Home Berita Mengintip Aksesoris Kulit Sepeda Kuno Ala Sumadi Seng

Mengintip Aksesoris Kulit Sepeda Kuno Ala Sumadi Seng

0

Kerajinan tangan berbahan kulit sapi atau kambing yang dihasilkan para perajin Kabupaten Magetan, Jawa Timur kian menjamur. Umumnya mereka membuat sepatu, sandal, tas hingga jaket kulit.

Namun untuk aksesoris sepeda kuno atau sepeda onthel yang berbahan kulit sejauh ini hanya dihasilkan oleh Sumadi Seng.

Pria 72 tahun ini adalah perajin asal Candirejo Magetan.
Dibantu dengan 12 karyawan, setiap hari Sumadi Seng membuat berbagai jenis aksesoris sepeda, seperti sadel, tas samping, penutup roda hingga tas setir. Semuanya berbahan kulit.

Usaha aksesoris kerajinan kulit ini ditekuni Sumadi sejak tahun 1970. Saat itu, dirinya hanya memproduksi sadel. Tujuh tahun belakangan dia mulai merambah ke pembuatan akseoris sepeda kuno lainnya.

Menariknya, semua kerajinan kulit karya Sumadi Seng di produksi secara tradisional. Tidak ada alat-alat super modern. Bahkan tempat produksinya, dari dulu tetap begitu-begitu saja dan tidak banyak berubah.

Sumadi memanfaatkan bagian rumah seluas 4×12 meter yang dia peroleh dari warisan keluarganya untuk terus berkarya.

Atap seng yang panas, dan peralatan sekadarnya tak menyurutkan niatnya untuk terus menghasilkan kerajinan kulit yang menjadi ciri khas karya keluarganya.

Barangkali, karena bertahan di tempat produksi yang panas di bawah seng itulah dirinya dipanggil Sumadi Seng.

“Pernah ada bantuan dari pemerintah, Alhamdulillah. Tapi ya kalau bisa diberikan tempat khusus untuk produksi saya, biar leluasa nambah tenaga kerja dan bisa mengurangi pengangguran, terutama anak putus sekolah di Magetan,” tuturnya kepada sejumlah wartawan, Minggu (18/8/2019).

Keterbatasan dan kekurangan tersebut tidak lantas memupuskan semangatnya. Sumadi tetap eksis menghasilkan kerajinan-kerajinan kulit untuk aksesoris sepeda onthel.

Usahanya tidak pernah sepi, pesanan barang selalu berdatangan dari berbagai daerah baik dari pembeli langsung atau toko-toko penyedia aksesoris sepeda kuno dari wilayah Madiun, Tulungagung, Surabaya. Bahkan hingga ke Aceh, Kalimantan dan kota besar yang lainya.

“Untuk sadel dalam 5 hari itu ada 10 kodi yang bisa saya produksi. Sedangkan aksesoris lain seperti tas samping bisa samapi 10 biji per hari,” jelas Sumadi.

Untuk harga satuannya beraneka ragam tergantung aksesorisnya, mulai dari termurah dijual Rp 15 ribu hingga Rp 275 ribu.

Sebenarnya Sumadi ingin melebarkan sayapnya lagi. Memasarkan produknya hingga ke manca negara misalnya. Namun lagi-lagi, dia harus berhadapan dengan berbagai kendala yang ada di depannya.

“Rencana pengin ekspor, tapi modalnya belum terpenuhi,” tutup Sumadi Seng. (Rmt)