Home Bandara Airnav Imbau Peserta Festival Balon Udara Agar Taat Regulasi

Airnav Imbau Peserta Festival Balon Udara Agar Taat Regulasi

0

AirNav Indonesia mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan kopi darat/ sambung seduluran oleh Komunitas Sedulur Balon kota Pekalongan yang dikemas dalam kegiatan Balloon Atraction Pekalongan 2022.

Dalam giat ini, AirNav menghimbau dan terus mengawal agar setiap balon diterbangkan dengan cara ditambatkan sesuai dengan regulasi sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan RI nomor PM 40 tahun 2018 tentang Penggunaan Balon Udara Pada Kegiatan Budaya Masyarakat.

Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav Indonesia, Bambang Rianto mengatakan bahwa AirNav sebagai penyelenggaran pelayanan navigasi penerbangan hadir dalam rangka mendukung dan berpartisipasi menyemarakkan kegiatan festival balon udara tertambat sebagai bagian dari kegiatan masyarakat yang sifatnya positif.

“Disebut kegiatan positif, karena esensi eksplisit dari kegiatan ini merupakan representasi ekspresi semangat kebersamaan, yaitu semangat gotong royong masyarakat untuk menjaga keselamatan masyarakat di Indonesia, khususnya di bidang operasional penerbangan,” ujar Bambang pada Minggu (8/5/2022)

Menurut Bambang, festival balon udara tetap dapat dilestarikan dengan mematuhi regulasi yang ada. Sehingga tidak mengancam keselamatan penerbangan maupun masyarakat lain.

“Menerbangkan balon secara ditambatkan memiliki pengaruh besar terhadap keselamatan penerbangan. Dengan menerapkan regulasi ini, tradisi masyarakat dapat tetap dilestarikan tanpa harus mengancam keselamatan masyarakat yang lain,” imbau Bambang.

Dalam rangkaian kegiatan yang diikuti oleh 32 kelompok peserta dan dihadiri oleh tidak kurang dari 20 ribu penonton yang berasal dari dalam dan luar kota Pekalongan ini, terdapat agenda penandatanganan kesepakatan bersama dengan tema ‘Tidak Akan Melepaskan Balon Secara Liar’ oleh seluruh peserta.

Hal ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat di daerah lain, bahwa sesuai dengan PM 40 tahun 2018, menerbangkan Balon Udara secara liar pada tradisi perayaan Lebaran maupun Syawalan bisa membahayakan keselamatan penerbangan.

“Oleh karenanya, kita ikat komitmen teman-teman di sini untuk dapat konsisten dalam hal kepatuhannya pada regulasi. Hal ini juga menjadi komitmen AirNav sebagai bagian dari ekosistem stakeholder penerbangan bahwa kami tidak melarang atau bahkan anti dengan tradisi menerbangkan balon ini, namun semua harus sesuai dengan aturan, sehingga semua senang,” tambah Bambang.

Lebih lanjut Bambang memaparkan, bahwa selama periode Syawalan tahun 2022 berlangsung sejak tanggal 2 Mei hingga 7 Mei kemarin, AirNav Indonesia mendapatkan sedikitnya 23 Pilot Report (PIREP/ laporan oleh Pilot) atas adanya balon udara liar yang terbang bebas di sejumlah titik ruang udara yang didominasi di atas pulau Jawa, dengan ketinggian berkisar antara 7,000 – 35,000 kaki di atas permukaan air laut.

Laporan tersebut didapatkan dari 5 Cabang AirNav, di antaranya Cabang Makassar Air Traffic Service Center (MATSC – 5 laporan), Cabang Semarang (3 laporan), Cabang Solo (1 laporan), Cabang Yogyakarta (7 laporan), dan Denpasar (1 laporan).

“Hal ini memiliki potensi bahaya, tidak hanya bagi operasional penerbangan yang memiliki hak penggunaan ruang udara, namun juga bagi masyarakat sekitar yang nantinya dapat menjadi tempat mendaratnya balon udara tersebut,” tutur Bambang.

Bagi penerbangan sendiri, potensi bahaya terburuk dari balon udara liar adalah terjadinya tabrakan antara balon tersebut dengan pesawat di udara. Hal tersebut bukan tidak mungkin terjadi, karena pergerakan balon udara liar tidak dapat diprediksi, terutama dalam kondisi cuaca yang tidak cerah.

“Balon udara yang bertemu fisik dengan pesawat terbang dapat mengakibatkan terjadinya sejumlah hal, di antaranya menutupi kaca kokpit pesawat sehingga mengganggu pandangan Pilot, masuk ke dalam mesin pesawat sehingga menyebabkan gangguan mesin, hingga tersangkut pada instrument pesawat yang digunakan Pilot untuk mendapatkan sejumlah informasi performa pesawat, seperti kecepatan, ketinggian, dan arah terbang,” papar Bambang.

“Kami harap kegiatan semacam ini tidak hanya dapat menyalurkan antusiasme masyarakat dalam menerbangkan balon udara tradisional, namun juga dapat menjadi daya tarik pariwisata daerah yang akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Kami hanya himbau satu hal : selalu patuhi aturannya, sehingga budaya masyarakat lestari, keselamatan penerbangan terlindungi,” tandasnya. (Rmt)