Home Bandara AP II Akan Evaluasi Kekurangan Kesiapan Penanangan Terorisme di Bandara Soetta

AP II Akan Evaluasi Kekurangan Kesiapan Penanangan Terorisme di Bandara Soetta

0

Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) merupakan bandara terbesar dan tersibuk di Indonesia. Kurang lebih 1.200 pesawat take-off dan landing di Bandara tersebut.

Oleh karenanya, PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Soetta terus meningkatkan pengamanan di obyek vital nasional tersebut. Salah satunya mengantisipasi tindakan teroris yang dapat membuat kepanikan dan mengacaukan penerbangan.

Simulasi atau latihan gabungan dalam penanganan tindakan terisme pun dilakukan. Dalam hal ini, PT Angkasa Pura bekerjasama dengan Sat Bravo 90 Paskhas dan Kepolisian.

Plt. Executive General Manager Bandara Soetta, Jaya Tahoma Sirait mengatakan, pihaknya menggelar latihan bersama untuk mengetahui sejauh mana kesigapan petugas apabila terjadi tindakan terorisme di Bandara Soetta.

“Kita latihan bersama dengan Dansat Bravo 90 Paskhas tentu latihan ini menjadi penting karena Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta ini setiap harinya setidaknya didarati 1000-1200 penerbangan sehari dan jumlah penumpang sampai 160 ribu lebih setiap hari,” kata Jaya di Terminal 1A Bandara Soetta, Tangerang, Jumat (23/8/2019).

Menurut Jaya, latihan gabungan tersebut sangat penting untuk menguji kesigapan dan koordinasi petugas ketika terjadi gangguan keamanan seperti tindakan terorisme.

“Ini penting, manakala ada terjadi tindakan melawan hukum, misalnya tindakan teroris tentu dengan latihan bersama ini, kami para petugas di bandara harus sigap juga berkoordinasi dan berkomunikasi dengan aparat keamanan TNI/Polri,” ujar Jaya.

“Dengan latihan ini jalur komunikasi dan koordinasi akan terbina dan kalau ada sesuatu yang kurang akan dievaluasi,” tambahnya.

Sementara, Komandan Korps Pasukan Khas TNI AU, Marsekal Muda TNI Eris Widodo mengatakan, Bandara Soetta merupakan obvit strategis yang keamanannya harus diperhatikan. Latihan gabungan digelar untuk mengantisipasi adanya gangguan keamanan dikemudian hari.

“Bandara ini fasilitas umum yang sangat strategis sehingga di sini tempat bagi kami melatih suatu saat menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Jenderal bintang dua ini.

Persiapan latihan gabungan petugas Bandara Soetta dan Sat Bravo 90 Paskhas ini pun cukup matang.

“Kita menskenariokan latihan ini kurang lebih satu bulan setelah itu kita bermain di masing-masing untuk membuat skenarionya dan di tahap akhir satu minggu kita koordinasi pada saat hari ini kita aplikasi di lapangan,” tutur Eris.

“Seperti kita lihat tadi bisa dihitung waktunya
kebetulan ini skenario yang paling kita anggap bisa kita tangani. Padahal kalau dilihat sehari-hari masih banyak lagi bentuk-bentuk yang di luar pemikiran yang harus kita pikirkan bersama bagaimana menanganinya,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak enam orang pelaku teroris melakukan penyanderaan kepada petugas Aviation Security (Avsec) dan penumpang serta melakukan pembajakan terhadap pesawat yang akan menuju ke Filipina dengan nomor penerbangan RP-R0001 milik maskapai Jet Air.

Mereka melakukan aksi tersebut untuk menggagalkan pelantikan Kepala Negara atau mengganggu jalannya pelantikan Presiden Republik Indonesia.

Peristiwa yang terjadi di Terminal 1A Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten pada Jumat (23/08/2019) pagi itu merupakan latihan bersama aparat yang bertugas di bandara tersebut dalam mengantisipasi peristiwa pembajakan pesawat (hijack). (Rmt)