Home Index Menanti Berkah TGIF

Menanti Berkah TGIF

0

​Oleh: Arif Wahyudi, ME., AK., CA. (Wakil Ketua ICMI Tangerang Selatan)

September ini tepatnya tanggal 20 – 23 ada perhelatan internasional di Tangerang Selatan. Bekerja sama dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), World Technopolis Association (WTA), dan United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Pemkot Tangerang Selatan menggelar Tangerang Selatan Global Innovation Forum (TGIF). Salah satu event dalam acara ini adalah Sidang WTA ke 10 dengan tema “Inovasi untuk Pembangunan Berkelanjutan (Innovation for Sustainable Development). Tujuan yang ingin dicapai TGIF adalah membangun platform internasional dalam inovasi sosial,  budaya dan kewirausahaan berbasis teknologi; mendorong terjadinya transfer teknologi,  pertukaran informasi dan pengetahuan serta kapabilitas inovasi; mengembangkan klaster inovasi dan Science Techno Park (STP) sebagai pusat unggulan daerah; serta memperkuat kerjasama dalam rantai produksi inovasi di antara negara anggota WTA. Tema dan tujuan yang sangat strategis tersebut tentu kita tunggu ketercapaiannya, yang akan memberi berkah bagi kemajuan Kota dan kesejahteraan warganya. 

Pemkot Tangerang Selatan telah serius mempersiapkan diri menyukseskan perhelatan ini. Koridor jalan menuju tempat acara diperbaiki, ditata, dan dihias; koordinasi pengamanan di dalam dan di luar lokasi; baliho, spanduk terpasang di berbagai tempat; dan tentunya alokasi dana dan konsentrasi terbesar ada di lokasi perhelatan. Diantara sumber daya dan dana yang digunakan tentulah berasal dari APBD Kota Tangerang Selatan. Menjadi wajar apabila kemudian masyarakat menunggu berkah atau dampak nyata dari perhelatan ini. Berkah tersebut terkait dampak sebelum, dampak pada saat, dan terutama dampak setelah perhelatan. 

Banyak manfaat akan diperoleh apabila Pemkot Tangerang Selatan membuat laporan pertanggungjawaban khusus acara ini. Apabila dampak penyelenggaraan ini baik dan terinformasikan kepada masyarakat, maka dapat diharapkan dukungan antusias masyarakat pada acara-acara besar Pemkot Tangerang Selatan berikutnya. Sebagai refleksi dukungan antusias masyarakat Tangerang Selatan kurang muncul untuk TGIF. Fenomena ini terpantau dari beberapa group diskusi komunitas. 

Prasyarat Inovasi

Dalam Studium General ICMI Tangerang Selatan, Ilham Habibie menguraikan tentang prasyarat inovasi yang diamatinya di Silicon Valley. Ada 3 T prasyarat inovasi yaitu Teknologi, Talenta, dan Toleransi. 

Teknologi merupakan prasyarat pertama dari inovasi. Adanya Science Techno Park (STP) yaitu Puspiptek Serpong merupakan keunggulan komparatif Tangerang Selatan dibanding kota lain di Indonesia. Di STP bibit teknologi menemukan lahan subur untuk tumbuh berkembang. Dua di antara masalah yang mungkin muncul di sini adalah kolaborasi keuangan Pusat (Puspiptek) dengan keuangan Daerah (Pemkot Tangsel); dan mekanisme keuangan Negara/Daerah yang relatif kaku. Aturan keuangan dalam konteks teknologi inovasi ini sering dikeluhkan menghasilkan tulisan ilmiah yang tidak terimplementasi. Bagaimana Pemkot dan Puspiptek berinovasi membangun mekanisme keuangan yang kondusif untuk inovasi teknologi? Dilema lain yang dihadapi adalah posisi Puspiptek sebagai Objek Vital Nasional dengan standard pengamanannya. STP yang terbuka untuk umum akan didatangi calon-calon Inovator bukan PNS, yang mungkin berlama-lama melakukan riset di lab-lab mereka. Bagaimana memanaje risikonya? 

Terobosan Walikota untuk membangun STP Tangerang Selatan pada tahun 2017 patut diacungi jempol. Alokasi dana 90 M meyakinkan untuk mampu membangun kawasan STP. Dalam masalah membangun gedung, Pemkot Tangerang Selatan cukup berpengalaman. Namun dalam pengisian content STP, kerja sama dengan WTA adalah pilihan logis. Hal ini mengingat pengisian content STP merupakan hal baru bagi jajaran Pemkot Tangerang Selatan. Satu refleksi dalam bangun membangun gedung adalah bangunan Pasar Ikan Segar yang berada di samping Pasar Modern BSD. Bangunan yang menelan dana besar APBD saat ini mangkrak mubadzir. Ekonomi yang diharapkan  berputar dari keberadaannya tidak terwujud. Jangan sampai STP Tangerang Selatan di kemudian hari bernasib seperti Pasar Ikan tersebut. 

