Pita Girang Jadi Andalan Puskesmas Pondok Jagung, Pijat Akupresur Bantu Balita Gizi Kurang Naik Berat Badan

By
6 Min Read

Upaya menekan angka balita gizi kurang di Kota Tangerang Selatan terus dilakukan dengan berbagai inovasi. Salah satunya melalui program Pita Girang (Pijat Balita Gizi Kurang) yang dikembangkan Puskesmas Pondok Jagung.

Program ini menggabungkan pelayanan gizi dengan pelayanan kesehatan tradisional berupa pijat akupresur untuk membantu meningkatkan nafsu makan dan kualitas tidur balita.

Inovasi tersebut menjadi salah satu program unggulan pelayanan kesehatan tradisional yang kini mendapat dukungan penuh dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan.

Program ini juga menjadi bukti bahwa pendekatan kesehatan konvensional dapat dipadukan dengan terapi tradisional yang telah melalui standar pelayanan.

Kepala Puskesmas Pondok Jagung, dr. Ratu Wulandari mengatakan, Pita Girang merupakan kolaborasi antara program gizi dan Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad) yang secara khusus menyasar balita dengan status gizi kurang.

“Pelayanan yang ada di Puskesmas Pondok Jagung ini namanya pelayanan Pita Girang atau Pijat Balita Gizi Kurang. Ini adalah kolaborasi antara program gizi dan program Yankestrad (Pelayanan Kesehatan Tradisional),” katanya.

Menurutnya, balita yang menjadi sasaran akan mendapatkan terapi pijat akupresur pada titik-titik tertentu dengan harapan mampu meningkatkan nafsu makan sekaligus membuat waktu tidur anak menjadi lebih berkualitas.

“Harapannya setelah dilakukan pijatan akupresur ini balita atau bayi-bayinya ini bisa ada peningkatan nafsu makan dan tidurnya juga menjadi nyenyak. Jadi harapannya dengan peningkatan nafsu makan itu, maka berat badannya juga menjadi meningkat dan tidak menjadi balita gizi kurang lagi,” ujarnya.

Pelayanan Pita Girang tersedia melalui dua metode, yakni pelayanan di dalam gedung Puskesmas maupun pelayanan luar gedung melalui kunjungan rumah (home care).

Untuk pelayanan di Puskesmas, terapi dilaksanakan di Poli Sore setiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, dengan sistem penjadwalan sesuai kebutuhan pasien.

Sementara bagi keluarga yang mengalami kendala transportasi atau tidak dapat datang ke Puskesmas sesuai jadwal, petugas akan mendatangi rumah pasien agar terapi tetap dapat diberikan.

“Kalau misalnya memang ada hambatan seperti transportasi atau waktu yang tidak sesuai dengan poli yang kami buka, maka kami melakukan kunjungan rumah atau home care. Jadi pemijatan bisa dilakukan di rumah pasien tersebut,” jelasnya.

Ratu menjelaskan, mekanisme pelayanan diawali dengan pendataan balita gizi kurang oleh Pembina Wilayah. Setelah dilakukan verifikasi dan pemeriksaan kondisi oleh ahli gizi dan dokter, penanggung jawab program Yankestrad akan menyusun jadwal terapi sesuai kebutuhan masing-masing pasien.

Ia mengungkapkan antusiasme masyarakat terhadap program ini terus meningkat. Sosialisasi yang dilakukan melalui pertemuan warga, leaflet, hingga media sosial membuat semakin banyak orang tua mengetahui manfaat pelayanan tersebut.

“Semua orang tua dari balita-balita gizi kurang ini sangat antusias mengikuti pelayanan kami ini. Terlihat dari kedatangan mereka pada saat mengikuti penjadwalan,” katanya.

Dalam satu minggu, terapi akupresur dijadwalkan minimal dua kali. Tingginya kepatuhan orang tua mengikuti jadwal terapi dinilai turut mendukung keberhasilan program dalam membantu memperbaiki status gizi balita.

Meski diprioritaskan bagi balita gizi kurang, layanan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai langkah pencegahan bagi anak yang mengalami kenaikan berat badan yang lambat agar tidak berkembang menjadi kasus gizi kurang.

Keberhasilan inovasi Pita Girang juga telah mendapat pengakuan di tingkat nasional. Puskesmas Pondok Jagung berhasil meraih penghargaan Jambore Puskesmas Nasional 2024 dengan predikat Peringkat Utama pada kategori Lomba Inovasi Nasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan program Pita Girang merupakan bagian dari prioritas Dinas Kesehatan dalam memperkuat pelayanan kesehatan tradisional yang terintegrasi dengan pelayanan medis.

“Jadi program ini adalah merupakan program prioritas di bidang kesehatan saat ini, karena memang saat ini kita sedang mengangkat pelayanan kesehatan tradisional, yang merupakan inovasi, ya, inovasi di setiap Puskesmas,” katanya.

Menurut Allin, inovasi yang dikembangkan Puskesmas Pondok Jagung lahir dari kebutuhan di lapangan untuk membantu mengatasi persoalan balita gizi kurang melalui pendekatan yang aman, nyaman, dan telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Di Pondok Jagung ini mengangkat terkait Pitagirang (Pijat Untuk Bayi Balita Gizi Kurang). Karena tadi melihat permasalahan yang ada di lapangan, akhirnya Pondok Jagung berinisiatif dan melakukan inovasi untuk melakukan pijat dan tentunya tadi sudah ada testimoni dari keluarga pasien yang menyatakan bahwa ternyata pijat ini sangat bermanfaat, sudah dirasakan manfaatnya,” ujarnya.

Saat ini Dinas Kesehatan Tangsel terus memperkuat kualitas sumber daya manusia di bidang pelayanan kesehatan tradisional. Dari target 25 petugas yang akan disertifikasi, sebanyak lima orang telah mengantongi sertifikasi kompetensi.

Allin menargetkan sedikitnya 50 persen balita gizi kurang di setiap wilayah kerja Puskesmas dapat mengikuti program Pita Girang sebagai bagian dari intervensi peningkatan status gizi anak.

“Program ini adalah program kesehatan tradisional yang memang saat ini kita coba gabungkan dengan pelayanan kesehatan konvensional. Jadi jangan ragu kepada masyarakat yang memang membutuhkan jasa pijat ini, karena ini adalah program pemerintah, yang tentunya adalah jasa dari pemijatnya pun sudah tersertifikasi. Jadi silakan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya,” tutupnya.

Share This Article