Beranda Berita Pengamat: Antisipasi Lethal Unmanned System Dari Negara Pengguna, TNI Dapat Undang Ahli...

Pengamat: Antisipasi Lethal Unmanned System Dari Negara Pengguna, TNI Dapat Undang Ahli Hukum Perang Internasional

0

Pengamat Militer dan Intelijen, Dr Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati M.Si, mengatakan, tantangan pertahanan saat ini adalah penggunaan teknologi unmanned system di udara, darat, di laut dan di bawah laut. Doktrin dan strategi pertahanan akan berubah total sejalan dengan meningkatnya penggunaan unmanned system di satuan-satuan tempur.

Sisi positifnya adalah efisiensi biaya operasional dan minimalnya jatuh korban prajurit. Tapi sisi negatifnya juga cukup banyak, seperti hilangnya pertimbangan rasional pada pengambilan keputusan taktis di lapangan, tidak terkendalinya colateral damage, dan munculnya berbagai unintended consequences.

“Dengan berbagai teknologi canggih serta perubahan doktrin dan strategi dihadapkan dengan menipisnya sumber daya alam di dunia, maka justru perang frontal semakin membesar probabilitasnya. Kerjasama pertahanan dan kerjasama keamanan akan semakin mengemuka untuk membatasi penggunaan Lethal Unmanned System (LUM) oleh negara pengguna. TNI dapat berinisiatif mengundang para ahli hukum perang dari berbagai dunia untuk merumuskan hukum internasional yang baru khusus mengatur penggunaan LUM,” terang Pengamat Militer dan Intelijen, Dr Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati M.Si dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (30/03/19).

Ia mengatakan, jenis-jenis perang yang mungkin tidak disadari masyarakat adalah perang budaya (culture war). Dengan menyebarnya berbagai teknologi canggih ke seluruh dunia, maka timbul budaya-budaya baru akibat kemajuan teknologi. Nilai-nilai kemanusiaan dan interaksi sosial semakin tergerus.

Contohnya, kata Nuning, saat ini budaya menggunakan smart handphone mengalahkan kebutuhan manusia bersosialisasi. Dalam suatu meja rapat, ketika menunggu rapat dimulai, maka semua peserta rapat sibuk menggunakan handphone ketimbang berdiskusi dengan rekan kerja yang duduk bersama di meja tersebut. Kita semua menjadi terasing di dunia kita sendiri ketika pengaruh teknologi merubah mentalitas manusia.

Masyarakat sipil harus disiapkan mengantisipasi gejolak gangguan keamanan melalui penjabaran Sistem Pertahanan Semesta sesuai dengan nilai-nilai kejuangan 45. Masyarakat saat ini harus disadarkan siapa saja musuh bersama yang muncul.

Terorisme dan bahaya laten komunis merupakan musuh bersama karena bertentangan dengan ideologi Pancasila. Oleh karenanya penting semua sekolah mempraktekkan nilai-nilai Pancasila dalam interaksi sosial sehari-hari. Para guru dan dosen harus menjadi contoh patriot sejati.

“Jangan sampai ada guru atau dosen yang radikal dan bahkan menyebarkan nilai-nilai ekstrim yang bertentangan dengan Pancasila. Masyarakat harus bisa secara mandiri mendeteksi benih-benih perpecahan sesual dengan tujuan mewujudkan Ketahanan Nasional,” tandasnya.

Ia menuturkan, masyarakat harus bisa mendeteksi dan mencegah tawuran antarpemuda. Masyarakat harus bisa mengatasi maraknya kejahatan jalanan, seperti begal.

“Para guru dan dosen harus bisa mendeteksi dan mencegah tawuran antarpelajar atau antar mahasiswa.Masyarakat adalah tulang punggung sistem pertahanan semesta. Peran masyarakat tersebut sama pentingnya ketika dulu perjuangan merebut kemerdekaan, ” demikian dikatakan Dr Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati M.Si.(MRZ)