Beranda Berita Penggiat Sosial Akui Keberlanjutan Benyamin-Pilar Pimpin Tangsel, Dengan Catatan!

Penggiat Sosial Akui Keberlanjutan Benyamin-Pilar Pimpin Tangsel, Dengan Catatan!

0
Benyamin pilar
Foto: Uten Sutendy

“Jika Bang Ben -Pilar  melanjutkan kepemimpinan di Tangsel dan itu 90 persen akan terjadi”


Jelang Pilkada Tangsel 2024, nama bakal calon Walikota dan Wakil Walikota Kota Tangerang Selatan (Tangsel) petahana Benyamin Pilar masih terbilang di atas puncak di antara nama bakal calon lainnya.

Hingga saat ini, selain nama petahana, belum ada bakal calon yang telah terang benderang deklarasi dan diusung partai politik untuk maju pada perhelatan Pilkada 2024. Kecuali nama Marshel Widianto yang telah mendapat restu Partai Gerindra sebagai bakal calon Wakil Walikota Tangsel.

Minimnya nama bakal calon yang muncul menjelang Pilkada Tangsel ini menandakan kans (peluang) Benyamin-Pilar masih tinggi untuk menang kembali.

Penggiat Sosial dan Budaya Uten Sutendy mengatakan, dalam perhelatan pemilu, peserta yang paling berpeluang dalam kancah politik adalah petahana. Maka, ia menilai, Pilkada 2024 pasangan petahana ini akan dipastikan kembali memimpin Kota Tangsel.

“Jika Bang Ben-Pilar melanjutkan kepemimpinan di Tangsel dan itu 90 persen akan terjadi,” kata Uten melalui pesan Whatsapp, Sabtu (22/6/2024).

Meski begitu, Uten memberikan catatan untuk masa kepemimpinan Ben-pilar bila terpilih pada Pilkada Tangsel 2024.

Hal utama yang menjadi catatanya adalah bagaimana membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di lingkup Pemerintahan Kota Tangsel.

Di mana, setiap SDM baik sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dapat bekerja dengan mengedepankan kualitas.

“Sebuah tim yang bukan hanya bekerja tapi haus prestasi, bukan sekedar bisa menghabiskan APBD, tapi bisa mengembangkan, bukan hanya loyal dan patuh, tapi produktif,” imbuhnya.

Ia menuturkan secara sosiologis pertumbuhan SDM di Kota Tangsel semakin dinamis. Maka itu, perlu adanya peningkatan kinerja pada pemerintah untuk mewujudkan pelayanan yang baik.

Uten pun menyayangkan kebanyakan program kerja OPD yang terealisasi hanya sebatas menggugurkan kewajiban menyerap anggaran tanpa adanya output jangka panjang.

Ia pun menyarankan pemerintah membekali para ASN dengan peningkatan skill (kemampuan) secara berjenjang dan profesional agar dapat lebih memahami dan mengikuti cara cara kerja kaum urban modern di Tangsel.

“Kalau perlu mereka ajak ke beberapa negara maju (Jepang atau Singapura). Biar mereka lihat cara pelayanan publik yang benar, bukan suruh piknik. Tagih hasilnya, ada metode evaluasi yang ketat dan integrated atau cukup beberapa hari tinggal di Banyuwangi, Kulon Progo atau kota-kota yang lebih kreatif,” urai Uten.

“Dan yang paling penting lagi, bagaimana caranya tim SKPD bisa memelihara dan merawat  yang sudah dibangun. Membangun mungkin gampang karena ada APBD, tapi memelihara memang tidak gampang. Memelihara dan mengisi itu perlu keseriusan,” sambungnya.

Penulis buku berjudul ‘Kekuatan Berbicara’ ini juga menyayangkan pengelolaan fasilitas publik yang telah menjadi wisata lokal kurang maksimal pemeliharaannya sehingga menjadi tak terawat.

“Banyak bangunan dan fasilitas publik yang belum maksimal dimanfaatkan. Coba lihat sekarang, siapa yang kelola Taman Kota, Tandon, Galery Tangsel City, ada apa di sana?” ujar Uten.

Ia berharap bila Benyamin-Pilar kembali melanjutkan kepemimpinan sebagai Walikota dan Wakil Walikota Tangsel dapat memanfaatkan infrastruktur menjadi lebih produktif.

Karena menurutnya, Tangsel sebagai kota metropolitan, Tangsel juga memiliki potensi untuk menjadi kota yang kreatif yang dapat menjadi acuan bagi kota-kota lainnya.

“Misalnya, Taman Kota bisa jadi Pasar Seni (ada produk seni warga Tangsel), Tandon bisa jadi Taman Anggrek dan Kupu Kupu, Galery City bisa menjadi jendela dunia Tangsel dan Tangsel Heritage, Jaletreng 2 bisa jadi tempat konser-konser musik, danau kecil di lingkungan Dinas Perpustakaan bisa jadi pusat kreasi literasi, cafe literasi, panggung literasi,” tutur penuh harap.

“Danau atau situ-situ yang ada jadi pusat rekreasi kuliner dan budidaya ikan dan jadi pusat edukasi. Kegiatan budaya dan sosial (lomba mancing dan nangkap ikan tiap ultah Tangsel),” pungkasnya. (Edt)