Talenta atau bakat merupakan prasyarat inovasi berikutnya. Ide Walikota agar ITI (Institut Teknologi Indonesia) menjadi Institut Negeri patut diapresiasi. Dengan status Negeri, Pemkot Tangsel lebih leluasa untuk bekerja sama termasuk menyalurkan dana APBD. Diharapkan melalui ITI Negeri, Pemkot Tangerang Selatan dapat berperan lebih besar   dalam proses penyiapan calon Inovator. Namun tampaknya realisasi dari usulan ITI Negeri ini masih jauh. Hal ini perlu diantisipasi Pemkot Tangerang Selatan dengan menyiapkan skenario lain untuk penumbuhan talenta ini. Beberapa kota dikenal sebagai Kota Pelajar dengan begitu banyaknya kampus, Kota Santri dengan begitu banyaknya pesantren, Kota Perak dengan begitu banyaknya pengrajin perak, dan bahkan Pare, satu kampung di Kediri dijuluki Kampung Inggris dengan banyaknya fasilitas belajar bahasa Inggris. Tangsel perlu membangun diri menjadi Kota Start Up Company, di mana talenta-talenta inovasi teknologi merasa nyaman untuk hidup dan berkembang di dalamnya. 

Toleransi yang membudaya menjadi prasyarat inovasi ketiga. Ilham menggambarkan bagaimana cairnya pelaku inovasi teknologi di Silicon Valley saling berbincang. Mereka berkompetisi namun juga bekerja sama. Temuan-temuan baru saling melengkapi menjadi temuan-temuan lain yang lebih baru. Ini membuat percepatan yang tinggi dalam inovasi teknologi. Biaya riset and development menjadi lebih murah, sehingga sebuah produk baru tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai Break Event Point (BEP) atau titik impasnya. Keuntungan yang diperoleh para Inovator merupakan insentif perkembangan bisnis inovasi berikutnya. 

Kasus penggerebekan BPOM terhadap pabrik makanan bayi di Tangerang Selatan patut menjadi refleksi toleransi dalam konteks ini. Menurut berita dalam kasus yang memicu petisi on-line ini Pemkot Tangerang Selatan dituding sebagai pangkal masalah karena lamban mengeluarkan izin. Masih menurut berita masalah tersebut selesai dalam satu hari setelah diadvokasi salah satu Anggota DPRD. Sesakti itukah Sang Anggota DPRD, atau sepanik itukah Pemkot Tangerang Selatan karena sorotan publik, ataukah kedua hal tersebut benar?  Kesemua alasan tersebut menunjukkan sistem yang belum baik dan belum berpihak pada inovasi teknologi di Pemkot Tangerang Selatan. 

Kemudahan apa yang akan diberikan Pemkot Tangerang Selatan kepada para Inovator, sehingga mereka dapat secara legal mengkomunikasikan hasil inovasinya kepada para Investor? Salah satunya adalah legalitas usaha, sehingga para Inovator mendapatkan kepastian hukum, tidak diganggu oleh lembaga pengawas, dan tidak dirugikan dalam perjanjian kerja sama dengan para Investor. 

Peran Pemkot Tangerang Selatan

Pernyataan visi RPJMD, penyelenggaraan TGIF, ide besar tentang ITI Negeri, kolaborasi dengan Puspiptek dan Kemenristek Dikti telah memantabkan Tangsel pada jalur cepat inovasi teknologi.  Jalur ini akan dilintasi Kereta Cepat Tangsel yang lokomotifnya Walikota yang inovatif dengan gerbang-gerbangnya berupa kebijakan (Perda/Perwal), alokasi anggaran, penataan organisasi, birokrat yang kompeten, governance yang baik, kolaborasi dengan Perguruan Tinggi dan Industri, serta dukungan yang antusias dari masyarakat. Tingkat toleransi kesalahan Kereta Cepat ini sangat kecil. Persiapan dan disiplin menjadi sangat penting agar Kereta sampai tujuan dengan tepat waktu dan aman. Apabila hal ini dilalaikan, akibatnya tentu sangat dahsyat.  

Ketika kita mampu membangun ekosistem inovasi teknologi yang baik, maka icon Tangerang Selatan sebagai Kota Start Up Company seperti Silicon Valley di Amerika dan Bangalore di India bukanlah mimpi. Namun, satu anti klimaks yang tidak kita harapkan adalah ketika kesemuanya menjadi sekedar judul kegiatan untuk menyerap anggaran. Wallahu’alam. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here