Home Berita Kedung Dalam di Pantura Tangerang Jejak Persinggahan Orang Keraton

Kedung Dalam di Pantura Tangerang Jejak Persinggahan Orang Keraton

0

Desa Kedung Dalam di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, pada zaman dahulu merupakan tempat persinggahan orang-orang bangsawan dari Keraton Cirebon.

Jaenudin (47), warga setempat menceritakan asal usul Kedung Dalam yang dipercaya turun temurun. Desa Kedung Dalam ini mengacu arti kolam dalem (Jero) atau kedung sebaga tempat singgah dalem orang-orang keraton serta “abdi dalem”.

“Jadi Kedung Dalam tempat singgah orang orang keraton,” tuturnya.

Penamaan sebuah desa yang dikelilingi hamparan sawah dan dilintasi oleh anak sungai Cisadane ini bisa dilihat dari penduduknya saat ini yang sebagian besar etnis Jawa di samping etnis Sunda.

“Etnis Jawa sebagian besar tinggal dimulai di kampung kameng, Sukadana, Jemakir kijem, Kiladog, Kidoso dan Lagoa Terumbu. Sedangkan etnis Sunda dimulai dari kampung masjid, Pangid Bendungan 1, Bendungan 2, Kedung Putat, Kinakiun dan Cikiray,” bebernya.

Tersebarnya dua etnis yakni Sunda di wilayah timur dan etnis Jawa di wilayah barat tersebut diyakini berkaitan dengan asal usul Mauk dengan kesultanan Banten.

“Pada saat itu banyak masyarakat Cirebon yang berimigrasi dahulu kala masuk wilayah kerajaan Padjajaran,” terangnya.

Tokoh-tokoh Kedung Dalam yang tersohor di antaranya H. Pikan, Asnawi, dan Kimusa.

Kebudayan masyarakat Kedung Dalam walaupun secara geografis masuk wilayah Kesultanan Banten, tetapi selanjutnya banyak dipengaruhi kebudayaan Betawi seperti ondel-ondel dan Barongsai.

Di desa Kedung Dalam sering menampilkan arak-arakan barongsai, tarompet dan gendang pencak silat. Lenong dan tanjidor pun sering ditampilkan setiap pesta masyarakat.

Sementara kebudayan Padjajaran sendiri yang sering ditampilkan dalam setiap hajatan masyarakat Kedung Dalam yaitu wayang golek, wayang kulit, dan seni tari jaipongan. Namun berjalannya waktu kebudayaan itu tergerus moderinisasi.

Sedangkan mama-nama Kepala Desa Kedung Dalam ialah H.Pikan (1974-1982), M. Djunaedi (1982-1990-1991), M.Syafiudin (1991-1998), Mahmud (1999-2007) dan Jaenudin (2007-2013-2013-2021). (Sam)

itulah sekelumit Cerita Desa kedung Dalam tandasnya;(sam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here