Beranda Berita ​Dr Susaningtyas Kertopati: Waspadai Sel Tidur ISIS

​Dr Susaningtyas Kertopati: Waspadai Sel Tidur ISIS

0

Peristiwa ledakan yang dilakukan terorisme di Kampung Melayu, Jakarta-Timur, beberapa waktu lalu, sangat memprihatinkan semua. Menurut Pengamat Intelijen dan Militer, Dr Susaningtyas Kertopati, memberantas terorisme adalah tanggung jawab semua pihak sebagai warga negara yang cinta tanah air, bukan semata-mata menjadi tanggung jawab lembaga intelijen dan aparat keamanan atau TNI/Polri.

“Embrio terorisme sudah ada ditengah-tengah masyarakat, jadi peran aktif kita semua harus ada terhadap adanya gejala-gejala sosial radikalisme,” ujar Susaningtyas dalam wawancara khusus dengan tangerangonline.id.

Menurut Nuning, begitu sapaan akrabnya, elemen-elemen yang kiranya mudah terpengaruh radikalisme dan sejenisnya haruslah diwaspadai bersama. Hal ini semua membutuhkan peran aktif inter departementalyakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Sosial dan Kementerian Agama harus bekerja secara aktif hingga ke tingkat akar rumput masyarakat.

“Hal itu penting, agar ajaran-ajaran dan ajakan yang bersifat radikal bisa terbendung dan sedapat mungkin diberantas,” tandasnya. 

Nuning mengatakan, apa yang terjadi pada konser musik Ariana Grande yang terjadi ledakan di Inggris, menandakan lembaga intelijen Inggris (M16) juga membutuhkan peran penting dari masyarakat dan kewaspadaan masyarakat dimanapun dan kapanpun terhadap lingkungannya, padahal mereka sudah melakukan deteksi dini.

Di negara kita, kata Nuning, peran serta tokoh masyarakat untuk ikut memerangi terorisme sangat besar. Pola patron client di negara kita ini masih sangat besar untuk suatu hal didengar dan dijalankan.

Badan Intelijen Negara (BIN) yang dimiliki Indonesia sebagai koordinator tentu saja sangat membutuhkan kerjasama yang baik dan simultan dengan seluruh elemen masyarakat, sehingga tidak ada celah bagi mereka yang ingin bermain di air keruh.

Seluruh pihak harus memberikan dukungan positif kepada BIN, TNI/Polri, BNPT, Kementerian Sosial, Kementerian  Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memerangi terorisme. Nuning mengatakan, deradikalisasi juga  harus menggunakan berbagai pendekatan dari soft power yang bersifat pendekatan kultural hingga hard power bila dibutuhkan.

“Jangan lupa, ISIS masuk ke semua negara juga melalui pendekatan budaya, karena itu semua komponen bangsa harus bersatu bersama Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dan membangun masyarakat damai sejahtera secara bersama-sama,” kata Nuning.

Sebenarnya, kata Nuning, yang harus diwaspadai adalah sel tidur ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), embrio mereka sudah ada ditengah masyarakat. “Tinggal digerakkan saja, bila dibutuhkan oleh ISIS,” ungkap Nuning.

Upaya brain washing dalam penyebaran radikalisme begitu mudah dilakukan, karena masuk dalam konteks agama. Adanya Warga Negara Indonesia (WNI) yang masuk ISIS sudah dapat diperkirakan dan diwaspadai agar tidak diberikan ruang terhadap mereka.

“Sel tidur ISIS yang ada ditengah masyarakat tentu lebih mengerikan ketimbang terdeteksinya dua orang (korban bom bunuh diri Kampung Melayu) tersebut,” ucap Nuning. (Mrz)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini