Home Berita Pengamat Soroti Lemahnya Perlindungan Terhadap Anak di Sekolah, Dindik Tangsel Prihatin

Pengamat Soroti Lemahnya Perlindungan Terhadap Anak di Sekolah, Dindik Tangsel Prihatin

0

Kasus perundungan atau bullying yang menimpa Audrey di Pontianak, Kalimantan Barat belum lama ini membuktikan lemahnya perlindungan terhadap anak di lingkungan pendidikan formal.

Pengamat pendidikan, Ina Liem mengungkapkan, alasan siswi membully yang utama biasanya rasa iri, khususnya soal kecantikan.

“Potensi perundungan ini sebenarnya bisa saja terjadi sejak hari pertama siswa masuk sekolah. Harusnya pihak sekolah menyelenggarakan bully prevention workshop untuk siswa maupun orang tuanya,” papar Ina, Kamis (11/4/2019).

Ia menambahkan, untuk mengadakan workshop tersebut, pihak sekolah diharapkan mengundang psikolog yang nantinya akan memberi pembekalan dan pelatihan terhadap guru.

“Kiranya pihak sekolah mengadakan workshop itu sebagai langkah preventif dalam meminimalisir kasus perundungan siswa di sekolah. Terlebih, tugas utama tenaga pendidik bukan hanya sekadar memberikan materi pelajaran di kelas,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadis Dindikbud) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Taryono menaruh rasa prihatinnya atas tindakan perundungan dan penganiayaan yang dialami Audrey. Menurutnya, perundungan yang dilakukan oleh siapapun tentu sangat besar dampaknya.

“Dalam kasus ini, karena pelakunya juga anak ya harus jadi perhatian kita bersama. Jangan sampai kita sebagai orang tua dan guru malah membiarkan si pelakunya. Seyogyanya kita harus menlindungi korban dan pelaku anak di bawah umur, mengingat kedua belah pihak punya masa depan yang cerah,” katanya.

Menyikapi pernyataan Ina Liem, Taryono menegaskan, pihaknya telah mencanangkan sekolah ramah anak yang di dalamnya tidak ada kekerasan terhadap anak, tindakan asusila, pengabaian terhadap pelaku maupun korban perundungan, serta penyalahgunaan narkoba.

“Kami juga sudah membuat program Gerakan Sekolah Bersih dan Menyenangkan (GSBM), bagaimana sekolah itu menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Sekolah menjadi rumah kedua bagi siswa setelah rumahnya sendiri,” paparnya.

Sebagai bukti konkret perwujudan program GSBM, Taryono mengatakan sudah ada beberapa sekolah yang menerapkannya. Ia menyebutkan SMP 20, SDN Buaran 1, SDN Pondok Cabe Udik 3, dan SDN Pondok Kacang Barat 3.

“Contoh konkretnya itu bagaimana guru membangun kekompakan antar siswa di sekolah. Misalnya penerapan piket kebersihan.
Semua siswa akan digilir dalam pembagian piket di setiap sudut sekolah. Tidak hanya terpaku pada satu kelas saja. Jadi, yang perlu dibangun itu adalah kekompakannya, sehingga sisi psikologis siswa akan terbentuk secara positif dan kasus perundungan atau bullying tidak akan terjadi,” tukasnya.

Diharapkan, dengan adanya program tersebut, siswa menjadi cerdas dan berkarakter positif, karena perilaku dan karakter positif yang terbangun itu maka siswa akan bahagia dan senang. (vin)