamanan Nasional Ukraina yang baru, yang menyediakan pengembangan kemitraan khusus bersama NATO dengan tujuan menjadi anggota NATO. Hal itu ditindaklanjuti dengan menandatangani Dekrit Nomor 117/2021, 24 Maret 2021, yang menyetujui strategi pemukulan mundur (deokupasi) dan integrasi kembali wilayah yang diduduki sementara di Republik Otonomi Krimea dan di Kota Sevastopol.

Pada Juli 2021, Presiden Rusia, Vlademir Putin menerbitkan sebuah esai berjudul “Tentang Kesatuan Sejarah Rusia dan Ukraina”, di mana ia menegaskan kembali pandangannya bahwa Rusia dan Ukraina adalah “satu bangsa”. Sejarawan Amerika, Timothy Snyder menggambarkan ide-ide Putin sebagai imperialisme. Wartawan Britania Raya Edward Lucas menggambarkannya sebagai revisionisme sejarah. Pengamat lain menggambarkan kepemimpinan Rusia memiliki pandangan yang menyimpang tentang Ukraina modern dan sejarahnya
Putin mengekspresikan pandangan iredentisme Rusia dan mempertanyakan hak Ukraina atas kedaulatan.

Sebelum invasi, dalam upaya memiliki sebuah casus belli, Putin menuduh Ukraina melakukan genosida terhadap penutur bahasa Rusia di Ukraina; tuduhan yang secara luas dianggap tidak berdasar.
Dalam pidato di televisi menjelang subuh pada 24 Februari, Putin menyatakan Rusia tak dapat merasakan “aman, berkembang dan eksis” karena apa yang ia sebut ancaman konstan dari Ukraina modern.

Putin mengklaim tujuannya menginvasi Ukraina adalah untuk melindungi orang yang menghadapi tekanan dan genosida serta bertujuan melakukan “demiliterisasi” dan “mematahkan Nazi” di Ukraina.Ia menyebut, tak pernah ada genosida di Ukraina, negara yang dipimpin oleh presiden, seorang Yahudi.

Presiden Putin sering menuduh Ukraina diambil oleh ekstremis, sejak presiden pro-Rusia Viktor Yanukovych, digulingkan pada 2014 setelah protes besar berbulan-bulan. Rusia kemudian membalas dengan menguasai wilayah selatan Ukraina, Krimea dan memicu gerakan pemberontak di wilayah timur. Rusia mendukung separatis yang melawan pasukan Ukraina dalam perang yang menelan 1.400 korban jiwa.

Dalam invasi itu, pasukan Rusia dikerahkan dari arah utara, timur dan selatan dengan Putin mengumumkan peluncuran “operasi militer khusus” di Ukraina. Sedikitnya 200.000 prajurit Rusia diterjunkan dekat perbatasan Ukraina selama beberapa bulan terakhir. Rusia telah lama menolak kedekatan Ukraina dengan institusi-institusi Eropa, NATO dan Uni Eropa.

Putin mengklaim Ukraina adalah boneka Barat dan tidak pernah menjadi sebuah negara yang layak. Dia mendesak Barat memberi jaminan bahwa Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO dan Ukraina menjadi negara netral.

Sebagai bekas negara anggota Uni Soviet, Ukraina punya jalinan sosial dan budaya yang erat dengan Rusia. Bahasa Rusia pun banyak digunakan di Ukraina. Namun, sejak Rusia menginvasi pada 2014 lalu, hubungan kedua negara menjadi renggang.

Sebelumnya, pada pertengahan Januari 2022, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menandaskan, bahwa Rusia tak ingin dan tak akan mengambil tindakan apa pun yang bersifat agresif. Negaranya tidak akan menyerang, menyerobot, menyerang, tanda petik, apa pun di Ukraina.

Dalam pidatonya, 21 Februari, Putin mengatakan bahwa masyarakat Ukraina dihadapkan dengan kebangkitan nasionalisme sayap kanan, yang dengan cepat berkembang menjadi Russophobia (sentimen anti Rusia) dan Neo-Nazisme yang agresif. (Neo-Nazisme adalah ideologi pasca Perang Dunia II yang ingin menghidupkan kembali Nazisme).

Putin menyatakan bahwa Ukraina tidak pernah memiliki tradisi kenegaraan asli dan Uni Soviet telah melakukan kesalahan saat menciptakan hal tersebut. Klaim Putin ditolak oleh komunitas internasional. Secara khusus, klaim Rusia atas genosida yang terjadi di Ukraina ditolak secara luas dan dianggap tidak berdasar. Komisi Eropa juga menolak tuduhan itu sebagai “disinformasi Rusia”. Kedutaan Besar AS di Ukraina menyebut klaim genosida Rusia sebagai kebohongan yang tercela”. Ned Price, juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, mengatakan bahwa Moskow membuat kalim semacam itu sebagai alasan untuk menyerang Ukraina.

Serangan militer Rusia ke Ukraina masih berlangsung hingga saat ini, dan belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Berbagai skenario muncul, diantaranya, perang jangka panjang, perang jangka pendek sampai kejatuhan Presiden Rusia, Vlademir Putin. Menurut Profesor Emeritus Studi Perang di Kings College, London, Profesor Sir Lawrence Freedman, yang menulis minggu ini mengatakan: “Sekarang kemungkinan besar akan ada perubahan rezim di Moskow seperti di Kyiv.”

Dengan perang yang dilakukan Putin, kata dia, ribuan tentara tewas dan muncul sanksi ekonomi yang membuat sipil menderita. Terlebih masyarakat Rusia sendiri banyak yang mendukung Ukraina. Ini dapat membuat Putin kehilangan posisi dan dukungan dari rakyat.

Nantinya, ia menganalisa, ada kemungkinan ancaman revolusi rakyat. Meski menggunakan pasukan keamanan internal Rusia untuk menekan oposisi itu, Putin tetap terdesak karena cukup banyak anggota militer Rusia, elit politik dan ekonomi berbalik melawannya.(MRZ)