Aksi balap lari yang digelar kalangan anak muda di jalan raya depan tribun Alun-Alun Pandeglang menuai sorotan warga. Soalnya, lokasi itu merupakan jalur utama kendaraan, termasuk truk pengangkut hasil tambang.
Biasanya, kegiatan serupa digelar di depan Masjid Agung Ar-Rahman Pandeglang selama bulan Ramadan. Namun kali ini, lomba justru digas di badan jalan depan tribun alun-alun. Dua lajur lalu lintas ditutup, arus kendaraan pun dialihkan.
Penutupan jalan makin semrawut lantaran ratusan sepeda motor milik penonton membludak dan memadati sekitar lokasi.
Dampaknya, truk sumbu tiga bermuatan pasir dari Jalupang serta kendaraan besar lainnya terpaksa melintas lewat ruas jalan depan Kantor Bupati, masjid, hingga Gedung DPRD Pandeglang. Warga pun waswas.
“Kalau dibiarkan, jalur yang dilintasi truk sumbu tiga itu bisa amblas. Bebannya berat, tonasenya besar,” ungkap Hendrik Cyber aktivis pemantau pembangunan kepada wartawan, Minggu (1/3/2026) malam.
Sejumlah warga lain menilai jalan alternatif tersebut memang bukan diperuntukkan bagi kendaraan bertonase besar. Bahkan, di beberapa titik mulai terlihat berlubang dan rawan rusak.
Meski begitu, tak sedikit warga yang mengapresiasi kegiatan tersebut. Apandi, warga Pandeglang, menyebut balap lari yang digelar usai salat tarawih hingga menjelang sahur itu sebagai aktivitas positif, asalkan tak mengganggu arus lalu lintas.
“Lebih baik balap lari daripada balap liar motor yang membahayakan dan bikin resah,” katanya.
Sejumlah pihak menyarankan agar lomba dipindahkan ke lintasan lari yang sudah tersedia di kawasan Alun-Alun Pandeglang.
“Alangkah baiknya digelar di lintasan alun-alun yang sudah representatif, supaya tidak mengganggu kamtibmas dan lalu lintas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Pandeglang AKP Surya Muhammad memastikan pihaknya akan meninjau permohonan izin kegiatan tersebut sebelum mengambil keputusan. (Den)

